Mediaperawat.id – Dunia keperawatan hari ini sedang berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, kita dituntut untuk semakin mahir dengan teknologi medis, dokumentasi elektronik yang presisi, dan pencapaian indikator mutu rumah sakit yang kaku. Hubungan hangat antara perawat dan pasien, serta dukungan emosional antar sejawat, perlahan tergerus oleh beban kerja yang mekanis.
Pernahkan kamu merasa bahwa menjadi perawat di era modern ini terasa seperti menjadi “robot”? Kita datang, operan, memberikan obat sesuai daftar, mengisi dokumentasi elektronik yang tak kunjung selesai, lalu pulang. Di tengah tuntutan beban kerja yang tinggi, aspek kemanusiaan baik untuk pasien maupun untuk perawat sendiri sering terabaikan.
Fenomena ini memicu pertanyaan besar: Kepemimpinan seperti apa yang kita butuhkan di bangsal-bangsal rumah sakit saat ini? Jawabannya mungkin bukan terletak pada manajemen instruksional yang kaku, melainkan pada apa yang disebut sebagai Person-Centred Leadership (Kepemimpinan yang Berpusat pada Orang).
Penelitian baru dari Cable et al. (2024) tentang program Queen’s Nurse di Skotlandia memberikan setitik harapan. Mereka memperkenalkan konsep Person-Centred Leadership (Kepemimpinan yang berpusat pada orang). Menariknya, kepemimpinan ini bukan hanya milik Kepala Rungan, Manajer Keperawatan atau Komite Keperawatan, tetapi milik setiap perawat yang berani membawa perubahan. Penelitian ini memberikan perspektif baru yang menyentuh bahwa kepemimpinan perawat bukan sekadar soal jabatan struktural, melainkan sebuah perjalanan transformatif yang melibatkan hati dan rasa.
Filosofi di Balik Person-Centredness
Sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu memahami bahwa person-centredness bukan hanya berfokus pada pasien. Konsep ini memandang bahwa setiap individu dalam ekosistem kesehatan baik itu pasien, keluarga, perawat, maupun staf pendukung adalah manusia yang memiliki nilai, martabat, dan keunikan masing-masing.
Kepemimpinan yang berpusat pada orang menuntut seorang pemimpin untuk tidak hanya melihat “daftar tugas” stafnya, tetapi melihat “manusia” di balik seragam perawat tersebut. Penelitian Cable et al. (2024) menemukan bahwa perubahan budaya di unit keperawatan hanya bisa terjadi jika pemimpinnya terlebih dahulu mengalami transformasi pribadi melalui tiga tahap: Knowing, Being, dan Becoming.
Mengenal Konsep Knowing, Being, and Becoming
Penelitian Cable et al. (2024) ini menemukan konsep bahwa transformasi seorang pemimpin perawat terjadi melalui tiga proses mendalam sebagai tahapan perubahan:
1. Knowing (Mengenal Diri)
Banyak perawat menjadi pemimpin (seperti Kepala Ruangan) karena senioritas atau keahlian klinis, namun jarang yang dibekali dengan kemampuan mengenali diri sendiri secara mendalam. Dalam tahap Knowing, seorang pemimpin diajak untuk menggali kembali nilai-nilai (values) yang ia pegang.
Knowing bukan sekadar tahu teori manajemen. Ini adalah tentang memahami siapa saya sebagai manusia? Mengapa saya memilih profesi ini? Apa yang membuat saya peduli? Ketika seorang pemimpin perawat mengenali nilai-nilai kemanusiaan dalam dirinya, ia akan memimpin dengan otentisitas. Ia tidak lagi memimpin hanya dengan kekuasaan posisi, tetapi dengan integritas yang dirasakan oleh stafnya. Pemimpin yang hebat adalah mereka yang “selesai” dengan dirinya sendiri, sehingga mereka bisa memimpin dengan kejujuran (otentik). Pemimpin harus paham nilai-nilai pribadinya sebelum memimpin orang lain.
2. Being (Hadir)
Tahap kedua adalah Being. Ini merujuk pada cara seorang pemimpin “hadir” di tengah timnya. Seringkali, pemimpin hadir secara fisik tetapi pikiran dan hatinya ada pada dokumen atau laporan bulanan. Pemimpin person-centred berlatih untuk memiliki presence (kehadiran).
Ini tentang bagaimana nurse leader “hadir” di ruangan. Apakah stafmu merasa tenang saat kamu datang? Pemimpin person-centred tidak hanya hadir secara fisik, tapi hadir secara emosional untuk mendukung rekan sejawat yang sedang kelelahan. Nurse leader harus bisa “hadir” secara utuh untuk stafnya, bukan hanya datang untuk mengecek tugas.
Kehadiran di sini berarti mampu mendengarkan dengan empati tanpa terburu-buru menghakimi. Saat seorang staf melakukan kesalahan, pemimpin yang person-centred tidak langsung memberikan sanksi administratif, melainkan bertanya: “Apa yang terjadi? Bagaimana perasaanmu saat itu?”. Kehadiran yang tulus menciptakan rasa dihargai, yang pada akhirnya akan meningkatkan motivasi staf untuk memberikan pelayanan terbaik bagi pasien.
3. Becoming (Proses Bertumbuh)
Menjadi pemimpin adalah proses terus-menerus. Kita belajar dari kesalahan, belajar mendengarkan, dan terus bertumbuh menjadi versi terbaik bagi tim kita. Menjadi pemimpin hebat adalah proses belajar seumur hidup.
Transformasi menjadi pemimpin bukanlah sebuah titik tujuan, melainkan perjalanan tanpa henti (Becoming). Peneliti menemukan bahwa perawat yang mengikuti program pengembangan kepemimpinan ini merasa bahwa mereka terus berproses untuk menjadi lebih baik setiap harinya. Proses ini melibatkan keberanian untuk dikritik, kemauan untuk belajar dari perawat junior, dan fleksibilitas untuk beradaptasi dengan perubahan. Pemimpin person-centred memahami bahwa ia tidak harus sempurna, tetapi ia harus terus bertumbuh bersama timnya.
Menciptakan “Ruang Aman” (Psychological Safety): Kunci Keselamatan Pasien
Salah satu temuan paling kuat dalam penelitian ini adalah pentingnya keamanan psikologis. Seorang pemimpin yang menerapkan prinsip person-centred akan memastikan bahwa setiap perawat di unitnya merasa aman untuk:
- Mengaku jika melakukan kesalahan (tanpa takut dikambinghitamkan).
- Bertanya jika ragu terhadap instruksi medis.
- Memberikan ide kreatif tanpa takut ditertawakan.
Ketika keamanan psikologis ini tercipta, budaya menyalahkan (blame culture) akan hilang berganti dengan budaya belajar (learning culture). Dampak jangka panjangnya sangat nyata: angka kesalahan medis menurun dan kepuasan pasien meningkat karena mereka dirawat oleh tim yang solid dan bahagia. Tugas pemimpin adalah menciptakan “ruang aman” ini. Ketika perawat merasa aman secara emosional, tingkat stres akan menurun, kerja sama tim meningkat, dan yang terpenting adalah keselamatan pasien lebih terjamin.
Metode Kreatif Memimpin dengan Rasa, Membawa Seni ke Dalam Keperawatan
Mungkin terdengar asing atau aneh, tapi para pemimpin dalam penelitian ini menggunakan seni, puisi, dan refleksi untuk membantu mereka memahami perasaan mereka. Yang unik dari penelitian Cable et al. (2024) adalah metode yang mereka gunakan. Mereka tidak hanya menggunakan ceramah di ruang kelas, tetapi juga menggunakan metode kreatif seperti seni dan refleksi. Mengapa? Karena keperawatan bukan hanya ilmu (science), tapi juga seni (art).
Di tengah kakunya prosedur medis, kita butuh “rasa”. Cobalah hal kecil di unitmu: gunakan waktu 5 menit saat operan untuk sekadar bertanya, “Apa hal paling menantang yang teman-teman rasakan hari ini?” atau “Bagaimana perasaanmu setelah menangani pasien tadi?”. Langkah kecil ini adalah awal dari kepemimpinan yang memanusiakan manusia. Melalui refleksi, perawat pemimpin diajak untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk bangsal dan melihat ke dalam diri. Di Indonesia, hal ini bisa diadaptasi melalui sesi “Curhat Profesional” atau “Refleksi Kasus” yang tidak hanya membahas aspek klinis, tetapi juga aspek emosional yang dirasakan perawat saat menangani kasus sulit, seperti kematian pasien atau komplain keluarga.
Mengapa Ini Penting bagi Perawat Indonesia?
Beban kerja perawat di Indonesia sangat tinggi dengan rasio pasien yang seringkali tidak ideal. Dalam kondisi stres yang kronis, perawat sangat rentan mengalami burnout (kelelahan mental). Jika pemimpinnya hanya menuntut target tanpa memedulikan kondisi mental staf, maka kualitas pelayanan pasti akan merosot. Kepemimpinan yang berpusat pada orang memberikan perlindungan bagi staf. Pemimpin yang person-centred akan sadar bahwa “staf yang sejahtera akan menyejahterakan pasien.” Ini adalah sebuah rantai kebaikan yang dimulai dari kualitas kepemimpinan di tingkat unit terkecil.
Langkah Kecil Memulai Perubahan
Kamu tidak perlu menunggu menjadi Kepala Ruangan untuk memulai hal ini. Kepemimpinan bisa dimulai dari diri sendiri dan rekan sejawat:
- Mulai Mendengarkan: Saat rekan sejawat terlihat lelah, berikan waktu 2 menit untuk mendengarkan keluh kesahnya tanpa memberikan nasihat terlebih dahulu.
- Berikan Apersiasi: Ucapkan terima kasih yang tulus atas bantuan kecil rekanmu saat jaga malam.
- Refleksi Mandiri: Sebelum pulang kerja, tanyakan pada diri sendiri “Apakah hari ini saya sudah memperlakukan orang lain sebagai manusia, atau hanya sebagai rekan kerja?”
Menjadi pemimpin perawat yang person-centred memang tidak mudah di tengah sistem yang seringkali menuntut kecepatan. Namun, ingatlah bahwa kepedulian adalah sebuah keterampilan yang bisa dilatih, sama seperti memasang infus. Namun, seperti yang ditunjukkan dalam penelitian Queen’s Nurse, perubahan itu sangat mungkin terjadi jika kita memiliki keberanian untuk memulainya dari dalam diri melalui tahap Knowing, Being, hingga akhirnya Becoming. Mari kita mulai memimpin dengan hati, karena perawat yang dihargai sebagai manusia akan merawat pasiennya dengan cara yang lebih manusiawi. Jadikan profesi keperawatan bukan hanya tentang prosedur, tapi tentang hubungan antar manusia yang saling menguatkan.
“Kepemimpinan perawat itu bukan tentang perintah, tapi tentang bagaimana menjadi manusia. Kepemimpinan bukan tentang kekuatan, tapi tentang memberdayakan orang lain.”
Referensi
Cable, C., McCance, T., & McCormack, B. (2024). Knowing, Being and Becoming a Person-Centred Nurse Leader: Findings from a Transformative Professional Development Programme. Nursing Reports, 3165–3177.









