banner 728x250

Bijak Bermedia Sosial, Pentingnya Menjaga Etika dan Kepercayaan terhadap Profesi Tenaga Kesehatan

Bijak Bermedia Sosial

Mediaperawat.id – Beberapa hari terakhir, publik menyoroti sejumlah komentar yang diduga berasal dari tenaga kesehatan pada utas yang dibuat oleh pemilik akun @yurizaltrich di Threads. Pada 22 Juli 2026, akun tersebut mengunggah bahwa dirinya berada di IGD sebuah rumah sakit dan belum mendapatkan ruang perawatan setelah menunggu selama delapan jam.

Setelah beredar kabar bahwa pemilik akun tersebut meninggal dunia pada 31 Juli 2026, perhatian publik kembali tertuju pada komentar-komentar di unggahan tersebut. Peristiwa ini memicu beragam tanggapan. Beberapa warganet menilai beberapa komentar kurang menunjukkan empati terhadap pasien terutama jika disampaikan oleh tenaga kesehatan. Sebagian lainnya mengingatkan bahwa keterlambatan mendapatkan ruang rawat inap dapat dipengaruhi oleh keterbatasan kapasitas rumah sakit serta proses triase sesuai kondisi medis.

Terlepas dari berbagai sudut pandang tersebut, kasus ini menjadi ruang diskusi mengenai pentingnya etika komunikasi dan sikap profesional tenaga kesehatan, baik saat memberikan pelayanan maupun ketika berinteraksi di media sosial.

Etika Profesi Harus Tetap Melekat di Berbagai Tempat

Etika profesi tidak hanya diterapkan saat menjalankan tugas, tetapi juga harus melekat dalam setiap ucapan, sikap, dan perilaku di mana pun berada. Setiap tindakan maupun cara berkomunikasi dapat memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap profesi tenaga kesehatan. Oleh karena itu, rasa empati, saling menghormati, menjaga tutur kata, dan bersikap profesional harus dijunjung tinggi, meskipun sedang mengenakan seragam.

Baca Juga: Menjaga Etika Kerja Perawat di Era Media Sosial sebagai Kunci Profesionalisme

Prinsip Etik Menjadi Pedoman dalam Setiap Interaksi

Ingatlah bahwa prinsip-prinsip etik menjadi landasan dalam berperilaku.

  1. Prinsip beneficence (berbuat baik) mengingatkan untuk selalu mengupayakan kebaikan bagi pasien
  2. Prinsip non-maleficence (tidak merugikan) mendorong tenaga kesehatan untuk menghindari tindakan maupun komunikasi yang berpotensi menimbulkan dampak negatif.
  3.  Prinsip Fidelity (menjaga kepercayaan) menekankan pentingnya menjaga komitmen, integritas, dan kepercayaan yang telah diberikan oleh pasien maupun masyarakat.

Dengan demikian, penerapan prinsip etik tidak hanya tercermin melalui tindakan saja, tetapi juga melalui setiap ucapan dan cara berkomunikasi, baik secara langsung maupun di ruang digital.

Bijak Bermedia Sosial, Menjaga Martabat Profesi 

Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk bagi tenaga kesehatan. Setiap unggahan, komentar, maupun respons yang disampaikan di ruang digital dapat membentuk persepsi masyarakat. Oleh karena itu, sikap bijak dalam berkomunikasi, mengedepankan empati, serta menjaga etika perlu diterapkan tidak hanya saat memberikan pelayanan, tetapi juga ketika berinteraksi di media sosial.

Kasus yang menjadi perhatian publik ini sudah semestinya dijadikan sebagai bahan refleksi bersama bahwa profesionalisme tidak hanya diukur dari kompetensi klinis, tetapi juga dari kemampuan menjaga sikap, tutur kata, dan nilai-nilai kemanusiaan di mana pun berada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *