Mediaperawat.id – Banyak orang terbiasa untuk mengorbankan waktu tidur demi suatu pekerjaan, perjalanan dan aktivitas lainnya. Kebiasaan tersebut dapat menimbulkan kondisi berbahaya yang disebut microsleep, yaitu episode tidur yang terjadi hanya dalam hitungan detik saja.
Meski singkat, microsleep dapat mengakibatkan risiko serius terutama ketika seseorang melakukan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi penuh. Kondisi ini sering kali dianggap sepele, padahal dampaknya dapat berujung pada kecelakaan dan membahayakan keselamatan diri sendiri maupun orang lain. Simak ulasan selengkapnya dalam artikel ini.
Apa Itu Microsleep?
Apakah Anda familiar dengan istilah microsleep? Istilah ini cukup umum dan berbahaya jika terjadi saat Anda berkendara. Microsleep adalah kondisi ketika tertidur yang umumnya berlangsung selama 15 detik atau kurang. Kejadiannya sangat cepat sehingga orang yang mengalaminya mungkin tidak menyadari bahwa mereka telah tertidur.
Microsleep dapat terjadi kapan saja, bukan hanya di malam hari. Selama episode tersebut, orang yang mengalaminya mungkin tampak terjaga, ditandai dengan menutup mata sebentar dan bahkan membuka mata, tetapi otak tidak dapat memproses informasi.
Pemindaian otak yang dilakukan menggunakan pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI) pada seseorang yang mengalami microsleep menunjukkan adanya aktivitas otak yang berbeda daripada tidur biasa. Selama microsleep, sebagian besar otak yang dinonaktifkan selama tidur tetap aktif.
Otak memiliki reaksi terhadap suara selama microsleep, tetapi pola reaksinya berbeda dengan seseorang yang terjaga. Misalnya, selama microsleep, otak tampak tidak membedakan antara suara dengan nada yang berbeda.
Penyebab Microsleep yang Paling Umum Terjadi
Microsleep biasanya terjadi karena rasa kantuk dan kurang tidur atau adanya gangguan tidur. Akan tetapi, orang yang sudah cukup istirahat pun dapat mengalami microsleep, misalnya saat melakukan sesuatu yang berulang atau membosankan.
Berikut ini beberapa faktor yang menyebabkan microsleep.
Kurang Tidur
Tidur kurang dari 7 jam sehari dapat meningkatkan risiko microsleep karena talamus (sistem pergerakan dan sensorik otak) mungkin mengalami disfungsi sementara yang membuat serangan kantuk dan tidur tanpa disengaja. Risiko jangka pangjangnya dapat menyebabkan penambahan berat badan, depresi, stroke iskemik, dan penurunan kemampuan belajar.
Gangguan Ritme Tidur Sirkadian
Tidur terlalu malam dan bangun larut pagi memiliki efek negatif pada tubuh seperti adanya perubahan hormonal, merasa lemah, kurang tidur. Misalnya, tidur jam 4 pagi dan bangun siang tidak sesehat tidur jam 10 malam dan bangun jam 6 pagi.
Sindrom Fase Tidur Tertunda
Hal ini akan menyebabkan otak menjadi disorientasi dan memburuk. Biasanya, otak kita dapat mengingat waktu tidur dan membuat kita merasa mengantuk tepat waktu. Mengubah waktu tidur berulang kali akan membuat kesulitan untuk tertidur sehingga tidur lebih sedikit dan tidak cukup. Contohnya, pada akhir pekan tidur setelah pukul 2 pagi dan bangun pukul 9 pagi; sedangkan pada hari kerja biasanya tidur pukul 10 malam dan bangun pukul 5 pagi.
Faktor keturunan
Terdapat orang yang termasuk ke dalam kelompok “tidur lama” yang membutuhkan 10 jam tidur untuk mendapatkan energi, di sisi lain ada yang termasuk dalam kelompok “tidur singkat” yang hanya membutuhkan 4-5 jam.
Tanda-Tanda Seseorang Mengalami Microsleep
Salah satu gejala microsleep yang paling umum adalah menutup mata sebagian atau seluruhnya (microsleep juga dapat terjadi dengan mata terbuka). Gejala umum lainnya yaitu kepala yang mengangguk. Orang yang mengalami microsleep tidak selalu menyadari bahwa mereka sempat tertidur.
Selama episode microsleep, respons terhadap rangsangan eksternal, seperti suara atau isyarat visual akan berkurang. Peneliti menemukan bahwa orang cenderung menggerakkan mata lebih lambat pada saat-saat menjelang microsleep. Namun, hal itu atau bahkan kelopak mata terkulai mungkin tidak disadari. Pelebaran pupil adalah faktor lain yang dapat mengindikasikan tidur singkat (microsleep).
Berikut ini beberapa gejala yang memungkinkan berisiko terjadi microsleep:
- Merasa lemas setelah bangun tidur dan ingin lebih banyak tidur.
- Merasa sangat lelah sepanjang hari.
- Pusing
- Penglihatan kabur
- Kesulitan membuka mata
- Tidak memperhatikan lampu lalu lintas.
- Kesulitan berkonsentrasi saat beraktivitas terutama mengemudi, yang mengakibatkan kontrol navigasi yang buruk.
- Tertidur tanpa sadar saat tidak aktif.
- Kelelahan, rasa capek, gelisah.
Bahaya Microsleep dalam Kehidupan Sehari-hari
Microsleep menjadi ancaman serius karena dapat menurunkan kesadaran. Kondisi ini menjadi berbahaya jika terjadi saat mengemudikan kendaraan atau melakukan aktivitas berat lainnya. Saat berkendara, microsleep dapat menyebabkan kecelakaan atau membuat mobil keluar dari jalur.
Selain itu, microsleep sangat berbahaya bagi seseorang yang memiliki profesi sangat penting untuk keselamatan, seperti pilot, perawatan kesehatan, dan pengoperasian alat berat. Kelengahan beberapa detik dapat mengakibat nyaris celaka dan insiden yang tidak diharapkan.
Cara Mencegah dan Mengurangi Risiko Microsleep
Microsleep dapat dicegah dengan memprioritaskan tidur dan memastikan kebutuhan tidur tercukupi agar merasa segar dan waspada. National Sleep Foundation merekomendasikan 7-9 jam tidur setiap malam untuk orang dewasa, dan lebih banyak lagi untuk remaja.
Berikut ini beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membantu untuk lebih mudah tertidur di malam hari.
- Tidur Cukup
Jumlah jam tidur yang disarankan untuk kualitas tidur yang baik adalah 7-8 jam per hari. Terutama jika harus mengemudi jarak jauh harus cukup istirahat selama 2-3 malam berturut-turut sebelum berangkat.
- Tidur Tepat Waktu
Waktu tidur yang disarankan adalah sekitar pukul 22.00 untuk memungkinkan hormon pertumbuhan secara memadai meningkatkan fungsi tubuh.
- Jaga Jadwal Tidur yang Teratur
Tidur dan bangun dengan jadwal yang sama setiap hari akan membantu untuk memperoleh tidur yang cukup.
- Hindari Minuman dengan Kandungan Kafein
Hindari minuman yang mengandung kafein seperti kopi, teh atau cokelat setelah pukul 16.00 karena akan membuat tetap terjaga atau hanya memungkinkan tidur ringan sehingga menyebabkan bangun tanpa merasa segar.
- Pilih Cahaya Oranye Hangat
Cahaya warna hangat baik karena cahaya tersebut menenangkan dan membantu tidur lebih nyenyak.
- Matikan Perangkat Elektronik Satu Jam Sebelum Tidur
Cahaya biru (blue light) pada layar akan menghambat hormon melatonin (penyebab kantuk) yang membuat otak tetap aktif dan dapat memicu kecemasan dari konten media sosial.
Microsleep merupakan kondisi berbahaya yang berpotensi mengakibatkan kematian. Jagalah kualitas tidur untuk membantu mencegah kecelakaan yang disebabkan oleh microsleep. Akan tetapi, jika tidur cukup telah dilakukan dan masih merasa lesu dan tidak segar, pertimbangkanlah untuk tes tidur yang dilakukan oleh tim profesional medis untuk menilai tidur secara menyeluruh.
Ikuti dan pantau terus Media Perawat indonesia untuk mendapatkan informasi terkini seputar keperawatan dan kesehatan lainnya.
Referensi
Bangkok International Hospital. (2025). Microsleep Can Be Dangerous If You’re Not Careful. Diakses pada tanggal 26 Maret 2026 dari https://www.bangkokhospital.com/en/bangkok-bone-brain/content/be-careful-microsleep
Global Innervation. (n.d.). Microsleep: The Hidden Danger of Sleep Deprivation. Diakses pada tanggal 26 Maret 2026 dari https://www.globalinnervation.com/blog/microsleep
National Sleep Foundation. (2021). What is microsleep?. Diakses pada tanggal 26 Maret 2026 dari https://www.thensf.org/what-is-microsleep/
Summer, J. V. (2025). Microsleep: Symptoms, causes, and safety risks. Sleep Foundation. Diakses pada tanggal 26 Maret 2026 dari https://www.sleepfoundation.org/how-sleep-works/microsleep









