Mediaperawat.id – Hasil pemeriksaan laboratorium merupakan salah satu data penting yang digunakan dalam proses pengkajian, penegakan diagnosis, hingga evaluasi kondisi pasien. Berikut ini beberapa pemeriksaan laboratorium yang paling sering ditemui dan harus diketahui maknanya oleh perawat.
Pemeriksaan Darah Lengkap
Pemeriksaan ini sangat berarti untuk mengetahui kondisi seseorang secara umum. Indikator pemeriksaannya meliputi:
- Sel Darah Merah atau Eritrosit: Sel pembawa oksigen.
- Hemoglobin: Protein pembawa oksigen di dalam sel darah merah.
- Hematokrit: Jumlah sel darah merah di dalam darah.
- Sel darah putih atau Leukosit: Sel yang melawan infeksi.
- Trombosit: Komponen darah yang membantu pembekuan darah.
| KOMPONEN | NILAI NORMAL | GENDER |
|---|---|---|
| Eritrosit | 4.7 – 6.2 ✕ 1012/L | Pria |
| 4.5 – 5.0 ✕ 1012/L | Wanita | |
| Hemoglobin | 14 – 17 g/dL | Pria |
| 12 – 15 g/dL | Wanita | |
| Hematokrit | 42% – 52% | Pria |
| 35% – 47% | Wanita | |
| Leukosit | 5000 – 10,000/mm3 | |
| Trombosit | 150,000 – 400,000/mm3 | |
Elektrolit
Pemeriksaan elektrolit terdiri dari:
- Natrium (Na): Mengatur keseimbangan cairan tubuh serta mendukung fungsi otot dan saraf.
- Kalium (K): Ion utama dalam mengatur keseimbangan asam-basa dan pengaturan tekanan osmotik, serta memiliki peran krusial dalam transmisi saraf dan kontraksi otot.
- Klorida (Cl): Ion utama dalam cairan ekstraseluler yang terlibat dalam menjaga netralitas listrik, merupakan bagian dari sistem penyangga seluler, membantu proses pencernaan, serta membantu menjaga tekanan osmotik dan keseimbangan air di dalam tubuh.
- Magnesium (Mg): Membantu sel tubuh mengubah nutrisi menjadi energi. Selain itu, otak dan otot sangat bergantung pada magnesium agar dapat berfungsi dengan baik.
| KOMPONEN | NILAI NORMAL | |
|---|---|---|
| Natrium (Na) | 135—145 mmol/L | |
| Kalium (K) | 3.5—5.0 mmol/L | |
| Klorida (Cl) | 95—105 mmol/L | |
| Magesium (Mg) | 0.7—1.05 mmol/L | |
Fungsi Ginjal
- Ureum: Produk sebagai sisa hasil metabolisme protein yang disaring dan dikeluarkan oleh ginjal.
- Kreatinin: Produk sisa metabolisme otot yang dikeluarkan oleh ginjal. Kadar kreatinin mencerminkan kemampuan ginjal dalam menyaring darah.
- Asam Urat (Uric Acid): Produk sisa metabolisme yang terbentuk ketika tubuh memecah purin. Kadar yang tinggi dapat mengindikasikan gangguan ekskresi ginjal, konsumsi makanan tinggi purin, atau penyakit seperti gout (artritis gout).
| KOMPONEN | NILAI NORMAL | GENDER |
|---|---|---|
| Asam Urat | 2,5–7,0 mg/dL | Pria |
| 1,5–6,0 mg/dL | Wanita | |
| Ureum | 10—20 mg/dL | |
| Kreatinin | 0.6-1.2 mg/dL | |
Fungsi Hati
- Aspartate Aminotransferase AST (SGOT): Kadar yang meningkat dapat menunjukkan kerusakan jaringan, terutama pada hati atau otot.
- Alanine Aminotransferase ALT (SGPT): Peningkatan kadar enzim ini dapat mengindikasikan adanya kerusakan atau gangguan pada hati.
- Alkaline Phosphatase ALP: Enzim ini terdapat di hati, saluran empedu, tulang, dan beberapa jaringan lain. Pemeriksaan ini sering digunakan untuk menilai gangguan hati, saluran empedu, atau penyakit tulang.
- Gamma-Glutamyl Transferase GGT: Menilai gangguan hati dan saluran empedu, serta meningkat pada konsumsi alkohol kronis.
- Bilirubin Total: Produk sisa pemecahan eritrosit yang diproses oleh hati. Pemeriksaan ini digunakan untuk menilai fungsi hati, gangguan saluran empedu, atau kondisi yang menyebabkan peningkatan penghancuran sel darah merah.
- Bilirubin direk (terkonjugasi): Mengidentifikasi gangguan ekskresi bilirubin akibat penyakit hati atau obstruksi bilier.
- Bilirubin indirek (tak terkonjugasi): Meningkat pada hemolisis atau gangguan konjugasi bilirubin.
- Albumin: Protein utama di dalam darah untuk mengangkut berbagai zat, seperti hormon, vitamin, dan obat-obatan, serta membantu menjaga keseimbangan cairan dalam pembuluh darah.
- Protein total: Mengukur jumlah keseluruhan protein dalam darah, terutama albumin dan globulin yang mencerminkan status nutrisi serta fungsi hati dan ginjal.
| KOMPONEN | NILAI NORMAL | GENDER |
|---|---|---|
| SGOT | 10—40 units/L | Pria |
| 9—25 units/L | Wanita | |
| SGPT | 10—55 units/L | Pria |
| 7—30 units/L | Wanita | |
| GGT | 8–61 U/L | Pria |
| 5–36 U/L | Wanita | |
| ALP | 42-128 units/L | |
| Bilirubin Total | 0-1 mg/dL | |
| Bilirubin Direk | 0-0.3 mg/dL | |
| Bilirubin Indirek | 0.1-1 mg/dL | |
| Albumin | 3.5—5.0 g/dL | |
| Protein Total | 5.4—8.3 g/dL | |
Profil Lipid
- Kolesterol Total: Mengukur jumlah keseluruhan kolesterol dalam darah, yang terdiri atas berbagai jenis kolesterol, termasuk HDL dan LDL.
- HDL Kolesterol (kolesterol baik): Mengangkut kolesterol berlebih dari pembuluh darah kembali ke hati untuk diproses dan dikeluarkan dari tubuh sehingga membantu melindungi kesehatan jantung.
- LDL kolesterol (kolestrol jahat) : Kadar yang tinggi dapat menyebabkan penumpukan plak pada dinding arteri sehingga meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan stroke.
- Trigliserida (Tg): Bentuk utama lemak yang disimpan tubuh sebagai cadangan energi.
| KOMPONEN | NILAI NORMAL | GENDER |
|---|---|---|
| HDL | >45 mg/dL | Pria |
| >55 mg/dL | Wanita | |
| Kolesterol Total | <200 mg/dL | |
| LDL | <130 mg/dL | |
| Tg | 40 – 160 mg/dL | |
Faktor Pembekuan Darah
- Prothrombin Time (PT): Pemeriksaan ini sering digunakan untuk membantu mendeteksi gangguan pembekuan darah, menilai fungsi hati, serta memantau terapi antikoagulan seperti warfarin.
- Activated Partial Thromboplastin Time (aPTT): Pemeriksaan ini sering digunakan untuk mendeteksi gangguan pembekuan darah dan memantau terapi heparin tidak terfraksinasi.
- International Normalized Ratio (INR): Menilai jalur intrinsik dan jalur bersama koagulasi; digunakan untuk memantau terapi heparin tidak terfraksinasi.
- Fibrinogen: Kadar fibrinogen dapat meningkat pada kondisi inflamasi atau infeksi sebagai bagian dari respons fase akut, sedangkan kadar yang menurun dapat ditemukan pada penyakit hati berat atau Disseminated Intravascular Coagulation (DIC) berat.
- D-dimer: Kadar D-dimer yang meningkat menunjukkan bahwa telah terjadi pembentukan dan penghancuran bekuan darah di dalam tubuh (aktivasi trombin, pembentukan fibrin, dan fibrinolisis). Pemeriksaan ini membantu menegakkan diagnosis Disseminated Intravascular Coagulation (DIC) serta trombosis, seperti deep vein thrombosis (DVT) dan emboli paru (pulmonary embolism).
| KOMPONEN | NILAI NORMAL | |
|---|---|---|
| PT | 11 – 13 detik | |
| aPTT | 30 – 40 detik | |
| INR | 0.8—1.2 | |
| Fibrinogen | 0.8—1.2 | |
| D-dimer | <0.4 µg/mL | |
Enzim Jantung
- Troponin I (cTnI): Protein pada otot jantung dan dilepaskan ke dalam aliran darah ketika terjadi kerusakan sel miokard yang membantu menegakkan diagnosis infark miokard akut.
- Troponin T (cTnT): Mendeteksi kerusakan otot jantung dan membantu diagnosis sindrom koroner akut. Peningkatan kadar troponin perlu dinilai berdasarkan perubahan kadar dari waktu ke waktu serta dikaitkan dengan kondisi klinis pasien.
- CK-MB: CK-MB dapat dimanfaatkan pada kondisi tertentu, seperti membantu mendeteksi reinfark (infark miokard berulang) atau ketika pemeriksaan troponin tidak tersedia.
| KOMPONEN | NILAI NORMAL | |
|---|---|---|
| Troponin I | <0.03 ng/mL | |
| Troponin T | <0.1 ng/mL | |
| CK-MB | 0% | |
Glukosa Darah
- Gula Darah Sewaktu (GDS): Mengukur kadar glukosa darah kapan saja tanpa memperhatikan waktu makan. Pemeriksaan ini sering digunakan pada kondisi gawat darurat atau untuk skrining awal diabetes melitus.
- Gula Darah Puasa (GDP): Mengukur kadar glukosa darah setelah berpuasa selama minimal 8 jam. Pemeriksaan ini digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis diabetes melitus dan prediabetes.
- Gula Darah 2 Jam Postprandial (GD2PP) : Mengukur kadar glukosa darah 2 jam setelah makan atau setelah mengonsumsi 75 gram glukosa pada pemeriksaan tertentu. Pemeriksaan ini digunakan untuk menilai kemampuan tubuh mengontrol kadar glukosa setelah makan.
- Hemoglobin A1c (HbA1c): Menggambarkan rata-rata kadar glukosa darah selama 2–3 bulan terakhir dan digunakan untuk diagnosis serta pemantauan pengendalian diabetes melitus.
| KOMPONEN | NILAI NORMAL | |
|---|---|---|
| GDS | <200 mg/dL | |
| GDP | 70—110 mg/dL | |
| GD2PP | < 140 mg/dL | |
| HbA1c | 4% – 5.9% : tanpa diabetes | |
| <7% : kontrol diabetes baik | ||
| 8% – 9% : kontrol diabetes sedang (cukup) | ||
| >9% : kontrol diabetes buruk | ||
Pengetahuan mengenai nilai normal pemeriksaan laboratorium membantu perawat mengenali perubahan kondisi pasien sejak dini, memantau respons terapi, serta mendukung pengambilan keputusan klinis. Namun, hasil laboratorium harus selalu diinterpretasikan bersama kondisi klinis pasien agar asuhan keperawatan yang diberikan tetap tepat dan aman. Oleh karena itu, perawat perlu memahami nilai normal setiap parameter laboratorium agar dapat mengidentifikasi perubahan kondisi pasien sejak dini, memantau respons terhadap terapi.
Ikuti dan pantau terus Media Perawat Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini seputar keperawatan dan kesehatan lainnya.
REFERENSI
Byrne, R. A., Rossello, X., Coughlan, J. J., Barbato, E., Berry, C., Chieffo, A., Claeys, M. J., Dan, G.-A., Dweck, M. R., Galbraith, M., et al. (2023). 2023 ESC Guidelines for the management of acute coronary syndromes. European Heart Journal, 44(38), 3720–3826. https://doi.org/10.1093/eurheartj/ehad191
Cleveland Clinic. (2021). Electrolytes. Diakses dari https://my.clevelandclinic.org/health/diagnostics/21790-electrolytes
Joyce University. (2022). Normal lab values every nurse should know. Joyce University. Diakses dari https://www.joyce.edu/blog/nclex-lab-values/
Martin, P. (2024). Complete normal lab values reference guide & cheat sheet. Nurseslabs. Diakses dari https://nurseslabs.com/normal-lab-values-nclex-nursing/
Mayo Clinic. (2026). Complete blood count (CBC). Diakses dari https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/complete-blood-count/about/pac-20384919
Merck Manual Professional Edition. (n.d,). Laboratory tests of hemostasis by phase. https://www.merckmanuals.com/professional/multimedia/table/laboratory-tests-of-hemostasis-by-phase
Testing.com. (2026). 10 essential blood tests. Diakses dari https://www.testing.com/tests/10-essential-blood-tests/









