banner 728x250

Mengenal Komunikasi SBAR: Cara Efektif Perawat Menyampaikan Informasi Pasien

KOMUNIKASI SBAR PERAWAT

Mediaperawat.id – Komunikasi menjadi bagian penting dalam pemberian asuhan keperawatan. Informasi mengenai kondisi pasien perlu disampaikan secara jelas, tepat, dan berkala, terutama saat terjadi pergantian shift, konsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan lainnya, maupun ketika kondisi pasien mengalami perubahan.

Salah satu metode komunikasi yang banyak digunakan dalam pelayanan kesehatan adalah SBAR. Metode ini membantu tenaga kesehatan menyampaikan informasi klinis secara terstruktur sehingga informasi penting tidak terlewat. Agency for Healthcare Research and Quality (AHRQ) menyebut SBAR sebagai kerangka komunikasi terstruktur yang dapat digunakan untuk menyampaikan kondisi pasien maupun permasalahan yang membutuhkan perhatian tim kesehatan.

Apa Itu Komunikasi SBAR?

SBAR merupakan metode komunikasi yang terdiri dari empat komponen, yaitu Situation, Background, Assessment, dan Recommendation. Keempat bagian tersebut membantu untuk menyampaikan informasi secara ringkas tetapi tetap mencakup hal-hal penting yang dibutuhkan.

1. Situation

Situation atau situasi berisi informasi mengenai kondisi atau masalah pasien yang sedang terjadi. Perawat dapat memperkenalkan diri, menyebutkan identitas pasien, kemudian menjelaskan masalah utamanya.

Contohnya: “Dok, saya perawat dari ruang ICU. Saya melaporkan pasien Tn. A, 65 tahun, saat ini mengalami penurunan tekanan darah menjadi 80/50 mmHg.”

2. Background

Background berisi informasi latar belakang yang relevan dengan kondisi pasien. Informasi dapat meliputi:

  • Diagnosis medis
  • Riwayat penyakit
  • Terapi yang sedang diberikan
  • Hasil pemeriksaan penunjang
  • Perubahan kondisi sebelumnya.

Tidak semua informasi pasien harus disampaikan. Pilih informasi yang berkaitan dengan masalah yang sedang dilaporkan agar komunikasi tetap efektif.

3. Assessment

Assessment merupakan hasil pengkajian atau penilaian tenaga kesehatan terhadap kondisi pasien. Perawat dapat menyampaikan temuan objektif seperti:

  • Tanda-tanda vital
  • Tingkat kesadaran
  • Hasil pemeriksaan fisik
  • Perubahan kondisi pasien

Bagian ini juga menjadi kesempatan bagi perawat untuk menyampaikan hasil interpretasi klinis berdasarkan data yang ditemukan.

4. Recommendation

Recommendation berisi rekomendasi atau kebutuhan tindakan selanjutnya. Perawat dapat menyampaikan apa yang dibutuhkan dari tenaga kesehatan lain, misalnya:

  • Permintaan evaluasi dokter
  • Perubahan terapi
  • Pemeriksaan penunjang
  • Tindakan segera.

Dengan demikian, komunikasi tidak berhenti pada penyampaian masalah, tetapi juga mengarahkan tim untuk menentukan langkah berikutnya.

Mengapa SBAR Penting bagi Perawat?

Penggunaan SBAR dapat membantu meningkatkan kejelasan dan kelengkapan informasi dalam komunikasi antar tenaga kesehatan, termasuk saat handover dan komunikasi secara langsung maupun tidak langsung melalui telepon. Tinjauan sistematis menunjukkan bahwa penerapan SBAR dapat meningkatkan kualitas komunikasi.

Bagi perawat, SBAR dapat menjadi panduan agar informasi yang disampaikan tidak terlalu panjang, tetapi tetap berfokus pada kondisi pasien dan kebutuhan tindakan. Metode ini juga dapat membantu perawat lebih percaya diri ketika harus melaporkan perubahan kondisi pasien kepada dokter atau tim kesehatan lainnya.

SBAR bukan sebatas format komunikasi, tetapi salah satu cara untuk membangun komunikasi klinis yang lebih terstruktur, jelas, dan berorientasi pada keselamatan pasien. Penggunaannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi klinis dan kebijakan masing-masing fasilitas pelayanan kesehatan.

Ikuti dan pantau terus Media Perawat Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini seputar keperawatan dan kesehatan lainnya.

Referensi

Agency for Healthcare Research and Quality. (2023). SBAR. TeamSTEPPS. AHRQ – SBAR Communication Tool

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *