Mediaperawat.id – Rokok masih menjadi salah satu faktor risiko berbagai masalah kesehatan. Seiring berkembangnya teknologi, rokok elektrik atau vape marak digunakan dan sering dianggap sebagai alternatif yang lebih aman dibandingkan rokok konvensional. Namun, apakah rokok elektrik benar-benar lebih aman? Simak ulasan selengkapnya dalam artikel ini!
Apa Perbedaan Vape dan Rokok Biasa?
Rokok biasa bekerja dengan cara membakar tembakau sehingga menghasilkan asap yang kemudian dihirup oleh penggunanya. Proses pembakaran tersebut menghasilkan ribuan zat kimia, termasuk berbagai zat yang bersifat toxic dan karsinogenik.
Sementara itu, vape menggunakan perangkat yang dapat memanaskan cairan atau e-liquid yang menghasilkan aerosol untuk dihirup. Cairan tersebut umumnya mengandung nikotin, propilen glikol, gliserin, perisa, serta bahan kimia lainnya. Berbeda dengan rokok konvensional, vape tidak menghasilkan asap, melainkan aerosol yang berpotensi membahayakan kesehatan.
Vape vs Rokok Biasa, Mana yang Lebih Berbahaya?
Rokok konvensional umumnya menghasilkan paparan zat berbahaya yang lebih banyak karena adanya proses pembakaran. Asap rokok mengandung ribuan bahan kimia, termasuk zat penyebab kanker. Sedangkan, aerosol rokok elektrik umumnya mengandung lebih sedikit jenis zat berbahaya dibandingkan asap rokok, tetapi bukan berarti vape aman.
Kedua jenis rokok tersebut dapat memberikan dampak negatif bagi sistem pernapasan. Rokok konvensional diketahui berhubungan dengan berbagai penyakit paru, sedangkan aerosol vape dapat membawa partikel dan bahan kimia yang masuk jauh ke dalam paru-paru. Dampak jangka panjang penggunaan rokok elektrik juga masih terus dipelajari.
Pada sistem kardiovaskular, nikotin pada kedua jenis rokok tersebut dapat menyebabkan kecanduan serta memengaruhi kerja jantung dan pembuluh darah. Penggunaan nikotin juga dapat meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah. Nikotin pada vape bersifat sangat adiktif. Oleh karena itu, penggunaan vape tetap dapat ketergantungan terhadap nikotin secara terus menerus, terutama jika digunakan secara rutin.
Pada orang dewasa yang sudah merokok dan tidak sedang hamil, penggunaan vape mungkin memiliki manfaat jika benar-benar menggantikan seluruh penggunaan rokok konvensional, bukan digunakan bersamaan. Hal yang perlu diwaspadai adalah penggunaan keduanya secara bersamaan atau dual use. Merokok sambil tetap menggunakan vape bukan berarti risiko kesehatan menjadi lebih rendah. Justru, paparan terhadap zat toksik dapat tetap tinggi dan dapat memberikan dampak buruk terhadap kesehatan pernapasan.
Cara Mengurangi Risiko dan Berhenti Merokok
Bagi seseorang yang tidak pernah merokok, penggunaan vape sebaiknya dihindari karena bukan produk yang sepenuhnya aman dan tetap dapat menyebabkan ketergantungan nikotin. Bagi perokok yang ingin berhenti, langkah terbaik adalah menghentikan penggunaan produk tembakau dan nikotin secara keseluruhan.
Dukungan tenaga kesehatan dapat membantu menentukan strategi berhenti merokok yang sesuai, termasuk konseling perilaku dan terapi farmakologis apabila diperlukan. WHO juga merekomendasikan intervensi berhenti merokok yang berbasis bukti sebagai bagian dari upaya pengendalian penggunaan tembakau.
Dengan demikian, vape maupun rokok biasa sama-sama memiliki risiko kesehatan. Rokok konvensional memiliki paparan zat berbahaya yang lebih tinggi, tetapi vape bukan berarti aman. Pilihan paling baik bagi kesehatan adalah tidak menggunakan keduanya.
Ikuti dan pantau terus Media Perawat Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini seputar keperawatan dan kesehatan lainnya.
Referensi
Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Health effects of vaping. https://www.cdc.gov/tobacco/e-cigarettes/health-effects.html
World Health Organization. (2024). Tobacco: E-cigarettes. https://www.who.int/news-room/questions-and-answers/item/tobacco-e-cigarettes









