banner 728x250

Beda Perawat dan Bidang Keperawatan, Ini Penjelasannya

Beda Perawat dan Bidang Keperawatan, Ini Penjelasannya

Mediaperawat.id – Dalam dunia keperawatan, sering kita mendengar kata perawat dan bidang keperawatan. Idealnya, keduanya memiliki peran dan tanggungjawab yang berbeda sesuai dengan fungsinya. Perawat sebagai profesi dan bidang keperawatan sebagai pengelola perawat itu sendiri.

Cari tahu yuk beda perawat dan bidang keperawatan dari beberapa aspek dalam artikel ini, baca sampai selesai yuk!

Beda Perawat dan Bidang Keperawatan

Perawat sebagai profesi pemberi asuhan ke pasien adalah ujung tombak pelayanan yang memberikan perawatan langsung secara holistik sedangkan bidang keperawatan memastikan bahwa unit perawatan tersebut dapat berjalan secara efisien dan sesuai standar.

Namun dalam praktiknya, dua peran tersebut sering bersinggungan sehingga secara tidak langsung berdampak pada kualitas asuhan yg diberikan oleh perawat di ruangan dan kebutuhan perawat yg seharusnya disediakan atau difasilitasi bidang keperawatan. Hal itu dikarenakan adanya perbedaan peran, tekanan kerja dan gaya kepemimpinan yang sering menimbulkan konflik di lapangan.

Beberapa Aspek Perbedaan dan Penyebab Konflik Antara Keduanya

Berikut adalah beberapa aspek perbedaan perawat dan bidang keperawatan yang sering jadi penyebab konflik antara keduanya.

1. Beban kerja

Contoh situasi yang sering muncul adalah ketika di suatu ruangan kekurangan staf dan bidang keperawatan tidak memutuskan mencari tenaga pengganti. Dari perspektif perawat dampak yang muncul adalah perawat yg bertugas harus merawat lebih banyak sehingga meningkatkan resiko kelelahan yang berdampak pada kualitas pelayanan.

Baca Juga: Kesejahteraan Perawat Sebagai Fondasi Sistem Kesehatan yang Tangguh

Hal ini menyebabkan keselamatan staf dan kualitas perawatan tidak diprioritaskan oleh bidang keperawatan. Dalam perspektif bidang keperawatan terkadang merasa harus menjaga fungsi unit agar tetap bekerja maksimal meskipun sumber daya terbatas dan terkadang adanya tekanan dari luar yang memaksa mereka tetap menerapkan kebijakan tersebut.

2. Penerapan kebijakan baru

Contoh situasi yang sering muncul adalah penerapan RME (rekam medis elektronik). Dalam perspektif perawat, sistem tersebut terkadang dirasa memperlambat kerja perawat sehingga mengurangi waktu interaksi bersama pasien.

Ditambah lagi jika tidak didukung sosialisasi yang efektif sehingga dalam penggunaannya merasa kesulitan dan didukung dengan budaya kerja yang selama ini aman di zona nyaman, maka perubahan tersebut dirasa hanya menambah kesulitan saja.

Dalam perspektif bidang keperawatan, mereka melihat manfaat jangka panjangnya walaupun pelaksanaannya memiliki banyak hambatan dan mereka harus memastikan setiap unit dapat mematuhi standar akreditasi dan keselamatan rumah sakit.

3. Gaya kepemimpinan

Contoh situasi yg sering muncul adalah teguran ketika melakukan kesalahan. Dalam perspektif perawat terkadang bidang keperawatan bersikap pilih kasih. Adapula anggapan bahwa kritik yang disampaikan tidak menjadi evaluasi bersama bahkan kadang menjadi boomerang bagi perawat itu sendiri dan pada akhirnya perawat menjadi pasif sehingga melakukan kegiatan hanya sebagai rutinitas saja.

Jika terlalu kritik atau kreatif, dikhawatirkan dapat menjadi ancaman bagi perawat itu sendiri. Sedangkan di sisi bidang keperawatan terkadang merasa berada di tekanan yang besar sehingga kebijakan yg diberikan tanpa melalui proses pertimbangan.

Baca Juga: DPP PPNI Serukan Perawat Mengisi Survei Kewenangan Tambahan Perawat (Khitan)

Sebenarnya, Tidak Sedikit Bidang Keperawatan Sebenarnya Berasal dari Perawat Langsung di Pelayanan.

Harapannya pengalaman dan pemahaman mereka dapat dijadikan acuan dalam membuat kebijakan atau membuat keputusan, namun dalam praktiknya hal tersebut tidak selalu berpengaruh dan terkesan tunduk kepada kebutuhan atasan.

Hal inilah yang membuat tidak banyak perbedaan antara bidang keperawatan yang sebelumnya berpengalaman di pelayanan langsung maupun yang bidang keperawatan yang belum berpengalaman di pelayanan langsung.

Adapun langkah terbaik yang dapat dilakukan adalah melakukan komunikasi terbuka dan melibatkan perawat yang langsung bersinggungan di lapangan serta menjadi mediator yang efektif dalam menyelesaikan konflik dan menggunakan pendekatan sandwich feedback dengan memulai dari hal positif, hal yang perlu diperbaiki diakhiri motivasi dan harus memfokuskan pada kesalahan bukan pada karakter perawatnya.

Referensi:

Marquis, B. L., & Huston, C. J. (2021). Leadership Roles and Management Functions in Nursing: Theory and Application.
L. H., et al. (2014). “Nurse staffing and education and hospital mortality in nine European countries: a retrospective observational study.” The Lancet.
Strudwick, G., et al. (2018). “The Impact of Electronic Health Record Usage on Nursing Burnout: A Scoping Review.” Journal of Nursing Management.
Edmondson, A. C. (1999/2019). The Fearless Organization: Creating Psychological Safety in the Workplace for Learning, Innovation, and Growth.
PMK (Peraturan Menteri Kesehatan) No. 40 Tahun 2017 tentang Pengembangan Jenjang Karir Profesional Perawat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *