Mediaperawat.id– Artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan menjadi salah satu bukti pesatnya perkembangan teknologi. AI memiliki kemampuan untuk melakukan tugas-tugas yang biasanya memerlukan kecerdasan manusia dengan menganalisis data yang ada di dalam sistem dan membuat suatu keputusan. Proses yang dilalui mulai dari learning, reasoning, dan self-correction yang mirip dengan proses manusia dalam memberikan keputusan.
Kehadiran AI telah menjangkau berbagai aspek kehidupan termasuk dunia keperawatan yang memberikan kemudahan dan membawa perubahan dalam praktik pelayanan kesehatan. AI membantu perawat bekerja lebih efisien sehingga pelayanan lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan dan keselamatan pasien. Simak ulasan selengkapnya dalam artikel ini.
Histori Perkembangan AI dalam Keperawatan
AI berkembang seiring dengan kemajuan teknologi di berbagai aspek kehidupan termasuk ke dalam praktik keperawatan. Berikut ini gambaran historis perkembangan AI dari tahun ke tahun.
Era 1950-an (Konsep Awal)
Masa ini ditandai dengan penggunaan komputer sebagai simulasi pemikiran kritis. Selanjutnya John McCarthy (Bapak Kecerdasan Buatan)” menyampaikan bahwa AI sebagai ilmu dan teknik pembuatan mesin cerdas.
Era 1950-an s.d. 1970-an (Awal AI Berkembang)
Fokus pertama AI adalah pengembangan mesin dengan kemampuan untuk membuat kesimpulan. Lengan robot industri pertama (Unimate) mampu mengikuti perintah untuk menangani benda berat dan melakukan tugas berulang.
Era 1970-an s.d. 2000-an (Musim Dingin AI)
Periode ini disebut sebagai ‘Musim Dingin AI’ karena adanya penurunan pendanaan dan minat pada AI sehingga lebih sedikit perkembangan yang terjadi. Mulai tahun 1980-an, Sistem pakar muncul untuk membantu pengambilan keputusan medis dengan meniru pengetahuan dan keterampilan pengambilan keputusan para ahli. Pada periode yang sama, aplikasi medis berbasis AI meluas seperti x-ray dan MRI untuk membantu ahli radiologi mendeteksi kelainan.
Era 2000-an s.d. 2020-an (Kemajuan dalam AI)
Kemunculan pembelajaran diawali pada tahun 2000-an yang meningkatkan kemampuan sistem AI untuk menganalisis kumpulan data besar. Periode ini tanda dimulainya integrasi AI ke dalam berbagai aplikasi perawatan kesehatan, termasuk analitik prediktif dan pengobatan personalisasi. Selain itu, Rekam Medis Elektronik (RME) muncul sebagai sistem manajemen rekam medis yang tersebar secara luas, data yang kaya dalam AI memungkinkan prediksi yang lebih akurat dan penyampaian perawatan kesehatan yang efisien.
Dukungan Keputusan Klinis yang dikembangkan pada awal tahun 2010-an meningkatkan kemampuan AI dalam proses dan penafsiran data medis yang kompleks, mengembangkan rencana perawatan yang dipersonalisasi, dan membantu penyedia layanan kesehatan dalam membuat keputusan klinis.
Dekade 2020-an – sekarang (AI Generatif dan Aplikasi AI Modern)
Ledakan AI Generatif (GenAI) seperti ChatGPT dan DALL-E 2pada awal tahun 2020-an merupakan era baru aplikasi nyata AI pada sistem perawatan kesehatan. Fokus utama dari potensi GenAI dalam pelayanan kesehatan saat ini yaitu penemuan obat, pengobatan personalisasi, dan, media edukasi pasien, dokumentasi, simulasi dan pelatihan, serta analitik prediktif.
Baca juga: Perkembangan Teknologi Metaverse di Dunia Keperawatan
Penerapan AI dalam Dunia Keperawatan
Peran AI memberikan kontribusi dalam manajemen pemberian asuhan keperawatan bagi pasien. Manfaatnya dapat dirasakan perawat dalam pengambilan keputusan klinis, pemantauan pasien, serta meningkatkan efisiensi pelayanan kesehatan. Berikut penjelasannya.
- Dokumentasi
AI membantu dalam sistem dokumentasi informasi pasien yang akurat dan memberikan efisiensi waktu dalam pekerjaan administrasi dan pencatatan sehingga perawat dapat lebih fokus dalam memberikan perawatan kepada pasien.
- Analisis Prediktif untuk Perawatan Pasien yang Akurat
AI dapat menganalisis data pasien untuk memprediksi potensi masalah kesehatan dengan algoritmanya sehingga meminimalisir kesalahan dalam pemberian obat, catatan pasien dan perawat dapat melakukan intervensi secara dini dan meningkatkan kualitas perawatan dan mencapai hasil yang diharapkan. Pengurangan kesalahan akan menghasilkan penghematan biaya yang menjadikan perawatan kesehatan lebih terjangkau.
- Dukungan Pengambilan Keputusan Klinis
Sistem dukungan pengambilan keputusan klinis berbasis AI sudah ditawarkan kepada rumah sakit. Teknologi ini membantu perawat dalam membuat keputusan yang tepat tentang perawatan pasien, diagnosis, dan rencana pengobatan.
- Asisten Perawat Virtual
Asisten virtual merupakan sistem berbasis AI yang dapat melakukan tugas rutin seperti memberikan jawaban dari pertanyaan yang diajukan pasien, menjadwalkan janji temu dan memberikan pengingat untuk pengobatan sehingga perawat dapat lebih fokus pada kebutuhan perawatan pasien secara komprehensif.
- Pemantauan Pasien Jarak Jauh
Perangkat ini diciptakan untuk memantau tanda-tanda vital dan memberikan pemberitahuan atau alarm atas perubahan-perubahan signifikan yang terjadi sehingga perawat dapat memberikan intervensi sesuai dengan kondisi pasien saat itu untuk pengelolaan kondisi yang lebih baik lagi. Biasanya sistem ini diperlukan di ruangan intensif dengan kondisi pasien yang kritis.
- Pemberian Obat
Sistem yang didukung AI menjadi pengingat dan pemeriksaan otomatis yang memungkinkan perawat dalam memberikan terapi yang akurat dan tepat waktu untuk mengurangi risiko kesalahan dan meningkatkan keselamatan pasien.
- Dukungan Diagnostik
AI yang diintegrasikan ke dalam layanan diagnostik dapat memberikan kepuyusan yang lebih cepat.
Penerapan AI dalam dunia keperawatan memberikan banyak manfaat untuk keberlangsungan perawatan pasien dan bagi perawat itu sendiri, Manfaat tersebut menghasilkan sistem perawatan yang efisien, efektif dan berpusat pada pasien. Selain itu, AI membantu dalam mengalokasi sumber daya pada implementasi jadwal staf dan pengelolaan alur pasien. Dalam dunia pendidikan, sistem AI berkontribusi pada proses pembelajaran dan peningkatan berkelanjutan karena dapat menganalisis data, mengidentifikasi pola dan tren dalam praktik keperawatan.
Bagaimana AI Mendukung Work Life Balance Perawat?
Perawat dianggap sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan dengan tuntutan kerja yang tinggi. Hal tersebut kerap menyebabkan kelelahan kerja (burn out) yang berdampak pada keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan peribadinya. Melalui otomatisasi tugas administratif seperti penjadwalan, pengelolaan data pasien, dan dokumentasi keperawatan, AI mampu mengurangi beban kerja non klinis yang selama ini menyita waktu dan energi perawat. Dengan demikian, perawat dapat lebih fokus pada peran utama dalam memberikan asuhan keperawatan.
Selain itu, pemanfaatan sistem analitik prediktif membantu fasilitas kesehatan untuk mengelola beban kerja secara lebih efektif. AI mampu memprediksi tingkat penerimaan pasien dan mengoptimalkan jadwal shift dengan mempertimbangkan kebutuhan layanan dan perawat yang diperlukan. Hal ini menciptakan pembagian kerja yang lebih adil, mengurangi stres akibat lonjakan pasien yang tak terduga, serta memberikan kesempatan bagi perawat untuk merencanakan kehidupan pribadi dengan lebih baik.
AI juga mendukung fleksibilitas kerja melalui penerapan telemedicine dan sistem pemantauan pasien jarak jauh. Teknologi ini mengurangi ketergantungan pada kehadiran fisik di fasilitas kesehatan dan memungkinkan perawat menjalankan sebagian tugas secara remote. Dengan demikian, perawat dapat menjaga keseimbangan profesionalismenya dengankehidupan pribadi, sekaligus tetap mempertahankan kualitas pelayanan keperawatan.
Apa yang Harus Perawat Waspadai dari AI dalam Pelayanan Kesehatan?
Penggunaan AI dalam keperawatan menghadirkan tantangan etika dan profesional yang perlu diwaspadai oleh perawat. Berikut ini hal-hal yang harus diwaspadai perawat dengan kehadiran AI dalam pelayanan kesehatan.
- Ketergantungan yang berlebihan pada AI
Penggunaan AI yang dominan dapat menurunkan kemampuan berpikir kritis dan penilaian klinis dalam pengambilan keputusan keperawatan,
- Risiko bias dan kesalahan algoritma
Walaupun sistem AI beroperasi menggunakan data yang tersedia, hal ini berpotensi mengandung bias atau menghasilkan rekomendasi yang tidak sesuai pada pasien dengan kondisi tertentu.
- Privasi dan keamanan data pasien
Penggunaan AI melibatkan pengolahan data kesehatan sangat besar yang meningkatkan risiko kebocoran data, penyalahgunaan informasi, dan pelanggaran kerahasiaan pasien.
- Ketidakjelasan tanggung jawab profesional (accountability)
Perawat harus berperan aktif dalam pengambilan keputusan klinis karena masih terdapat ketidakpastian mengenai pihak yang bertanggung jawab atas kesalahan akibat rekomendasi AI.
- Potensi ‘dehumanisasi’ pelayanan kesehatan
Interaksi terapeutik dan rasa empati yang merupakan nilai inti dalam praktik keperawatan dapat berkurang karena ketergantungan pada teknologi.
- Keterbatasan kompetensi dan literasi digital perawat
Kurangnya pelatihan dan pemahaman tentang AI dapat meningkatkan risiko kesalahan penggunaan serta menghambat pemanfaatan teknologi secara optimal.
Tantangan dan Masa Depan AI dalam Keperawatan
AI memiliki masa depan yang kuat dan menjanjikan karena terus perkembangannya yang signifikan. Akan tetapi, sebagian perawat memiliki kekhawatiran perannya akan tergeser alih oleh AI. Para ahli justru mengatakan bahwa kualitas unik yang ada dalam diri perawat seperti rasa empati, kasih sayang, komunikasi terapeutik, kolaborasi multidisiplin dan hubungan saling percaya dengan pasien tidak dapat tergantikan oleh AI.
AI selalu berdampingan bersama perawat dengan kemampuan yang akan semakin canggih. Integrasi AI dalam praktik keperawatan membuat pertimbangan etis dan regulasi akan terus menjadi prioritas terutama memastikan privasi pasien, dan keamanan data pasien. Perawat dapat membuat rencana perawatan yang sangat personal berdasarkan data pasien individu dengan bantuan AI. Hal ini sangat membantu perawat dalam memastikan setiap perawatan pasien sesuai dengan kebutuhan dan kondisi yang sedang dialami.
Selain itu, AI berperan dalam sistem rekam medis elektronik yang memberikan akses data pasien secara lengkap dan real time untuk meningkatkan pengambilan keputusan klinis dan perawatan yang terkoordinasi. Peran AI lainnya akan dirasakan pada bidang pendidikan dan pelatihan keperawatan. Penggunaannya dalam simulasi virtual dan berbagai platform pembelajaran menciptakan pengalaman langsung dan berpeluang dalam pengembangan profesional berkelanjutan bagi mahasiswa keperawatan dan perawat.
Berdasarkan penjelasan di atas, keberadaan AI sangat bermanfaat untuk mendukung pekerjaan perawat dan meningkatkan Work Life Balance perawat. Akan tetapi, AI tidak dapat menggantikan fungsi klinis perawat sehingga perlu adanya pembatasan penggunaan AI. Perawat tetap dituntut untuk memiliki kemampuan berpikir kritis dan pengambilan keputusan yang tepat sesuai dengan kondisi pasien, mengingat fungsi utama adalah pelayanan yang berpusat pada pasien.
Ikuti dan pantau terus Media Perawat indonesia untuk mendapatkan informasi terkini seputar keperawatan dan kesehatan lainnya.
Referensi
Bodur, G., Cakir, H., Turan, S., Seren, A. K. H., & Goktas, P. (2025). Artificial intelligence in nursing practice: a qualitative study of nurses’ perspectives on opportunities, challenges, and ethical implications. BMC nursing, 24(1), 1263. DOI: https://doi.org/10.1186/s12912-025-03775-6
Childers, L. (2024). Revolutionizing healthcare: The role of AI in nursing practice. Nurse.com. Diakses pada 24 Januari 2026 dari https://www.nurse.com/blog/revolutionizing-healthcare-ai-in-nursing-practice-nsp/
College of Nurses of Ontario. (n.d.). Artificial intelligence in nursing practice. Diakses pada 24 Januari 2026 dari https://www.cno.org/standards-learning/educational-tools/artificial-intelligence-in-nursing-practice#the-impact-of-ai-competency
Pancho, R. (2024). The role of AI in modern nursing practice. Australian College of Nursing. Diakses pada 24 Januari 2026 dari https://www.acn.edu.au/nurseclick/the-role-of-ai-in-modern-nursing-practice
Rony, M. K. K., Alrazeeni, D. M., Akter, F., Nesa, L., Das, D. C., Uddin, M. J., Begum, J., Tanha, S. M., Deb, T. R., & Parvin, M. R. (2024). The role of artificial intelligence in enhancing nurses’ work-life balance. Journal of Medicine, Surgery, and Public Health, Article 100135. DOI: https://doi.org/10.1016/j.glmedi.2024.100135









