banner 728x250

Penerapan ROM ( Range Of Motion ) Untuk Pasien Stroke

Foto : https://lifestyle.kompas.com

Mediperawat.id – Stroke adalah gangguan fungsional otak yang terjadi secara mendadak dengan tanda klinis fokal atau global yang berlangsung lebih dari 24 jam tanpa tanda-tanda penyebab non vaskuler, termasuk didalamnya tanda-tanda perdarahan subarakhnoid, perdarahan intraserebral, iskemik atau infark serebri (Mutiarasari, 2019).

Stroke adalah penyakit yang diakibatkan oleh terganggunya aliran darah pada otak. Stroke dapat dibagi menjadi stroke perdarahan (hemoraghic) dan stroke non perdarahan atau yang biasa dikenal dengan tipe sumbatan (ischemic). Stroke non perdarahan atau stroke iskemik adalah gangguan peredaran darah pada otak yang dapat berupa penyumbatan pembuluh darah arteri sehingga menimbulkan infark (kematian jaringan). Umumnya terjadi pada saat penderita istirahat. Tidak terjadi perdarahan dan kesadaran umumnya baik (Yayasan Stroke Indonesia, 2006).

Tanda Dan Gejala Stroke

  • Kelumpuhan di satu sampai keempat ekstremitas.
  • Gangguan dalam koordinasi gerakan tubuh
  • Ketidakmampuan untuk menelan (Disfagia)
  • Gangguan motoris pada lidah, mulut, rahang dan pita suara sehingga pasien sulit bicara (Disartria).
  • Kehilangan kesadaran sepintas (Sinkop), penurunan kesadaran secara lengkap (Strupor), koma, pusing, gangguan daya ingat, kehilangan daya ingat terhadap lingkungan (Disorientasi).
  • Gangguan pendengaran.
  • Rasa kaku di wajah, mulut atau lidah

Pelatihan ROM (Range Of Motion )

Pengertian ROM

Menurut Craven and Himle, (dalam Marlina, (2011)) Range of motion atau rentang gerak adalah gerakan-gerakan sendi dalam kisaran maksimum dimana setiap sendi pada tubuh dapat melakukannya dalam kondisi normal. Latihan ROM dilakuan secepat mungkin ketika pasien stroke berada dalam kondisi stabil. Latihan ini direncanakan secara individual untuk mengakomodasi keragaman yang luas dalam tigkat gerakan yang dapat dicapai oleh berbagai kelompok usia, menurut (dalam Smeltzer and Bare, (2011).Pelatihan ROM (Range of Motion) adalah latihan gerak sendi yang memungkinkan terjadinya kontraksi dan pergerakan otot, dimana klien menggerakan masing-masing persendiannya sesuai gerakan normal baik secara aktif ataupun pasif. (Potter and Perry, 2005).

Baca juga : Laporan Pendahuluan Keperawatan Kritis : Stroke Haemoragik

Foto : https://mentflexxinc.blogspot.com/

Tujuan ROM

1. Meningkatkan Kekuatan Otot 2. Mempertahankan Fleksibilitas Otot 3. Mencegah Kekakuan Sendi 4. Melancarkan Sirkulasi Darah 5. Mencegah Kelainan bentuk, Kontraktur dan Kelumpuhan.

Manfaat ROM :

  • Menilai Kemampuan Otot dan Sendi
  • Mencegah Kekakuan Sendi
  • Memperlancar Sirkulasi Darah
  • Meningkatkan Kekuatan Otot
  • Meningkatkan Mobilitas Sendi

Apa saja sih jenis – jenis ROM ?

  • Latihan ROM aktif : Latihan dengan meminta klien menggunakan otot untuk melakukan gerak mandiri.
  • Latihan ROM aktif dengan pendampingan (active-assisted) : Latihan gerak mandiri dengan dibantu atau didampingi oleh perawat atau tenaga kesehatan lain.
  • Latihan ROM pasif
  • Latihan ROM yang dilakukan oleh perawat atau tenaga kesehatan lain kepada klien yang tidak mampu atau memiliki keterbatasan pergerakan.

Kapan waktu dilaksanakan ROM

  • Idealnya sekali dalam sehari
  • Latihan masing-masing dilakukan +-10 hitungan
  • Mulai latihan pelan dan bertahap.
  • Usahakan sampai gerakan penuh, tapi jangan memaksakan gerakan klien, tetap sesuaikan dengan batas toleransi gerakan pasien
  • Perhatikan respon pasien, Hentikan bila terasa respon nyeri dan segera konsultasikan ke tenaga kesehatan.

Syarat – syarat melakukan latihan ROM
      Indikasi

  • Stroke atau penurunan tingkat kesadaran
  • Kelemahan otot
  • Fase rehabilitasi fisik
  • Klien dengan tirah baring lama
  • Penting untuk mempertahankan normal sendi dan jaringan lunak.

      Kontra Indikasi

  • Klien dengan gangguan pada sistem kardiovaskuler dan sistem pernapasan
  • Pembengkakan dan peradangan pada sendi
  • Cedera di sekitar sendi.

Bagaimana cara melakukan gerakan ROM ?

  1. Kepala

Gerakan leher :

Foto : https://www.bhaktirahayu.com
  1. Fleksi : arahkan dagu ke sternum, upayakan untuk menyentuh sternum (ROM 45 derajat).
    • Extensi : posisikan kepala pada posisi semula atau netral (ROM 45 derajat).
    • Hiperextensi : gerakan kepala kea rah belakang atau menengadah sejauh mungkin (ROM 10 derajat).
    • Fleksi lateral : gerakan kepala kea rah bahu, lakukan sesuai kemampuan (ROM 40-45 derajat).
    • Rotasi : pertahankan wajah kea rah depan lalu lakukan gerakan kepala memutar membentuk gerakan melingkar (ROM 360 derajat).
  2. Tangan

Gerakan bahu :

Foto : https://www.bhaktirahayu.com
  1. Fleksi : letakkan kedua lengan pada sisi tubuh, perlahan angkat lengan ke arah depan mengarah ke atas kepala, lakukan sesuai batas kemampuan (ROM 180 derajat).
    • Extensi : gerakan lengan kembali mengarah kesisi tubuh (ROM 180 derajat).
    • Hiperextensi : pertahankan lengan pada sisi tubuh dengan lurus, lalu perlahan gerakan lengan ke arah belakang tubuh (ROM 45-60 derajat).
    • Abduksi : angkat lengan lurus kearah sisi tubuh hingga berada di atas kepala dengan mengupayakan punggung tangan mengarah ke kepala dan telapak tangan ke arah luar (ROM 180 derajat).
    • Adduksi : turunkan kembali lengan mengarah pada tubuh dan upayakan lengan menyilang di depan tubuh semampu klien.
    • Rotasi internal : lakukan fleksi pada siku 45 derajat, upayakan bahu lurus dan tangan mengarah ke atas, lalu gerakkan lengan kea rah bawah sambil mempertahankan siku tetap fleksi dan bahu tetap lurus.
    • Rotasi external: dengan siku yang dalam keadaan fleksi, gerakkan kembali lengan ke arah atas hingga jari-jari menghadap ke atas (ROM 90 derajat).
    • Sirkumduksi : luruskan lengan pada sisi tubuh, perlahan lakukan gerakan memutar pada sendi bahu (ROM 360 derajat).
  • Gerakan siku :
Foto : https://www.bhaktirahayu.com
  1. Fleksi : angkat lengan sejajar bahu. Arahkan lengan ke depan tubuh dengan lurus,posisi telapak tangan menghadap ke atas, perlahan gerakkan lengan bawah mendekati bahu dengan membengkokkan pada siku dan upayakan menyentuh pada bahu (ROM 150 derajat).
  2. Extensi : gerakkan kembali lengan hingga membentuk posisi lurus dan tidak bengkok pada siku (ROM 150 derajat).
  3. Gerakan lengan :
  4. Supinasi : rendahkan posisi lengan, posisikan telapak tangan mengarah keatas (ROM 70-90 derajat).
  5. Pronasi : gerakkan lengan bawah hingga telapak tangan menghadap keatas (ROM 70-90 derajat).
  • Gerakan pergelangan tangan :
    • Fleksi : luruskan tangan hingga jari-jari menghadap kedepan, perlahan gerakkan pergelangan tangan hingga jari-jari mengarah ke bawah (ROM 80-90 derajat).
    • Extensi : lakukan gerakan yang membentuk kondisi lurus pada jari-jari, tangan dan lengan bawah (ROM 80-90 derjat)
    • Hiperektensi : gerakkan pergelangan tangan, hingga jari-jari mengarah kearah atas. Lakukan sesuai kemampuan.
    • Abduksi : gerakan pergelangan tangan dengan gerakan kearah ibu jari (ROM 30 derajat).
    • Adduksi : gerakkan pergelangan tangan secara lateral dengan gerakan kearah jari kelingking (ROM 30-50 derajat).
  • Gerakan jari tangan :
    • Fleksi : lakukan gerakkan mengepal (ROM 90 derajat).
    • Extensi : luruskan jari-jari (ROM 90 derajat).
    • Hiperextensi : bengkokkan jari- jari kearah belakang sejauh mungkin (ROM 30-60 derajat).
    • Abduksi : renggangkan seluruh jari-jari hingga ke 5 jari bergerak saling menjauhi
    • Adduksi : gerakkan kembali jari-jari hingga ke 5 jari saling berdekatan
  • Gerakan pinggul :
    • Fleksi : arahkan kaki kedepan dan angkat tungkai perlahan pada posisi lurus, (ROM 90-120 derajat).
    • Extensi : turunkan kembali tungkai hingga berada pada posisi sejajar dengan kaki yang lainnya (ROM 90-120 derajat).
    • Hiperextensi : luruskan tungkai, perlahan gerakan tungkai kearah belakang menjauhi tubuh (ROM 30-50 derajat).
    • Abduksi : arahkan tungkai dengan lurus menjauhi sisi tubuh kearah samping (ROM 30-50 derajat).
    • Adduksi : arahkan tungkai dengan lurus mendekati sisi tubuh, lakukan hingga kaki dapat menyilang pada kaki yang lain (ROM 30-50 derajat).
    • Rotasi internal : posisikan kaki denga jari-jari menghadap kedepan, perlahan gerakkan tungkai berputar kearah dalam (ROM 90 derajat).
    • Rotasi eksternal : arahkan kembali tungkai ke posisi semula yaitu posisi jari kaki menghadap kedepan (ROM 90 derajat).
    • Sikumduksi : gerakan tungkai dengan melingkar (ROM 360 derajat).
  • Gerakan lutut :
    • Fleksi : bengkokkan lutut, dengan mengarahkan tumit hingga dapat menyentuh paha bagian belakang (ROM 120-130 derajat).
    • Extensi : arahkan kembali lutut hingga telapak kaki menyentuh lantai (ROM 120-130 derajat).
  • Gerakan pergelangan kaki :
    • Dorsifleksi : gerakan pergelangan kaki hingga jari kaki mengarah keatas, lakukan sesuai kemampuan (ROM 20-30 derajat).
    • Platarfleksi : gerakan pergelangan kaki hingga jari-jari mengarah kebawah (ROM 20-30 derajat).
  • Gerakan kaki :
  • Inversi : lakukan gerakan memutar pada kaki, arahkan telapak kaki kearah medial (ROM 10 derajat).
  • Eversi : lakukan gerakan memutar pada kaki, arahkan telapak kaki kearah lateral (ROM 10 derajat).
  • Fleksi : arahkan jari-jari kaki ke bawah (ROM 30-60 derajat).
  • Extensi : luruskan kembali jari-jari kaki (ROM 30-60 derajat).
  • Abduksi : regangkan jari-jari kaki hingga jari-jari saling menjauhi (ROM 15 derajat).
  • Adduksi : satukan kembali jari-jari kaki hingga jari-jari saling merapat (ROM 15 derajat).

Peran Keluarga Dalam Penerapan ROM

Stroke dapat menyisihkan kelumpuhan, terutama pada sisi yang terkena, timbul nyeri, sublukasi pada bahu, pola jalan yang salah dan masih banyak kondisi yang perlu dievaluasi oleh perawat. Perawat mengajarkan cara mengoptimalkan anggota tubuh sisi yang terkena stroke melalui suatu aktivitas yang sederhana dan mudah dipahami pasien dan keluarga Menurut Smeltzer and Bare,(dalam dalam Budi, Hendri dan Agonwardi, (2016).

Keluarga sangat berperan penting dalam proses pemulihan dan pengoptimalkan kemampuan motorik pasien pasca stroke. Keluarga merupakan sistem pendukung utama memberikan pelayanan langsung pada setiap keadaan (sehat-sakit) anggota keluarga. Oleh karena itu, pelayanan keperawatan yang berfokuspada keluarga bukan hanya pemulihan keadaan pasien, tetapi juga bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan dalam keluarga tersebut.

Menurut Suratun (dalam Budi, Hendri dan Agonwardi, (2016)) latihan ROM adalah latihan yang dilakukan pasien pasca stroke dan keluarga. Oleh karena itu, sebagai pendidik, perawat perlu membantu kemandiriaan keluarga dalam membantu rehabilitasi awal pasien stroke berupa latihan ROM pasif sebagai upaya keluarga untuk meningkatkan kemampuan mengatasi masalah kesehatan keluarga dan berperan dalam meningkatkan kesehatan keluarga yang nantinya dapat digunakan oleh keluarga di rumah setelah pasien pulang dari rumah sakit.

Daftar Referensi :

Smeltzer S dan Bare B. 2011 . Buku ajar keperawatan Medikal Bedah Brunner &

Suddarth edisi 8. Volume 2. Jakarta: penerbit Buku Kedokteran Indonesia .EGC.

Mutiarasari D. (2019). Ischemic Stroke: Symptomps, Risk Factors, and

Prevention. Medika Tadulako, Jurnal Ilmiah Kedokteran. Vol. 6, No.1. p. 61.

Potter & Perry. 2005, Buku Ajar Fundamental Keperawatan :Konsep, Proses, dan Praktik Volume 2, Edisi 4, Jakarta: EGC

Craven & Hirnle. 2000. Fundamentals of Nursing. Philadelphia: Lippincott.

Budi, Hendri dan Agonwardi. (2016). Pengaruh Pendidikan Kesehatan Latihan

Range Of Motion (ROM) Terhadap Keterampilan Keluarga Melakukan

ROM Pasien Stroke. Dikutip dari ejournal.kopertis10.or.id pada tanggal 22 Januari 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *