banner 728x250

Konsep Dasar Ventilasi Mekanik

@Ilustrasi Ventilator Mekanik

1. Pengertian

Ventilasi mekanik di definisikan sebagai alat bantu mekanis untuk membantu otot-otot bernafas dalam proses pernafasan dan membantu meningkatkan pertukaran gas. (Michael J. Apostolakos, 2001)

Ventilasi mekanik adalah alat bantu nafas bertekanan positif atau negatif yang dapat mempertahankan ventilasi dan pemberian oksigen dalam waktu yang lama. (Brunner & Suddarth, 2002)

Penggunaan ventilasi mekanik dibagi dalam dua cara yaitu dengan menggunakan tube/ selang dalam trakea untuk menghantarkan proses ventilasi (invasive) dan dengan menggunakan mask/ sungkup muka secara non invasif.

Ada 2 jenis Ventilasi:

  • Ventilator tekanan negatif (Negatif Pressure Ventilation)
  • Ventilator tekanan positif (Positive Pressure Ventilation)

a. Ventilator Tekanan Negatif

Ventilator tekanan negatif merupakan Ventilator original. Prinsipnya adalah mengeluarkan dan mengganti gas dari Chamber Ventilator. Ventilator ini tidak memerlukan konektor ke jalan nafas (ETT), karena ventilator ini membungkus tubuh. Namun Ventilator jenis ini tidak dipakai lagi karena menimbulkan suara bising dan susah perawatan. Namun Ventilator jenis ini yang fisiologis untuk manusia karena prinsipnya berdasarkan tekanan negatif seperti halnya nafas spontan.

Gambar : Ventilator Tekanan Negatif, membungkus tubuh

b. Ventilator Tekanan Positif (PPV = Positive Pressure Ventilation).

Sejarah PP Ventilator
Mulai digunakan saat epidemi polio tahun 1995 di Denmark. Saat itu di Swedia para mahasiswa kedokteran sempat merasakan melakukan manual baging selama masing-masing 8 jam.

PPV memerlukan jalan nafas buatan (ETT, Trakeostomi), dengan prinsip menggunakan tekanan positif untuk mendorong oksigen ke dalam paru-paru pasien. Inspirasi dapat dimulai oleh waktu atau di trigger oleh pasien sendiri.

Gambar : Alat Ventilator Tekanan Positif

BACA JUGA : Mode Ventilasi Mekanik (Control Mode & Assisted Mode)

2. Tujuan Ventilasi Mekanik

a. Tujuan Fisiologis

  • Memperbaiki Ventilasi Alveoler (PC02 dan PH)
  • Memperbaiki oksigenasi arteri (PO2, Saturasi dan CaO2)
  • Meningkatkan Inflasi paru akhir inspirasi
  • Meningkatkan FRC (Kapasitas residu fungsional)
  • Menurunkan kerja otot-otot pernafasan (Work of Breathing)

b. Tujuan Klinis

  • Koreksi Asidosis respiratorik akut (life threatening acidemia).
  • Koreksi Hipoksemia (Meningkatkan PaO2, Saturasi >90%, atau PaO2 > 60 mmHg.
  • Untuk mencegah hipoksia jaringan
  • Menghilangkan kelelahan otot bantu nafas
  • Untuk fasilitasi akibat pemberian sedasi yang dalam atau pelumpuh otot
  • Menurunkan konsumsi oksigen miocard atau sistemik (ARDS, Syok kardiogenik)
  • Menurunkan tekanan intrakranial (hiperventilasi) pada trauma kepala tertutup.

3. Indikasi Ventilasi Mekanik

Pemberian Ventilasi tekanan positif (PPV) memerlukan suatu alat sebagai konektor/ penghubung antara pasien dengan ventilator, oleh sebab itu, indikasi pemberian Ventilasi Mekanik biasanya diikuti oleh indikasi intubasi endotrakea.

Indikasi Intubasi

a. Kegagalan Oksigenisasi

  • Shunt intrapulmonal
  • V/Q mismatch
  • Penurunan FRC paru

b. Kegagalan Ventilasi

  • Gangguan “Drive” nafas
  • Abnormal dinding dada
  • Kelelahan otot-otot pernafasan

c. Fasilitas diagnostik, pembedahan dan prosedur terapeutik

d. Obstruksi jalan nafas

Jika hanya gangguan pada jalan nafas atau seharusnya tanpa pemberian Ventilasi Mekanik, namun pada kenyataannya pasien biasanya sudah jatuh dalam hipoksemia juga selain karena pemberian pelumpuh otot sehingga tidak menutup kemungkinan untuk pemberian “Short Term Ventilation“.

4. Komplikasi

a. Gangguan Hemodinamik

Secara normal tekanan intra thorak berubah saat inspirasi dan eksperasi secara fluktuasi antara -3 s/d -5 cm H2O saat inspirasi dan saat ekspirasi +3 s/d +5 cm H2O. Penggunaan tekanan positif dapat meningkatan rekanan dalam dada sehingga dapat menahan venous return ke atrium dan terjadi penurunan curah jantung.

b. Barotrauma dan Volutrauma

Barotrauma adalah terjadinya kerusakan pada sistem Pulmonal berhubungan dengan rupture dari pada Alveoler yang disebabkan oleh peningkatan tekanan pada jalan nafas atau overdistensi Pada alveoli. Udara masuk struktur interstitial pulmonal dan terjadi pneumothorak, pneumamediastinim, emphysema subcutis. Volutrauma adalah kerusakan Alveoler karena tekanan tinggi yang disebabkan kelebihan volume Ventilasi pada pasien ARDS (Acut Respiratory Distress Syndrom).

c. Ventilator Associted Pneumonia (VAP)

Komplikasi VAP sering terjadi dan dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas, pencegahannya ditujukan untuk menghindari terjadinya kolonisasi dan aspirasi bakteri ke jalan nafas bagian bawah.

d. Keseimbangan cairan berlebihan dan hiponatremia

Hiponatremia kadang terjadi berhubungan dengan penggunaan Ventilasi Mekanik yang disebabkan penggunaan PEEP, humidifikasi, cairan hipotonis dan diuretik yang meningkatkan antidiuretik hormon.

BACA JUGA : Kenali Mesin Ventilator dan Indikasi Pengguanaannya, Apa Saja?

e. Perdarahan Gastrointestinal

Perdarahan Gastrointestinal disebabkan karena adanya ulcerasi atau gastritis, yang berhubungan dengan ketidakstabilan Hemodinamik.

f. Malfungsi Ventilator

Masalah yg berhubungan dengan tidak berfungsinya Ventilasi Mekanik dengan baik, biasanya disebabkan oleh karena setting alarm yang tidak difungsikan secara optimal.

Sumber : Modul Pelatihan, 2014. Keperawatan Intensif Dasar, Penerbit In Media, Cetakan ke-3, Bogor.

(Dok/DN)    

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *