Mediaperawat.id – Menurut dr. Irnizar, Sp.JP., Subsp. Ar (K), dalam praktik sehari-hari ia cukup sering menemui pasien yang lebih memilih mendapatkan penanganan di Tasikmalaya daripada harus dirujuk ke kota lain. “Masyarakat Tasikmalaya lebih nyaman jika bisa mendapatkan pelayanan di daerahnya sendiri.” ujarnya sambil tersenyum. Kalimat sederhana ini menggambarkan pentingnya menghadirkan layanan kesehatan yang tidak hanya canggih, tapi juga mudah dijangkau. Bagi pasien dengan gangguan irama jantung (aritmia), akses terhadap layanan seringkali menjadi tantangan yang sama besarnya dengan penyakit itu sendiri.
Kalimat sederhana tersebut menggambarkan kenyataan yang sering ditemui di lapangan. Tidak sedikit pasien dengan gangguan irama jantung yang sebenarnya membutuhkan tindakan lanjutan, tetapi enggan dirujuk ke kota besar karena berbagai alasan. Ada yang khawatir jauh dari keluarga, ada yang mempertimbangkan biaya perjalanan dan akomodasi, hingga ada pula yang merasa lebih nyaman menjalani pengobatan di kota tempat mereka tinggal.
Selama bertahun-tahun, pasien dengan gangguan irama jantung di wilayah Priangan Timur yang membutuhkan tindakan ablasi harus menempuh perjalanan ke kota-kota besar seperti Bandung, Jakarta, Solo, atau Surabaya. Bagi sebagian keluarga, perjalanan panjang, biaya tambahan, serta waktu yang harus disiapkan keluarga menjadi bagian dari proses yang tidak mudah dijalani.
Kini, harapan tersebut hadir lebih dekat. RS JHC Tasikmalaya berhasil melaksanakan tindakan ablasi pertama di wilayah Priangan Timur, menandai hadirnya layanan elektrofisiologi yang lebih mudah diakses masyarakat. Momen ini bukan hanya menjadi pencapaian rumah sakit, tapi juga membuka akses pelayanan yang lebih luas bagi masyarakat yang membutuhkan terapi gangguan irama jantung tanpa harus menempuh perjalanan jauh.
Baca Juga : Mengenal Central Venous Catheter (CVC): Fungsi, Jenis, Indikasi, dan Perawatannya
Ketika Gangguan Irama Jantung Membutuhkan Penanganan Tepat
Aritmia terjadi ketika sistem kelistrikan jantung mengalami gangguan sehingga denyut jantung menjadi terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak beraturan. Pada sebagian pasien, kondisi ini hanya menimbulkan rasa berdebar. Namun pada kasus tertentu, aritmia dapat meningkatkan risiko komplikasi serius apabila tidak ditangani dengan tepat.
Salah satu terapi yang efektif adalah ablasi jantung yaitu prosedur minimal invasif menggunakan kateter untuk mengidentifikasi sekaligus menghilangkan jaringan penyebab gangguan irama jantung. Dengan tingkat keberhasilan yang tinggi pada indikasi tertentu, tindakan ini dapat membantu pasien kembali beraktivitas dengan kualitas hidup yang lebih baik.
Pada 7 Juli 2026, RS JHC Tasikmalaya melaksanakan bakti sosial tindakan ablasi bagi dua pasien dengan diagnosis Supraventricular Tachycardia (SVT). Kedua prosedur tersebut berjalan dengan lancar dan pasien berada dalam kondisi stabil setelah tindakan.
Lebih dari Sekadar Sebuah Tindakan
Di balik satu tindakan ablasi, terdapat proses panjang yang melibatkan berbagai profesi kesehatan. Kehadiran layanan elektrofisiologi bukan hanya tentang tersedianya teknologi atau dokter operator, melainkan kesiapan sistem pelayanan secara menyeluruh. Di balik ruang Cath Lab, terdapat kolaborasi berbagai profesi kesehatan yang bekerja sebagai satu tim.
Tim dokter spesialis jantung, perawat Cath Lab, tenaga anestesi, radiografer, hingga tenaga penunjang lainnya bekerja sebagai satu kesatuan untuk memastikan setiap tahapan berlangsung aman dan efektif. Kolaborasi inilah yang seringkali tidak terlihat oleh masyarakat, padahal menjadi pondasi utama keberhasilan pelayanan.
Perawat Cath Lab: Menjaga Keselamatan Pasien di Setiap Tahapan
Sebagai media keperawatan, penting untuk melihat bahwa keberhasilan tindakan tidak hanya bergantung pada operator utama.
Perawat Cath Lab menjadi salah satu bagian penting dalam setiap tahapan pelayanan. Mulai dari mempersiapkan pasien, memastikan kesiapan alat dan lingkungan tindakan, mendampingi dokter selama prosedur berlangsung, memantau kondisi pasien secara kontinu, hingga memberikan observasi dan edukasi setelah tindakan selesai. Dalam prosedur elektrofisiologi yang membutuhkan ketelitian tinggi, koordinasi dan komunikasi antar anggota tim menjadi faktor yang tidak dapat dipisahkan dari keselamatan pasien.
Baca Juga : Ayo Kenali Penyakit Jantung Bawaan (PJB) pada Anak: Jenis, Gejala, Faktor Risiko Hingga Komplikasinya
Hadirnya layanan ablasi di daerah tidak hanya memperluas akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan jantung, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bagi tenaga kesehatan. Perkembangan teknologi di bidang kardiovaskular menuntut seluruh anggota tim, termasuk perawat, untuk terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan agar mampu memberikan pelayanan yang aman dan berkualitas.
Membawa Layanan Lebih Dekat dengan Masyarakat
Menurut dr. Irnizar, Sp.JP, Subsp.Ar(K), dalam praktik sehari-hari masih banyak pasien yang lebih memilih menjalani pengobatan di daerahnya sendiri dibanding harus dirujuk ke kota lain. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kedekatan layanan kesehatan dengan tempat tinggal pasien memiliki arti penting, tidak hanya dari sisi akses, tetapi juga kenyamanan pasien dan keluarganya. Kehadiran layanan ablasi di Priangan Timur diharapkan dapat menjadi solusi bagi masyarakat yang selama ini harus menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan terapi gangguan irama jantung.
Belajar Bersama, Bertumbuh Bersama
Perkembangan layanan kesehatan tidak hanya menghadirkan teknologi baru, tetapi juga mendorong seluruh tenaga kesehatan untuk terus belajar. Bagi perawat, hadirnya layanan elektrofisiologi membuka kesempatan untuk memperdalam kompetensi, memperkuat kolaborasi interprofesional, serta memberikan pelayanan yang semakin aman dan berpusat pada pasien.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah layanan bukan hanya diukur dari canggihnya teknologi yang digunakan, melainkan dari bagaimana seluruh tim kesehatan bekerja bersama menghadirkan harapan baru bagi masyarakat. Di balik ruang Cath Lab, terdapat dokter, perawat, dan berbagai profesi kesehatan lain yang menjalankan perannya dengan tujuan yang sama yaitu membantu pasien mendapatkan kesempatan hidup yang lebih baik tanpa harus pergi jauh dari rumah.
Karena pada akhirnya, setiap inovasi pelayanan bukan hanya tentang menghadirkan teknologi baru, tetapi juga tentang membuka harapan baru bagi pasien dan keluarganya.









