banner 728x250

Sejarah Hari Gizi Nasional dan Peran Perawat dalam Promosi Gizi di Masyarakat

Sejarah Hari Gizi Nasional

Mediaperawat.id – Gizi merupakan pilar utama untuk membangun sumber daya manusia yang cerdas dan berkualitas. Tanpa asupan gizi yang seimbang, upaya peningkatan kesehatan tidak akan berjalan secara optimal. Stunting merupakan salah satu masalah yang masih menjadi perhatian khusus di Indonesia. Survei Status Gizi Indonesia tahun 2024 menunjukkan prevalensi stunting sebesar 19,8% dengan komitmen pemerintah menurunkannya menjadi 14,2% pada tahun 2029.

Sebagai bentuk perhatian terhadap masalah gizi, pemerintah Indonesia menetapkan Hari Gizi Nasional pada tanggal 25 Januari. Hal tersebut diharapkan dapat menjadi pengingat perjuangan perbaikan gizi dan menegaskan kembali peran tenaga kesehatan, khususnya perawat dalam promosi kesehatan. Simak ulasan selengkapnya dalam artikel ini.

Sejarah Hari Gizi Nasional

Di Indonesia, upaya perbaikan gizi masyarakat sudah dilakukan sejak tahun 1950 dengan pembentukan tenaga gizi Indonesia. Setelah itu, pada tanggal 25 Januari 1951 didirikan Sekolah Juru Penerang Makanan oleh Lembaga Makanan Rakyat (LMR). Organisasi tersebut dipimpin oleh Prof. Poorwo Soedarmo yang dikenal sebagai Bapak Gizi Indonesia. Pendidikan tenaga gizi terus berkembang di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Sejak saat itulah tanggal 25 Januari disepakati Hari Gizi Nasional (HGN).

Hari Gizi Nasional mulai diperingati pertama kali pada tahun 1960-an oleh LMR dan dilanjutkan oleh Direktorat Gizi Masyarakat (tahun 1970-an). Tema yang diangkatpun berbeda setiap tahunnya menyesuaikan dengan perkembangan yang sedang terjadi. 

Hari Gizi Nasional terus mendorong Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) sampai tercapainya perbaikan prevalensi masalah gizi. Akan tetapi, Indonesia masih menghadapi masalah lainnya seperti obesitas dan penyakit tidak menular. Oleh karena itu, upaya perbaikan gizi harus terus dilakukan dengan dukungan berbagai sektor untuk memberikan intervensi yang sensitif.

Prioritas pembangunan kesehatan selanjutnya berfokus pada upaya promotif dan preventif dengan 4 program utama yaitu percepatan penurunan kematian ibu dan kematian bayi, perbaikan gizi (khususnya stunting), penurunan angka penyakit menular dan penyakit tidak menular. Program tersebut dikemas dalam pendekatan keluarga dan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS).

Baca Juga: Tips Sehat untuk Perawat: Menjaga Stamina dan Kebugaran saat Bekerja Shifting di Bulan Ramadan

Makna Hari Gizi Nasional

Hari Gizi Nasional merupakan momen penting yang diperingati untuk menegaskan kembali rasa empat, serta memperkuat komitmen mewujudkan masyarakat yang sehat. Hal ini dirancang untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya pemenuhan gizi sesuai kebutuhan tubuh. Selain itu, peringatan ini diharap mampu menjadi pengingat dalam melakukan evaluasi terhadap kecukupan gizi, baik masyarakat.

Peringatan hari gizi nasional memiliki arti sebagai momen penegasan terhadap peran perawat. Bukan hanya sebagai pemberi asuhan keperawatan saja tetapi memiliki fungsi sebagai edukator, advokator, dan fasilitator untuk promosi gizi seimbang.. Perawat diharapkan dapat memperkuat komitmen dengan mengevaluasi pelayanan dan meningkatkan kompetensi pemberian edukasi berbasis bukti untuk mewujudkan masyarakat yang sehat.

Berbagai program dilakukan melalui pendekatan keluarga dengan harapan dapat meningkatkan jangkauan keluarga untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang komprehensif. Selain itu, setiap keluarga diharapkan dapat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat untuk mencegah terjadinya masalah kesehatan.

Dengan demikian, peringatan Hari Gizi Nasional menjadi salah satu strategi untuk mengatasi berbagai tantangan kesehatan di Indonesia. Melalui upaya promosi dan preventif, integritas berbagai pihak sangat diperlukan untuk mewujudkan gizi seimbang dan produksi pangan yang  berkelanjutan.

Kontribusi Perawat dalam Upaya Peningkatan Status Gizi Masyarakat

Peningkatan status gizi masyarakat merupakan upaya multisektoral yang memerlukan keterlibatan aktif dari berbagai pihak. Sebagai tenaga profesional, perawat memiliki kontribusi penting karena perannya dalam interaksi langsung dengan masyarakat sangat kuat. Melalui peran edukator, perawat membantu meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pemenuhan gizi yang tepat untuk peningkatan derajat kesehatan. Salah satu bentuk kontribusi utama perawat diwujudkan melalui pelaksanaan pendidikan kesehatan yang terarah dan berkelanjutan.

Peran perawat tidak hanya berfokus pada individu, tetapi juga mencakup keluarga, anak sekolah serta masyarakat agar informasi tersampaikan secara merata. Berikut beberapa bentuk kontribusi perawat yang dapat dilakukan.

1. Perawat sebagai Edukator Gizi

Edukator merupakan salah satu peran perawat untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya gizi seimbang. Informasi yang diberikan seperti kebutuhan gizi berdasarkan tahapan usia, pemilihan bahan makanan dan pola makan yang baik. Media edukasi yang kreatif dan kreatif dapat menciptakan kesadaran, sikap dan perilaku masyarakat dalam melakukan pola hidup sehat.

2.  Promosi dan Pencegahan Masalah Gizi

Promosi kesehatan yang dilakukan perawat bisa melalui program penyuluhan, pemantauan status gizi  dan deteksi dini faktor risiko masalah nutrisi. Hal tersebut menjadi langkah awal untuk mencegah peningkatan angka masalah gizi.

Indonesia memiliki kekayaan sumber daya pangan yang beragam. Perawat dapat berperan sebagai pengingat bahwa pemenuhan gizi yang baik tidak selalu bergantung pada makanan yang mahal. Gizi seimbang dapat diperoleh dari bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar sebagai bentuk menghidupkan kembali budaya pangan lokal.

3. Pendampingan dan Pemberdayaan Masyarakat

Pemberdayaan masyarakat merupakan implementasi dari fungsi perawat sebagai konselor, fasilitator dan advokator. Perawat harus memahami kebutuhan nutrisi agar bisa memberikan memfasilitasi partisipasi masyarakat dalam upaya perbaikan gizi dan mempertahankan perilaku hidup sehat.

4. Kolaborasi Interprofesional dalam Program Gizi

Sebagai perawat, kolaborasi interprofesional sangat diperlukan untuk memberikan intervensi menyeluruh. Perawat menjadi jembatan antara masyarakat dengan tenaga kesehatan lain untuk merencanakan program yang sesuai dengan kebutuhan gizi masyarakat.

Itulah sejarah Hari Gizi Nasional di Indonesia dan peran perawat yang dapat dilakukan untuk meningkatkan status gizi masyarakat. Partisipasi dan kontribusi masyarakat melalui stakeholder menjadi faktor penting keberhasilan promosi kesehatan. 

Di sisi lain, penguatan berbagai dukungan diperlukan. Kebijakan dan manajemen yang terstruktur, sumber daya yang memadai, peningkatan kompetensi perawat, serta keterlibatan aktif masyarakat menjadi faktor keberhasilan utama. Dengan demikian, praktik promosi kesehatan dapat berjalan optimal dan kesejahteraan masyarakat meningkat.

Ikuti dan pantau terus Media Perawat indonesia untuk mendapatkan informasi terkini seputar keperawatan dan kesehatan lainnya.

Referensi

Abdelrahman, M. M., Hashem, R., El-Sayed Abo-Seif, L. M., & Elsehrawy, M. G. (2025). The role of nursing in promoting nutritional awareness: Insights from interactive educational approaches. BMC Nursing, 24, 748. DOI: https://doi.org/10.1186/s12912-025-03245-z

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Ini sejarah Hari Gizi Nasional. Diakses dari https://kemkes.go.id/id/sejarah-hari-gizi-nasional

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). SSGI 2024: Prevalensi stunting nasional turun menjadi 19,8%. Diakses dari https://kemkes.go.id/id/ssgi-2024-prevalensi-stunting-nasional-turun-menjadi-198

Universitas Indonesia. (2025). Kuliah umum FIK UI: Peran perawat dalam memperkuat ketahanan pangan, gizi masyarakat, dan menurunkan angka stunting. Diakses pada 19 Januari 2026 dari https://nursing.ui.ac.id/

Admin: puspamadyaWriter: Puspa Madya NurhudaEditor: Dadan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *