banner 728x250

Waspada Campak! Kenali Gejala dan Cara Pencegahannya

Gejala dan Cara Pencegahan Campak

Mediaperawat.id – Campak kembali menjadi perhatian di Indonesia karena kasusnya semakin meningkat. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko penularan, khususnya pada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi secara lengkap. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami lebih jauh mengenai campak, mulai dari gejala, penyebab, hingga langkah pengobatan dan pencegahannya. Simak ulasan lengkapnya dalam artikel berikut.

Kasus Campak di Indonesia

Kasus campak di Indonesia kembali menjadi perhatian khusus menjelang mudik dan libur lebaran. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat terdapat 10.453 suspek campak, dengan 8.372 kasus dan 6 kematian hingga minggu ke-8 tahun 2026. Selain itu, terjadi 45 kejadian luar biasa (KLB) di 29 kabupaten/kota pada 11 provinsi. Hal ini dapat terjadi karena adanya peningkatan mobilitas masyarakat dan potensi kerumunan yang dinilai dapat memperkuat risiko penularan.

Menurut Plt. Dirjen Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Andi Saguni, tren ini sempat meningkat pada Januari 2026 namun mulai melandai pada Februari. Namun demikian, masyarakat tetap harus waspada dengan melakukan imunisasi lengkap pada anak, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat untuk mencegah penularan yang lebih luas.

Penyebab Campak

Campak merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus. Penyebarannya melalui udara (droplet) ketika seseorang batuk atau bersin. Sekitar 90% orang yang kekebalan tubuhnya menurun dapat terpapar virus dari penderita. Virus ini dapat bertahan di udara atau permukaan benda hingga dua jam. Seseorang dapat tertular campak jika menghirup udara yang terkontaminasi atau menyentuh mata, hidung, atau mulut setelah menyentuh permukaan yang terinfeksi. Virus campak hanya ditularkan oleh manusia, bukan oleh hewan. Risiko tertular campak semakin tinggi apabila seseorang belum divaksinasi, sudah divaksin tetapi tidak membentuk kekebalan, atau bepergian ke negara berkembang dengan tingkat vaksinasi campak yang rendah.

Salah satu penyebab utama dari peningkatan kasus campak beberapa tahun terakhir yaitu penurunan cakupan vaksinasi MMR (measles, mumps, rubella). Hal ini terkait dengan keraguan terhadap vaksin dan adanya misinformasi. Padahal, kekebalan kelompok (herd immunity) dapat dijaga dengan vaksinasi pada sekitar 95% populasi, sementara tingkat vaksinasi saat ini di beberapa tempat sudah turun di bawah angka tersebut. Selain itu, virus ini juga bisa ditularkan secara vertikal, yaitu ketika ibu hamil menularkannya kepada janin selama kehamilan, saat persalinan, atau melalui menyusui. Ibu hamil yang terinfeksi campak dapat berbahaya bagi ibu dan berisiko menyebabkan bayi lahir prematur dengan berat badan lahir rendah (BBLR).

Gejala Campak

Campak biasanya ditandai dengan gejala awal pada 7-14 hari setelah seseorang terpapar virus. Tahap awal ditandai dengan gejala mirip flu seperti:

  1. Demam tinggi
  2. Batuk
  3. Sakit tenggorokan
  4. Pilek
  5. Mata merah dan berair

WHO menyebutkan gejala campak biasanya mulai muncul 10–14 hari setelah terpapar virus dan ruam pada kulit adalah gejala yang paling terlihat.

Umumnya, kematian akibat campak disebabkan oleh komplikasi yang terkait dengan penyakit tersebut. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi yaitu kebutaan, ensefalitis (infeksi yang menyebabkan pembengkakan otak dan berpotensi menimbulkan kerusakan otak), diare berat dan dehidrasi, infeksi telinga dan gangguan pernapasan berat, termasuk pneumonia.

Fase Campak

Gejala awal campak biasanya muncul setelah 7-14 terpapar virus. Penderita akan mengalami demam tinggi, batuk, sakit tenggorokan, pilek, mata merah dan berair. Sekitar 2–3 hari setelah gejala awal akan muncul bercak yang disebut koplik berupa bintik-bintik putih kecil di dalam mulut sebagai tanda khas campak. Lalu, 3–5 hari setelah gejala awal muncul ruam campak yang dimulai dari wajah di sekitar garis rambut, menyebar ke leher, dada, lengan, hingga kaki. Ruam ini berupa bercak merah yang dapat menyatu menjadi area kemerahan yang lebih luas. Saat ruam muncul, demam biasanya meningkat dan dapat mencapai lebih dari 40°C. Ruam biasanya berlangsung sekitar 5–6 hari, kemudian mulai memudar secara bertahap. Setelah itu, gejala seperti demam dan batuk juga perlahan membaik, dan penderita mulai pulih. 

Cara Pengobatan dan Pencegahan Campak

Pengobatan Campak

Pilihan pengobatan untuk campak sampai saat ini tidak ada obat antivirus khusus untuk menyembuhkan. Pada banyak kasus, campak tidak memerlukan pengobatan secara khusus karena biasanya gejalanya masih tergolong ringan.

Perawatan di Rumah (Home Care)

Adapun perawatan yang bisa dilakukan dirumah yaitu dengan perawatan suportif dengan langkah-langkah untuk meredakan gejalanya yaitu:

  1. Konsumsi obat pereda nyeri dan penurun demam yang dijual bebas, seperti acetaminophen (Tylenol) atau ibuprofen (Advil). Aspirin tidak boleh diberikan kepada anak yang mengalami penyakit virus karena dapat menyebabkan sindrom reye (kondisi yang dapat merusak otak dan hati).
  2. Perbanyak minum cairan untuk mencegah dehidrasi.
  3. Istirahat yang cukup agar tubuh dapat melawan infeksi.

Pendekatan Pelengkap dan Integratif (Complementary and Integrative Approaches)

Vitamin A dapat diberikan dengan dosis tinggi pada bayi dan anak-anak. Akan tetapi, pemberiannya harus berdasarkan anjuran dokter karena dosis berlebihan dapat menimbulkan efek samping serius, termasuk kerusakan hati. Selain itu, budesonide inhalasi (jenis obat steroid) tidak digunakan untuk menyembuhkan campak, karena obat ini merupakan obat asma yang dapat mengganggu respons alami sistem imun terhadap virus. Clarithromycin (antibiotik)  tidak dapat menyembuhkan campak karena penyakit ini disebabkan oleh virus, sehingga antibiotik tidak efektif untuk mengobatinya.

Pencegahan Campak

Vaksinasi merupakan kunci utama pencegahan campak. Tingkat imunisasi yang tinggi di masyarakat sangat penting untuk mencegah penyebaran campak karena penyakit ini sangat mudah menular. Campak dapat dicegah dengan vaksin MMR (measles, mumps, rubella). Penelitian menunjukkan risiko kejang demam setelah vaksin sekitar 4 dari 10.000 kasus, yang jauh lebih rendah dibandingkan risiko komplikasi akibat infeksi campak itu sendiri. Beberapa orang dewasa mungkin memerlukan vaksin booster karena peningkatan kasus campak. Orang yang memiliki risiko lebih tinggi terpapar campak, seperti tenaga kesehatan, guru, atau pekerja di tempat penitipan anak, disarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mempertimbangkan pemberian booster.

Vaksinasi Campak

Cakupan imunisasi dasar sangat penting untuk melindungi anak anak indonesia dari berbagai penyakit yang dapat dicegah melalui Imunisasi. Kejadian Luar Biasa (KLB) campak dan Polio yang terjadi berturut-turut terjadi menjadi perhatian khusus pemerintah dan masyarakat untuk mencapai imunisasi atau vaksin yang lengkap. Pemberian vaksin campak termasuk ke dalam imunisasi dasar pada bayi. Di Indonesia, imunisasi campak diberikan pada bayi sebanyak dua kali yaitu usia 9 bulan dan 18 bulan. Lalu, diberikan kembali untuk anak kelas 1 SD/sederajat pada Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).

Campak merupakan penyakit yang sangat menular. Namun, dapat dicegah dengan langkah yang tepat, terutama melalui imunisasi yang lengkap dan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat. Peran pemerintah, tenaga kesehatan, orang tua dan masyarakat sangat penting dalam meningkatkan pemberian vaksinasi campak untuk menekan penyebarannya. Dengan kesadaran bersama dan upaya pencegahan yang konsisten, diharapkan kasus campak dapat ditekan sehingga kesehatan anak-anak Indonesia tetap terjaga.

Ikuti dan pantau terus Media Perawat indonesia untuk mendapatkan informasi terkini seputar keperawatan dan kesehatan lainnya.

Referensi

Everyday Health. (2026). What Is Measles?. Diakses pada tanggal 10 Maret 2026 dari https://www.everydayhealth.com/measles/guide/

Healthline. (2025). What Does Measles Look and Feel Like?. Diakses pada tanggal 10 Maret 2026 darihttps://www.healthline.com/health/rubeola-measles-pictures

Healthline. (2024). Measles: Everything You Need to Know. Diakses pada tanggal 10 Maret 2026 dari https://www.healthline.com/health/measles

HealthCentral. (2025). The Current Measles Outbreak, Chronic Disease, and You. Diakses pada tanggal 10 Maret 2026 dari https://www.healthcentral.com/news/infectious-diseases/the-current-measles-outbreak-chronic-disease-and-you

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Waspada Campak Jelang Libur Lebaran, Kemenkes Percepat Imunisasi Anak di Wilayah Risiko. Diakses pada tanggal 10 Maret 2026 dari https://kemkes.go.id/eng/waspada-campak-jelang-libur-lebaran-kemenkes-percepat-imunisasi-anak-di-wilayah-risiko

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Suntikan Imunisasi Ganda untuk Cegah Campak. Diakses pada tanggal 10 Maret 2026 darihttps://kemkes.go.id/id/suntikan-imunisasi-ganda-untuk-cegah-campak

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Materi – Poster Jadwal Imunisasi Dasar. Diakses pada tanggal 10 Maret 2026 dari https://ayosehat.kemkes.go.id/materi—poster-jadwal-imunisasi-dasar

World Health Organization. (2025). Measles. Diakses pada tanggal 10 Maret 2026 dari https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/measles

Admin: puspamadyaWriter: Puspa Madya NurhudaEditor: Dadan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *