Mediaperawat.id – Interpretasi Analisis Gas Darah (AGD) sering menjadi tantangan bagi perawat, terutama saat menghadapi pasien kritis di IGD, ICU, maupun ruang rawat inap. Padahal, kemampuan membaca hasil AGD sangat penting untuk menilai status oksigenasi, ventilasi, dan keseimbangan asam-basa.
Kabar baiknya, interpretasi AGD tidak rumit. Dengan mengikuti langkah-langkah yang terstruktur, perawat dapat mengidentifikasi gangguan asam-basa dengan cepat untuk menentukan penatalaksanaan yang tepat. Simak ulasan selengkapnya dalam artikel ini!
Apa Itu AGD?
AGD adalah pemeriksaan yang digunakan untuk menilai:
- Keseimbangan asam-basa tubuh
- Ventilasi (kemampuan paru mengeluarkan CO2)
- Oksigenasi (kemampuan paru memasukkan oksigen)
Pemeriksaan ini sangat penting pada pasien dengan gangguan pernapasan, pasien kritis, pasien yang menggunakan ventilator, maupun pasien dengan gangguan metabolik yang memengaruhi keseimbangan asam-basa, seperti gagal ginjal, ketoasidosis diabetik, atau asidosis laktat.
Komponen Utama AGD
- pH
pH merupakan parameter pertama yang dinilai dalam interpretasi AGD karena menunjukkan darah yang bersifat asam, basa, atau normal. Namun, pH yang normal tidak selalu menandakan kondisi pasien baik karena gangguan asam-basa yang telah terkompensasi dapat membuat pH kembali ke kisaran normal meskipun nilai PaCO2 atau HCO3 masih abnormal.
Oleh karena itu, jika pH berada dalam rentang normal, perhatikan apakah nilainya cenderung mendekati 7,35 atau 7,45 untuk membantu mengidentifikasi gangguan asam-basa yang mendasarinya.
- PaCO2
PaCO2 (tekanan parsial karbon dioksida dalam darah arteri) menggambarkan komponen respirasi dalam keseimbangan asam-basa. Karbon dioksida dikeluarkan melalui paru-paru, perubahan ventilasi akan memengaruhi kadar PaCO2.
Jika hipoventilasi, karbon dioksida akan menumpuk sehingga PaCO2 meningkat dan mengarah pada asidosis respiratorik. Sebaliknya, jika hiperventilasi, karbon dioksida akan lebih banyak dikeluarkan sehingga PaCO2 menurun dan mengarah pada alkalosis respiratorik.
Pada gangguan respiratorik primer, nilai PaCO2 dan pH bergerak berlawanan arah; ketika PaCO2 meningkat, pH akan menurun, sedangkan ketika PaCO2 menurun, pH akan meningkat.
- PaO2
PaO2 (tekanan parsial oksigen dalam darah arteri) menunjukkan jumlah oksigen yang terlarut dalam darah dan digunakan untuk menilai status oksigenasi. PaO2 yang rendah menunjukkan hipoksemia. Interpretasi PaO2 harus selalu mempertimbangkan kadar oksigen yang diberikan kepada pasien atau FiO2, karena nilai PaO2 yang sama dapat memiliki makna klinis yang berbeda tergantung pada jumlah oksigen yang dihirup.
- HCO3
HCO3 (bikarbonat) menunjukkan komponen metabolik dalam keseimbangan asam-basa. Kadar bikarbonat diatur terutama oleh ginjal. HCO3 yang rendah menunjukkan asidosis metabolik, sedangkan HCO3 yang tinggi mengarah pada alkalosis metabolik atau dapat menjadi bentuk kompensasi ginjal terhadap asidosis respiratorik kronis. Pada gangguan metabolik primer, HCO3 dan pH bergerak searah yaitu penurunan HCO3 akan diikuti penurunan pH, sedangkan peningkatan HCO3 akan diikuti peningkatan pH.
- Base Excess (BE)
BE adalah parameter yang membantu menilai komponen metabolik dalam keseimbangan asam-basa. BE lebih dari +2 mEq/L menunjukkan kelebihan basa yang dapat terjadi pada alkalosis metabolik atau sebagai kompensasi terhadap asidosis respiratorik kronis. Sebaliknya, BE kurang dari −2 mEq/L menunjukkan defisit basa yang mengarah pada asidosis metabolik. Parameter ini berguna untuk mengonfirmasi adanya gangguan metabolik, terutama pada kasus dengan kompensasi atau gangguan asam-basa campuran.
- SaO2
SaO2 (saturasi oksigen arteri) menunjukkan persentase hemoglobin yang berikatan dengan oksigen. Standar ini digunakan untuk menilai kecukupan oksigenasi, tetapi perlu diinterpretasikan dengan teliti karena pemeriksaan AGD umumnya tidak selalu dapat mendeteksi hemoglobin abnormal, seperti karboksihemoglobin atau methemoglobin.
Nilai Normal AGD yang Wajib Diingat
- pH: 7.35 to 7.45
- PaCO2: 35 s.d. 45 mmHg
- PaO2: 80 s.d. 100 mmHg on room air
- HCO3: 22 s.d. 26 mEq/L
- Base Excess: 0 ± 2 mEq/L
- SaO2: 95% s.d. 98%
Langkah Praktis Interpretasi AGD
Langkah 1 : Lihat pH
Tentukan apakah pasien mengalami:
- Asidosis: pH < 7,35
- Alkalosis: pH > 7,45
- Normal: pH 7,35 – 7,45
Langkah 2 : Cek PaCO2
Periksa PaCO2 untuk menentukan apakah sistem respirasi menjelaskan perubahan pH.
- Jika pH <7,35 dan PaCO2 >45 mmHg, gangguan utama adalah asidosis respiratorik.
- Jika pH >7,45 dan PaCO2 <35 mmHg, gangguan utama adalah alkalosis respiratorik.
Jika nilai PaCO2 abnormal tetapi tidak sesuai dengan perubahan pH, kondisi tersebut dapat menunjukkan adanya kompensasi atau kemungkinan gangguan asam-basa campuran.
Langkah 3 : Cek HCO3 dan BE
HCO3 menunjukkan fungsi metabolik (ginjal). Selanjutnya, evaluasi HCO3 dan BE untuk menentukan keterlibatan komponen metabolik.
- Jika pH <7,35 dan HCO3 <22 mEq/L, gangguan utama adalah asidosis metabolik.
- Jika pH >7,45 dan HCO3 >26 mEq/L, gangguan utama adalah alkalosis metabolik.
Nilai BE dapat membantu memperkuat interpretasi:
- BE negatif menunjukkan adanya defisit basa yang mengarah pada asidosis metabolik.
- BE positif menunjukkan kelebihan basa yang mengarah pada alkalosis metabolik.
Ingatlah bahwa bikarbonat adalah basa. Jadi, semakin tinggi HCO3 semakin basa darah.
Langkah 4 : Tentukan Gangguan Utamanya
- Jika pH ↓ + PaCO2 ↑ = Asidosis respiratorik
- Jika pH ↑ + PaCO2 ↓= Alkalosis respiratorik
- Jika pH ↓ + HCO3 ↓ = Asidosis metabolik
- Jika pH ↑ + HCO3 ↑ = Alkalosis metabolik
Langkah 5. Nilai Apakah Sudah Terkompensasi
Apabila gangguan utama sudah ditentukan, evaluasi apakah sistem tubuh lain memberikan respons kompensasi.
Jika gangguan utama berasal dari respirasi, maka ginjal akan melakukan kompensasi dengan mengatur kadar bikarbonat:
- Pada asidosis respiratorik, ginjal mempertahankan HCO3 untuk membantu meningkatkan pH.
- Pada alkalosis respiratorik, ginjal membuang HCO3 untuk membantu menurunkan pH.
Jika gangguan utama berasal dari metabolik, maka paru-paru melakukan kompensasi melalui perubahan ventilasi:
- Pada asidosis metabolik, ventilasi meningkat sehingga PaCO2 menurun.
- Pada alkalosis metabolik, ventilasi dapat menurun untuk mempertahankan CO2.
Kompensasi oleh paru-paru dapat terjadi dengan cepat, sedangkan kompensasi oleh ginjal membutuhkan waktu lebih lama dan lebih sering ditemukan pada gangguan respirasi kronis.
Agar lebih mudah, ingat ini ya:
- Tidak terkompensasi : pH abnormal, PaCO2 atau HCO3 abnormal.
- Terkompensasi sebagian : pH abnormal, PaCO2 dan HCO3 abnormal.
- Kompensasi penuh : pH normal, tetapi PaCO2 dan HCO3 abnormal.
Contoh Interpretasi AGD
Contoh 1
Hasil AGD:
pH = 7,28, PaCO2 = 52 mmHg, HCO3 = 24 mEq/L
Cara Mengerjakan
Langkah 1
pH rendah → Asidosis
Langkah 2
PaCO2 tinggi → penyebab respiratorik
Langkah 3
HCO3 normal
Kesimpulan
Asidosis respiratorik tidak terkompensasi
Contoh 2
Hasil AGD:
pH = 7,36, PaCO2 = 55 mmHg, HCO3 = 30 mEq/L
Cara Interpretasi:
Langkah 1: Nilai pH
pH normal, tetapi mendekat sisi asam : kecenderungan asidosis
Langkah 2: Nilai PaCO2
PaCO2 tinggi → penyebab respiratorik
Langkah 3: Nilai HCO3
HCO3 tinggi → menunjukkan kompensasi ginjal
Kesimpulan
Asidosis respiratorik terkompensasi penuh
Contoh 3
Hasil AGD:
pH = 7,50, PaCO2 = 48 mmHg, HCO3 = 34 mEq/L, bagaimana hasil interpretasinya? Tulis di kolom komentar yaa!
Interpretasi AGD bukan hanya tentang menghafal angka normal, tetapi memahami hubungan antara pH, PaCO2, dan HCO3 secara sistematis. Berlatihlah dengan giat agar lebih percaya diri dalam membaca hasil AGD. Kemampuan interpretasi yang berkembang akan mendukung keputusan klinis yang lebih akurat untuk keselamatan pasien.
Ikuti dan pantau terus Media Perawat Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini seputar keperawatan dan kesehatan lainnya.
Referensi
Respiratory Therapy Zone. (2026). ABG interpretation made easy: A step-by-step guide. Respiratory Therapy Zone. https://www.respiratorytherapyzone.com/abg-interpretation/
VHTC. (2025). ABG interpretation: Arterial blood gas analysis made simple. VHTC. https://www.vhtc.org/2025/09/abg-interpretation.html









