Mediaperawat.id – Banyak orang bertanya, apa ciri-ciri superflu? Superflu mulai teridentifikasi di Indonesia sejak akhir tahun 2025. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui sistem surveilans sentinel ILI-SARI mencatat terdapat 62 kasus superflu yang tersebar di 8 provinsi dengan kasus tertinggi berada di Jawa Timur, Kalimantan Selatan dan Jawa Barat. Superflu dinilai memiliki gejala lebih berat dari flu biasa dan berpotensi menyebabkan komplikasi serius apabila tidak ditangani dengan tepat.
Superflu dapat menimbulkan masalah pernapasan yang serius, seperti batuk kering berkepanjangan, sesak napas dan nyeri dada. Menurut WHO, superflu dapat berlangsung lebih dari dua minggu dan berpeluang tinggi menjadi pneumonia bakteri sekunder atau peradangan pada organ lain, berbeda dengan flu biasa yang umumnya akan mereda dalam 3-5 hari. Untuk mengetahui penjelasan lebih lengkap mengenai superflu, simak ulasan selengkapnya dalam artikel ini.
Kenali Superflu dan Perbedaannya dengan Flu Biasa
Bukan penyakit baru, superflu merupakan istilah non medis yang sering dikaitkan dengan infeksi virus influenza A H3N2 yang sudah ada sejak lama. Flu biasa cenderung bersifat ringan, sedangkan superflu dapat menyebabkan penurunan kondisi secara cepat, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia dan individu dengan penyakit kronis (seperti penyakit jantung, paru-paru, ginjal atau penyakit metabolik lainnya) serta individu dengan kondisi/perawatan pada penurunan sistem kekebalan tubuh (seperti HIV, menerima kemoterapi atau steroid).
Superflu umumnya merujuk pada koinfeksi virus seperti flurona (infeksi dua virus yaitu influenza dan virus lainnya yang menyerang sistem pernapasan secara bersamaan). Begitu pula dengan varian virus influenza A H3N2 yang memiliki virulensi tinggi akibat antigenic drift yaitu perubahan kecil dan bertahap pada protein permukaan virus karena mutasi genetik alami. Hal tersebut dapat menurunkan efektivitas kekebalan tubuh dan mengakibatkan gejala lebih berat pada sebagian populasi.
Baca Juga : Apa Itu Pulmonary Hypertension?
Superflu juga berhubungan dengan faktor musim dan pasca pandemi COVID-19. Pada musim hujan, virus influenza lebih mudah menyebar karena banyaknya aktivitas yang dilakukan di ruang tertutup. Di sisi lain, selama pandemi COVID-19, pembatasan sosial dan penggunaan masker menurunkan paparan masyarakat terhadap virus influenza sehingga terbentuk kesenjangan imunitas (immunity gap). Saat aktivitas kembali normal, virus influenza beredar dengan sistem kekebalan tubuh masyarakat yang menurun sehingga gejala yang muncul terasa lebih berat dan bertahan lama. Hal tersebut yang menyebabkan adanya peningkatan kasus influenza dalam skala yang lebih besar dibanding flu musiman biasa.
Gejala Superflu
Secara umum, gejala superflu muncul secara tiba-tiba, terasa lebih berat dan berkepanjangan sehingga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Berikut ini beberapa gejala superflu:
- Demam atau merasa demam/menggigil
- Batuk
- Sakit tenggorokan
- Hidung berair atau tersumbat
- Nyeri otot atau nyeri badan
- Sakit kepala
- Kelelahan
- Beberapa orang mungkin mengalami muntah dan diare
Onset Mendadak
Menurut WHO, superflu memiliki ciri khas berupa sudden onset (gejala yang muncul secara mendadak) seperti demam dan batuk yang terjadi saat penyakit mulai berkembang. Gejalanya dapat muncul 1-4 hari secara bersamaan, berbeda dengan flu biasa yang gejalanya muncul bertahap. Penderita biasanya merasa baik-baik saja pada waktu tertentu dan pada waktu yang cepat seperti tiba-tiba mengalami demam tinggi, sakit kepala berat, nyeri otot, dan rasa lemah esktrem yang dapat memburuk dalam beberapa hari berikutnya.
Mengalami Beberapa Gejala Spesifik
Superflu ditandai oleh munculnya gejala secara tiba-tiba dan bersamaan berupa demam tinggi yang menetap sebagai respons tubuh terhadap infeksi virus yang kuat, keletihan ekstrem menandakan ketidakmampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari karena gejala yang berat, nyeri otot dan nyeri sendi yang intens menggambarkan respons peradangan tubuh terhadap infeksi virus yang kuat dan gejala pernapasan akut seperti batuk kering, sakit tenggorokan, sesak dapat berkembang mencapai paru-paru, berpotensi menjadi pneumonia jika infeksi virus tidak segera ditangani.
Ciri Khas Superflu
Superflu memiliki ciri khas pada keparahan dan lamanya gejala yang dirasakan. Tidak seperti flu biasa yang umumnya mereda dalam beberapa hari, gejala superflu berlangsung lebih lama yaitu dapat bertahan selama dua minggu atau lebih dengan keluhan yang berat, seperti demam tinggi berkepanjangan, kelelahan ekstrem, serta gangguan pernapasan. Selain itu, superflu dapat menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia, dehidrasi berat, hingga gangguan fungsi organ lainnya.
Bahaya Superflu bagi Individu dan Masyarakat
Dampak Individu
Superflu menimbulkan dampak kesehatan yang lebih berat bagi seseorang dibandingkan flu biasa. Keparahan gejala, onset mendadak dan durasinya yang lama dapat menyebabkan penurunan kondisi fisik secara signifikan. Jika tidak ditangani dengan tepat, superflu berisiko berkembang menjadi komplikasi serius. Berikut ini beberapa dampak superflu bagi individu yang harus diwaspadai.
- Mengalami gejala yang lebih berat seperti demam tinggi, batuk, sakit tenggorokan, nyeri badan, dan kelelahan. Gejala tersebut dapat berlangsung selama 2 minggu atau lebih.
- Harus beristirahat dan minum banyak cairan.
- Memerlukan perawatan medis pada kasus tertentu termasuk pada orang dengan penyakit kronis yang sudah ada, seperti asma, penyakit jantung, dan diabetes.
- Pada beberapa kasus, dapat menyebabkan pneumonia dan sepsis.
- Memiliki komplikasi lebih tinggi pada kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, dan penderita komorbid.
Dampak Masyarakat
Selain berdampak pada individu, superflu juga memberikan pengaruh lebih luas bagi masyarakat. Kasus yang meningkat secara bersamaan dapat mempercepat penularannya sehingga mengganggu aktivitas sosial masyarakat. Hal tersebut membuat superflu menjadi isu kesehatan masyarakat yang perlu diperhatikan. Berikut ini beberapa dampak superflu bagi masyarakat.
- Peningkatan penularan penyakit secara luas dalam populasi khususnya pada kelompok rentan memicu lebih banyak kasus flu yang perlu penanganan medis.
- Penurunan produktivitas karena gejala yang dialami sehingga tidak dapat melakukan aktivitas seperti biasa dan peningkatan beban ekonomi karena biaya perawatan kesehatan langsung seperti biaya rawat inap atau kunjungan rawat jalan dan biaya tidak langsung karena kehilangan produktivitas.
- Berpotensi memicu kejadian luar biasa (KLB) apabila tidak dilakukan pencegahan dan pengendalian secara optimal.
Berdasarkan penjelasan di atas, superflu harus menjadi perhatian berbagai pihak, khususnya masyarakat agar memiliki pemahaman yang lebih terbuka sehingga dapat menentukan langkah yang tepat. Dengan mengenal gejala dan bahaya superflu, diharapkan angka kejadian kasus dapat ditekan sehingga tidak muncul kasus baru maupun komplikasi serius dari infeksi virus influenza khususnya virus influenza A H3N2. Ikuti dan pantau terus Media Perawat indonesia untuk mendapatkan informasi terkini seputar keperawatan dan kesehatan lainnya.
Referensi
Centers for Disease Control and Prevention. (2024). 2023–2024 Influenza Season Summary: Influenza Severity Assessment, Burden and Burden Prevented. U.S. Department of Health & Human Services.
Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Signs and Symptoms of Flu. U.S. Department of Health & Human Services.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Kemenkes pastikan influenza A(H3N2) subclade K tidak lebih parah, situasi nasional terkendali.
Mayo Clinic. (2025). Flu: Symptoms & causes. Mayo Foundation for Medical Education and Research.
MDPI. (2024). Caregiver Burden among Patients with Influenza or Influenza-like Illness (ILI): A Systematic Literature Review, 12(16), 1591. https://doi.org/10.3390/healthcare12161591
World Health Organization. (2025). Influenza (seasonal).









