banner 728x250
Opini  

Mengabdi dengan Menghirup Asap yang Sama

Mengabdi dengan Menghirup Asap yang Sama

Kementerian Kesehatan mencatat tak kurang dari 174.000 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merebak di tujuh provinsi terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) per 21 September 2026. Jumlah ini tidaklah sedikit dan berpotensi terus bertambah selama bencana karhutla belum mereda.

Untuk mengatasi lonjakan angka penderita ISPA tersebut, Kementerian kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menyiagakan 1.898 tenaga kesehatan (nakes) tambahan yang terdiri dari dokter, perawat, hingga petugas kesehatan lingkungan di garis terdepan.

Selain tenaga kesehatan, Kemenkes telah menyalurkan hampir 1,93 juta lembar masker, 280 mesin penghasil oksigen, 36 tabung oksigen, 328 dus makanan tambahan, serta obat-obatan dan vitamin. Kesiapsiagaan pelayanan kesehatan juga diperkuat melalui 1.691 puskesmas, 360 rumah sakit rujukan, dan 87 Laboratorium Kesehatan Masyarakat atau Labkesmas di wilayah terdampak. Fasilitas tersebut disiapkan untuk mendukung penanganan medis dan pengujian kualitas udara.

Di balik besarnya angka pengerahan logistik dan personel tersebut, ada ruang refleksi mendalam yang kerap terlewat dalam diskursus publik. Pengerahan ribuan nakes setiap kali bencana asap melanda bukan sekadar urusan prosedur medis darurat rutin. Kejadian ini menyimpan pesan penting bahwa profesi kesehatan kini secara nyata berdiri di batas paling depan krisis ekologi yang terjadi.

Tenaga Kesehatan Sebagai Benteng Terakhir Bencana Lingkungan

Dalam tradisi ilmu medis konvensional, penyakit sering kali dipandang sebagai persoalan internal tubuh seperti gangguan sistem biologis, infeksi patogen, atau kerentanan genetik bawaan. Namun, krisis asap akibat karhutla Selina Lomenyadarkan kita pada urgensi konsep Planetary Health (Kesehatan Planet) yang digagas oleh Richard Horton dan Selina Lo di jurnal The Lancet. Konsep ini menegaskan bahwa derajat kesehatan dan keberlangsungan hidup manusia berkelindan erat dengan kesehatan ekosistem tempat ia tinggal.

Ketika langit Sumatra dan Kalimantan tertutup kabut asap pekat, ruang-ruang pemeriksaan di Puskesmas berubah menjadi cermin dari kerusakan ekologis di luar sana. Rekam medis anak-anak yang tersengal karena asma atau lansia yang memburu napas bukanlah sekadar catatan klinis individual, melainkan bukti fisik dari terganggunya daya dukung alam.

Di sinilah letak peran unik sekaligus getir nakes di lapangan. Mereka bekerja di ujung hilir sebuah masalah besar. Nakes memikul peran sebagai benteng terakhir yang harus mengobati dampak fisik krisis lingkungan, padahal akar permasalahannya berada jauh di luar dinding fasilitas kesehatan.

Di Balik Masker dan Keteguhan Nakes

Jika dibedah menggunakan analisis Street-Level Bureaucracy dari sosiolog Michael Lipsky, pengerahan ribuan nakes dan penguatan pelayanan kesehatan penunjang adalah wujud nyata dari eksekutor kebijakan publik di tingkat akar rumput. Di tengah situasi darurat, nakes tidak sekadar menjalankan fungsi teknis membagi masker atau memasang tabung oksigen. Mereka adalah individu-individu dengan batas ketahanan fisik dan psikologisnya sendiri.

Para nakes yang bertugas di posko-posko krisis menghirup partikel Particulate Matter (PM2.5) yang sama dengan para penyintas di lokasi terdampak karhutla. Di saat yang sama ketika mereka mengedukasi warga dan menenangkan orang tua pasien, mereka juga dibayangi kekhawatiran atas kondisi kesehatan dirinya serta rekan sejawat yang ikut turun ke lapangan.

Keteguhan para nakes dalam membagi fokus antara keselamatan diri dan tanggung jawab moral adalah wujud nyata dari resilience (ketahanan emosional). Namun, pengabdian ini tidak boleh kita maknai secara sempit sebagai hal yang taken for granted atau diwajarkan begitu saja atas nama tugas. Pengorbanan nakes di tengah kepungan asap adalah peringatan nyata tentang besarnya beban manusiawi (human cost) yang harus dibayar akibat alih fungsi lahan dan ketidaktegasan perlindungan lingkungan.

Refleksi dan Komitmen untuk Menjaga Bumi

Menghadapi fenomena karhutla yang terus berulang, pengerahan ribuan nakes sebaiknya tidak lagi dipandang sebagai ritus musiman biasa. Kita tidak bisa terus-menerus menempatkan tenaga kesehatan sebagai pemadam kebakaran ekologis yang selalu siap sedia menanggung akibat dari krisis alam tanpa ada upaya pembenahan mendasar di hulu.

Apresiasi tertinggi bagi ribuan nakes yang berjuang di lapangan bukanlah sebatas pujian atau julukan pahlawan kesehatan. Bentuk penghormatan yang sesungguhnya adalah komitmen kolektif mulai dari pemangku kepentingan hingga kita semua untuk menjaga kelestarian hutan dan mencegah potensi kebakaran lahan.

Pada akhirnya, cara terbaik untuk melindungi kesehatan masyarakat sekaligus meringankan beban nakes yang berjuang di garda terdepan adalah dengan memastikan udara yang dihirup warga tetap bersih dan layak bagi kehidupan. Menjaga lingkungan bukan lagi sekadar isu ekologi, melainkan langkah mendasar untuk menyelamatkan manusia dan profesi kesehatan itu sendiri.

Referensi:

Lipsky, Michael. (2010). Street-Level Bureaucracy: Dilemmas of the Individual in Public Services (30th Anniversary Edition). New York: Russell Sage Foundation.

Horton, Richard, & Lo, Selena. (2015). Planetary health: a new vision for the Anthropocene. The Lancet, 386(10007), 1921–1922. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(15)61038-8

orld Health Organization (WHO). (2021). WHO global air quality guidelines: Particulate matter (PM 2,5 & PM10), ozone, nitrogen dioxide, sulfur dioxide and carbon monoxide. Geneva: World Health Organization.

MOST 1058 FM. (2026, 21 September). Kasus ISPA Tembus 151 Ribu, Kemenkes Siagakan 1.898 Nakes di 7 Provinsi. Redaksi MOST 1058. https://most1058fm.com/2026/09/kasus-ispa-tembus-151-ribu-kemenkes-siagakan-1-898-nakes-di-7-provinsi/

DetikSumut. (2023, 6 Oktober). Muncul 174 Ribu Kasus ISPA di Wilayah Terdampak Karhutla. Detikcom. https://www.detik.com/sumut/berita/d-8675654/muncul-174-ribu-kasus-ispa-di-wilayah-terdampak-karhutla

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *