Mediaperawat.id – Dalam dunia kesehatan, istilah Do Not Resuscitate (DNR) sering muncul ketika menangani pasien dalam kondisi kritis, berada di tahap terminal, atau menjelang ajal. Meski terdengar berat, DNR merupakan bagian penting dari hak pasien untuk menentukan arah perawatan medis mereka.
Apa Itu DNR?
DNR adalah sebuah perintah medis yang menyatakan bahwa pasien memilih untuk tidak menerima tindakan resusitasi atau bantuan hidup lanjutan seperti Resusitasi Jantung Paru (RJP) apabila sewaktu-waktu mengalami henti jantung atau henti napas.
Perlu digarisbawahi bahwa DNR bukan berarti menghentikan seluruh perawatan. Pasien tetap berhak mendapatkan:
- Perawatan suportif.
- Pengelolaan rasa nyeri.
- Penanganan gejala lain demi menjaga kenyamanan (perawatan paliatif).
Mengapa Status DNR Diperlukan?
Keputusan ini diambil berdasarkan beberapa pertimbangan rasional dan etis:
- Menghormati Otonomi: Menghargai hak pasien dalam menentukan pilihan perawatan medisnya.
- Menghindari Penderitaan yang Sia-sia: Pada kondisi tertentu, RJP berpotensi memperpanjang penderitaan tanpa memberikan kesembuhan atau perbaikan kondisi yang nyata.
- Mencegah Komplikasi: Tindakan resusitasi dapat menimbulkan cedera fisik tambahan, seperti kerusakan organ atau patah tulang rusuk.
- Efisiensi Klinis dan Biaya: Menghindari intervensi medis intensif yang tidak memberikan manfaat signifikan namun menimbulkan beban biaya tinggi.
Prosedur dan Aspek Hukum
Penetapan status DNR tidak dilakukan secara sepihak, melainkan melalui diskusi transparan antara dokter, pasien (jika mampu), dan keluarga.
- Persetujuan Tertulis: Jika pasien dalam kondisi sadar dan kompeten menyatakan pilihannya, hal tersebut dituangkan dalam formulir persetujuan tertulis. Dokumen ini menjadi pedoman klinis sekaligus perlindungan hukum bagi semua pihak.
- Dinamis dan Tidak Permanen: Keputusan DNR dapat diubah, ditinjau ulang, atau dicabut kapan saja selama pasien masih memiliki kapasitas untuk mengambil keputusan. Keluarga juga dapat mengajukan peninjauan kembali berdasarkan kondisi terbaru pasien.
Baca Juga: Resusitasi Jantung Paru pada Pasien Anak
Pentingnya Komunikasi dan Empati
Menentukan status DNR memerlukan pertimbangan matang dan empati. Perbedaan pandangan antara keluarga atau tenaga medis bisa saja terjadi, sehingga komunikasi terbuka menjadi kunci utama untuk menghindari konflik.
Pasien dan keluarga sangat disarankan untuk meminta penjelasan mendalam kepada dokter mengenai manfaat, risiko, hingga aspek hukum terkait DNR. Dengan pemahaman yang utuh, keputusan yang diambil akan selaras dengan nilai, kepercayaan, dan keinginan terbaik pasien.
Referensi:
Alodokter. (2026). Pasien DNR: Memahami Hak dan Prosedur Pasien di Akhir Hayat. Diakses pada 12 Mei 2026, dari https://www.alodokter.com/pasien-dnr-memahami-hak-dan-prosedur-pasien-di-akhir-hayat.









