banner 728x250

Efektivitas Penerapan Mobilisasi Dini dan Tirah Baring pada Pasien, Mana yang Lebih Baik?

Efektivitas Tirah Baring dan Mobilisasi Dini pada Pasien

Mediaperawat.id – Perawat yang bekerja di ruang intensif harus mengetahui kondisi pasien yang sedang dirawat. Ada pasien yang memerlukan mobilisasi dini untuk mempercepat proses pemulihan dan ada yang memerlukan tirah baring untuk mengurangi risiko penurunan kondisi. Kapan dan atas dasar apa pasien harus menjalani mobilisasi dini atau tirah baring? Simak ulasan selengkapnya dalam artikel ini!

Memahami Bed Rest dan Risikonya

Tirah baring (bed rest) merupakan proses membatasi aktivitas pasien untuk menjaga stabilitas kondisi klinis. Pada pasien kritis, bed rest sering menjadi bagian penting dari terapi, terutama pada fase akut penyakit. Namun, praktik ini tidak boleh dilakukan lebih lama dari yang diperlukan karena dapat menimbulkan berbagai komplikasi yang memperlambat proses pemulihan.

Kapan Bed Rest Masih Diperlukan pada Pasien ICU?

Bed rest tetap menjadi pilihan yang tepat apabila pasien memiliki kondisi-kondisi berikut: 

  1. Ketidakstabilan hemodinamik
  2. Syok yang belum terkontrol
  3. Penggunaan vasopressor dosis tinggi
  4. Cedera tulang belakang yang belum stabil
  5. Peningkatan tekanan intrakranial.
  6. Fraktur pelvis atau ekstremitas yang belum distabilkan.
  7. Pasien pascaoperasi tertentu sesuai instruksi dokter.

Pada kondisi tersebut, mobilisasi dapat meningkatkan risiko cedera atau memperparah keadaan pasien sehingga keputusan untuk mobilisasi harus dilakukan secara multidisiplin.

Apa Risiko Bed Rest Berkepanjangan pada Pasien ICU?

Bed rest merupakan bagian dari terapi. Namun, apabila dilakukan terlalu lama, tirah baring justru dapat menyebabkan berbagai komplikasi, antara lain:

  1. ICU-acquired weakness (kelemahan otot akibat perawatan intensif).
  2. Atrofi otot dan penurunan massa otot.
  3. Penurunan fungsi paru serta meningkatnya risiko atelektasis.
  4. Deep Vein Thrombosis (DVT).
  5. Luka tekan (dekubitus).
  6. Penurunan kapasitas fungsional.
  7. Lama rawat inap menjadi lebih panjang dan proses rehabilitasi lebih sulit.

Penelitian menunjukkan bahwa kehilangan massa otot dapat terjadi hanya dalam beberapa hari pertama perawatan kritis, sehingga upaya mempertahankan fungsi fisik menjadi salah satu target penting dalam pelayanan ICU modern.

Manfaat dan Tahapan Mobilisasi Dini untuk Pemulihan Pasien

Mobilisasi dini adalah intervensi rehabilitasi yang dilakukan sedini mungkin ketika kondisi pasien telah memenuhi kriteria yang aman. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa mobilisasi dini mampu mempertahankan kekuatan otot, memperbaiki fungsi pernapasan, mengurangi kejadian delirium, serta mempercepat pemulihan fungsional pasien.

Pelaksanaan mobilisasi dilakukan secara bertahap sesuai toleransi pasien, yaitu:

  1. Latihan rentang gerak (Range of Motion/ROM) pasif maupun aktif.
  2. Menaikkan posisi kepala tempat tidur dan duduk di tepi tempat tidur.
  3. Duduk di kursi dengan bantuan tenaga kesehatan.
  4. Berdiri dengan bantuan apabila kondisi memungkinkan.
  5. Berjalan secara bertahap menggunakan alat bantu atau didampingi petugas.

Sebelum mobilisasi, perawat perlu menilai keamanan yang terdiri dari tekanan darah, frekuensi jantung, saturasi oksigen, tingkat kesadaran, kebutuhan vasopressor, serta memastikan tidak terdapat kontraindikasi medis. Selama mobilisasi, kondisi pasien harus dipantau secara ketat agar tindakan tetap aman.

Kapan Mobilisasi Dini dan Tirah Baring Efektif untuk Diterapkan?

Pada dasarnya, tidak ada pendekatan yang paling baik untuk setiap pasien. Tirah baring tetap diperlukan pada fase kritis ketika kondisi belum stabil. Namun, setelah kondisi hemodinamik membaik dan pasien memenuhi kriteria keamanan, mobilisasi dini menjadi strategi yang lebih efektif untuk mencegah komplikasi akibat imobilisasi.

Keputusan memulai mobilisasi harus berdasarkan pada hasil pengkajian klinis secara komprehensif dan melibatkan kolaborasi multidisiplin mulai dari dokter, perawat, dan fisioterapis. Pendekatan yang tepat waktu dan terencana terbukti dapat meningkatkan kualitas hidup pasien sekaligus mempersingkat waktu perawatan di rumah sakit.

Dengan demikian, mobilisasi dini bukanlah pengganti tirah baring, melainkan terapi lanjutan sesuai indikasi. Peran perawat sangat penting dalam melakukan penilaian, pemantauan, serta edukasi kepada pasien dan keluarga agar proses rehabilitasi berjalan secara aman dan optimal.

Ikuti dan pantau terus Media Perawat Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini seputar keperawatan dan kesehatan lainnya.

REFERENSI

Bhoi, A. K., Smitanjali, S., Rout, D., Dash, P., & Mohanty, N. R. (2024). Effects of extended bed rest in ICU immobilization and inactivity. International Journal of Allied Medical Sciences and Clinical Research, 12(4), 610–617. https://doi.org/10.61096/ijamscr.v12.iss4.2024.610-617 

Sari, D. M., Widjanantie, S. C., Poerwandari, D., Paulus, A. F. S., Tedjasukmana, D., Nusdwinuringtyas, N., Ratnawati, A., & Laswati, H. (2022). Mobilisasi dini di Intensive Care Unit (ICU). Jurnal Indonesian Medical Association, 72(1), 44–55. Diakses dari https://mki-ojs.idionline.org/jurnal/article/download/315/239

Ji, H. M., & Won, Y. H. (2024). Early Mobilization and Rehabilitation of Critically-Ill Patients. Tuberculosis and respiratory diseases, 87(2), 115–122. https://doi.org/10.4046/trd.2023.0144

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *