banner 728x250

Apa Itu Kolecistitis ? Kenali Penyebab dan Pengobatannya

Foto : Kolecistitis/Net

Kandung empedu merupakan sebuah kantong berbentuk buah pir yang terletak pada permukaan viseral. Kandung empedu diliputi oleh peritoneum kecuali bagian yang melekat pada hepar, terletak pada permukaan bawah hati di antara lobus dekstra dan lobus quadrates hati.

Apa itu kolecistitis ?

Kolecistitis adalah terdapatnya batu dalam kandung empedu atau saluran empedu. Kolecistitis adalah inflamasi akut atau kronis dari kandung empedu, biasanya berhubungan dengan batu kandung empedu yang tersangkut pada duktus kristik dan menyebabkan distensi kandung empedu.pada umumnya komposisi utamanya adalah kolesterol.

Penyebab  kolecistitis

Kolesistitis terjadi ketika kantung empedu meradang. Peradangan kandung empedu dapat disebabkan oleh:

  1. Batu empedu. Paling sering, kolesistitis adalah hasil dari partikel keras yang berkembang di kantung empedu (batu empedu). Batu empedu dapat menyumbat saluran (duktus sistikus) yang melaluinya empedu mengalir ketika meninggalkan kantung empedu. Empedu menumpuk, menyebabkan peradangan.
  2. Tumor. Tumor dapat mencegah empedu mengalir keluar dari kantung empedu dengan benar, menyebabkan penumpukan empedu yang dapat menyebabkan kolesistitis.
  3. Penyumbatan saluran empedu. Kerutan atau jaringan parut pada saluran empedu dapat menyebabkan penyumbatan yang menyebabkan kolesistitis.
  4. AIDS dan infeksi virus tertentu dapat memicu peradangan kandung empedu.
  5. Masalah pembuluh darah. Penyakit yang sangat parah dapat merusak pembuluh darah dan menurunkan aliran darah ke kantung empedu, yang menyebabkan kolesistitis.

Baca Juga : Cara Menghitung Dosis Obat yang Harus diketahui

Gejala yang muncul dari radang kandung empedu dapat bersifat akut atau kronis. Berikut adalah penjelasan dari perbedaan keduanya:

1. Kolesistitis Akut

Kolesistitis akut datang tiba-tiba dan menyebabkan rasa sakit yang parah dan berkelanjutan. Lebih dari 95 persen pengidap kolesistitis akut memiliki batu empedu. Nyeri dimulai di perut kanan tengah hingga atas dan dapat menyebar ke tulang belikat kanan atau punggung. Nyeri paling kuat 15 sampai 20 menit setelah makan dan terus berlanjut. Nyeri yang tetap parah dianggap sebagai keadaan darurat medis.ada juga beberapa gejala kolesistitis lainnya yang dapat terjadi, seperti:

2. Kolesistitis Kronik

  • Perut terasa lunak saat disentuh.
  • Mual dan kembung.
  • Muntah.
  • Demam di atas 100,4 F (38 C). Demam mungkin tidak ada pada orang dewasa yang lebih tua dan biasanya tidak terjadi pada orang dengan kolesistitis kronis.
  • Sakit pada perut yang semakin parah saat menarik napas dalam-dalam.
  • Sakit perut dan kram setelah makan – terutama makanan berlemak.
  • Penyakit kuning (kulit dan mata menguning).

Faktor Resiko

Terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko radang kandung empedu, yaitu:

  • Memiliki riwayat keluarga dengan batu empedu.
  • Berjenis kelamin wanita berusia 50 tahun atau lebih.
  • Kerap mengonsumsi makanan yang tinggi lemak dan kolesterol.
  • Wanita yang sudah berusia 60 tahun atau lebih (lansia).
  • Mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.
  • Mengidap diabetes.
  • Sedang hamil atau pernah beberapa kali hamil.
  • Wanita yang sedang mengambil terapi penggantian estrogen atau pil KB.
  • Telah mengalami penurunan berat badan dengan cepat.

Baca Juga : Apa Itu GERD ? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

Patofisiologi

Batu pigmen terdiri dari garam kalsium dan salah satu dari keempat anion ini terdiri dari Bilirubinat, Karbonat, Foosfat dan Asam lemak. Pigmen (Bilirubin) dalam kondisi normal akan terkonjugasi dalam empedu. Bilirubin terkonjugasi karena adanya enzim glokuronil tranferase bila bilirubin tak terkonjugasi diakibatkan karena korang atau tidak adanya enzim glokuronil tranferase tersebut yang akan menyebabkan presipitasi atau pengendapan dari bilirubin tersebut. Ini disebabkan karena bilirubin tak terkonjugasi tidak larut dalam air tetapi larut dalam lemak. Sehingga lama kelamaan terjadi pengendapan bilirubin tak terkonjugasi yang bisa menyebabkan batu empedu tapi ini jarang terjadi.

Pemeriksaan Diagnostik

a. Pemeriksaan darah. Dokter mungkin akan melakukan tes darah untuk mencari tanda-tanda infeksi atau tanda-tanda masalah kandung empedu.

b.Tes pencitraan. Tes pencitraan seperti ultrasonografi perut, ultrasonografi endoskopi, atau pemindaian tomografi terkomputerisasi (CT) dapat digunakan untuk membuat gambar kandung empedu. Hal ini bertujuan untuk mendeteksi tanda-tanda kolesistitis atau batu di saluran empedu dan kantung empedu.

c. Tes pemindaian hepatobiliary iminodiacetic acid (HIDA). Pemindaian ini bertujuan untuk melacak produksi dan aliran empedu dari hati ke usus kecil dan menunjukkan penyumbatan.

Pengobatan

  • Puasa. Kamu mungkin tidak diperbolehkan makan atau minum pada awalnya untuk menghilangkan stres dari kantung empedu yang meradang.
  • Pemberian cairan melalui pembuluh darah di lengan. Perawatan ini dapat membantu mencegah dehidrasi.
  • Penggunaan antibiotik untuk melawan infeksi.
  • Penggunaan obat nyeri untuk membantu mengendalikan rasa sakit sampai peradangan di kantung empedu berkurang.
  • Prosedur untuk menghilangkan batu yang menghalangi saluran empedu atau duktus sistikus. Prosedur ini dikenal dengan istilah retrograde cholangiopancreatography (ERCP).
  • Pemeriksaan radiologi
  • USG, kolesistografi oral, ERC
  • Foto polos abdomen

Pencegahan Kolesistitis

Pencegahan yang paling penting dilakukan adalah perubahan gaya hidup,menurunkan berat badan,dan hindari makanan-makanan yang meningkatkan kolesterol.

  • Hindari turun berat badan secara singkat karena bisa memicu terbentuknya batu empedu .Jumlah yang dianjurkan adalah1—2 pon (0,45–0,9kg) perminggu.
  • Jagalah berat badan yang sehat. Kelebihan berat badan memiliki risiko mengidap batu empedu lebih tinggi dari orang normal.
  • Pilihlah makanan yang sehat.

Sumber Referensi

Amin Huda. N, Hardhi Kusuma. 2015. NANDA NIC-NOC Aplikasi Asuhan
Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis. Jilid 2.
Yogyakarta:
Mediaction.

Brunner, & Suddarth. (2014). Keperawatan Medikal-Bedah (12th ed.; Eka Anisa
Mardela, Ed.).
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Suratun, & Lusianah. 2010.Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem
Gastrointestinal.
Jakarta : Trans Info Media.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *