Mediaperawat.id – Tahukah Anda? Akses intravena tidak hanya dilakukan melalui infus perifer, tetapi dapat menggunakan CVC atau Central Venous Catheter. CVC merupakan akses vena sentral yang banyak digunakan pada pasien dengan kondisi kritis atau memerlukan terapi khusus, seperti pemberian obat vasoaktif, nutrisi parenteral total (TPN), hingga pemantauan hemodinamik.
Dibandingkan akses intravena perifer, CVC memungkinkan pemberian terapi yang lebih aman dan efektif pada kondisi tertentu. Oleh karena itu, tenaga kesehatan, khususnya perawat, perlu memahami penggunaan CVC untuk mendukung keselamatan pasien dan mencegah terjadinya komplikasi. Simak ulasan selengkapnya dalam artikel ini!
Apa Itu Central Venous Catheter (CVC)?
CVC merupakan selang plastik panjang, tipis, dan fleksibel yang dipasang ke dalam vena besar dengan ujung kateter berada di vena cava superior (pembuluh darah besar yang mengalirkan darah menuju jantung).
Sebagai salah satu jenis akses intravena (IV), CVC digunakan untuk pemberian obat-obatan, cairan, nutrisi parenteral, transfusi darah, kemoterapi dan terapi lain yang memerlukan akses vena sentral, baik dalam kondisi darurat maupun jangka panjang.
Kapan Pasien Memerlukan CVC?
Beberapa kondisi yang menjadi indikasi pasien dipasang CVC antara lain:
- Pasien yang memerlukan akses IV, terutama pada pasien dengan akses vena perifer yang sulit.
- Pemantauan tekanan vena sentral (Central Venous Pressure/CVP).
- Pemantauan atau pengambilan sampel saturasi oksigen vena sentral (ScvO₂).
- Pemberian cairan atau obat yang bersifat iritan, seperti obat vasoaktif, kemoterapi, atau nutrisi parenteral (TPN).
- Terapi pengganti ginjal (renal replacement therapy), plasmapheresis, dan apheresis menggunakan kateter vaskular khusus (vascath).
- Pacing transvena (transvenous pacing).
Untuk resusitasi cairan cepat, akses yang lebih disarankan adalah jalur intravena perifer berukuran besar (large bore peripheral IV), RICC line, sheath Swan-Ganz, atau akses intraoseus (IO).
Jenis-Jenis CVC
Pemasangan CVC disesuaikan dengan tujuan penggunaan dan lamanya terapi. Jenis-jenis CVC yang umum digunakan sebagai berikut.
Non-tunneled Catheter
CVC ini digunakan untuk akses vena sentral jangka pendek, umumnya hingga sekitar tiga minggu. Salah satu ujung kateter berada di luar tubuh, biasanya di area dada bagian atas, sedangkan ujung lainnya berada di dalam vena besar yang menuju jantung.
Peripherally Inserted Central Catheter (PICC)
PICC adalah salah satu jenis non-tunneled catheter yang dipasang melalui vena di sekitar lipatan siku, kemudian ujung kateter diarahkan hingga mencapai vena sentral. Dibandingkan non-tunneled catheter, PICC dapat digunakan lebih lama sampai dengan enam bulan.
Tunneled Catheter
Tunneled catheter merupakan CVC yang dirancang untuk penggunaan jangka panjang, mulai dari beberapa bulan hingga bertahun-tahun. Kateter ini dipasang melalui jalur di bawah kulit (tunnel) sebelum masuk ke vena, sehingga titik keluarnya kateter di permukaan kulit berbeda dengan lokasi masuknya ke pembuluh darah.
Implanted port (Port-a-Cath)
Implanted port adalah jenis tunneled catheter yang seluruh komponennya ditanam di bawah kulit sehingga tidak ada bagian kateter yang terlihat dari luar. Alat ini dapat digunakan selama bertahun-tahun dan sering dipilih untuk pasien yang memerlukan terapi jangka panjang, seperti kemoterapi.
Selain itu, CVC juga dibedakan berdasarkan jumlah lumen atau saluran yang dimiliki, yaitu single lumen, double lumen, dan triple lumen. Setiap lumen merupakan saluran terpisah yang terhubung ke kateter utama sehingga memungkinkan pemberian beberapa jenis obat atau cairan secara bersamaan tanpa perlu memasang akses intravena tambahan.
Lokasi Pemasangan CVC
Beberapa lokasi yang umum digunakan untuk pemasangan Central Venous Catheter (CVC) meliputi:
- Vena brakialis di lengan.
- Vena jugularis interna (leher).
- Vena subklavia (bagian atas dada).
- Vena femoralis (daerah lipat paha).
Pada kondisi tertentu, vena femoralis apabila lokasi pemasangan lain tidak memungkinkan. Namun, penggunaan lokasi ini umumnya dihindari jika memungkinkan karena memiliki risiko infeksi yang lebih tinggi dibandingkan lokasi pemasangan lainnya.
Perawatan CVC dan Pencegahan Komplikasi
CVC harus dirawat untuk menjaga fungsi kateter tetap optimal sekaligus mencegah komplikasi, terutama Central Line-Associated Bloodstream Infection (CLABSI). Berikut beberapa prinsip penting dalam perawatan CVC:
Lakukan Hand Hygiene
Selalu bersihkan tangan sebelum dan sesudah menyentuh CVC atau area insersi menggunakan sabun dan air mengalir atau hand rub. Hand hygiene merupakan langkah paling efektif untuk mencegah penularan mikroorganisme.
Pertahankan Dressing Tetap Bersih dan Kering
Pastikan balutan pada area pemasangan CVC tetap bersih, kering, dan melekat dengan baik. Dressing harus segera diganti apabila basah, longgar, kotor, atau terkontaminasi sesuai prosedur yang berlaku.
Disinfeksi Hub Sebelum Digunakan
Saat memberikan obat, cairan, atau mengambil sampel darah, lakukan disinfeksi pada hub atau needleless connector menggunakan antiseptik yang direkomendasikan. Biarkan antiseptik mengering sebelum kateter digunakan untuk mengurangi risiko infeksi.
Lakukan Flushing Sesuai Prosedur
Jaga patensi lumen CVC dan mencegah terjadinya oklusi (penyumbatan) dengan flushing. Gunakan larutan serta teknik flushing sesuai dengan kebijakan rumah sakit dan rekomendasi produsen kateter.
Pantau Tanda-Tanda Komplikasi
Segera laporkan apabila ditemukan tanda infeksi seperti kemerahan, nyeri, bengkak, keluar cairan, demam, maupun gangguan fungsi kateter. Selain infeksi, perawat juga perlu mewaspadai komplikasi lain seperti trombosis, oklusi, emboli udara, dan perdarahan.
Evaluasi Kebutuhan CVC Setiap Hari
CVC sebaiknya dipertahankan hanya selama masih memiliki indikasi klinis. Evaluasi kebutuhan kateter setiap hari dan lepaskan segera apabila sudah tidak diperlukan untuk menurunkan risiko komplikasi.
CVC memiliki peran penting dalam menunjang berbagai terapi. Pemahaman yang baik mengenai CVC akan membantu tenaga kesehatan dalam memberikan asuhan yang aman dan efektif. Perawatan yang tepat sebagai upaya pencegahan komplikasi dalam penggunaan CVC dapat memberikan manfaat yang optimal sekaligus meningkatkan keselamatan pasien.
Ikuti dan pantau terus Media Perawat Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini seputar keperawatan dan kesehatan lainnya.
Referensi
Cleveland Clinic. (2026). Central venous catheter (Central line). Diakses dari https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/23927-central-venous-catheter
Nickson, C. (2024). Central venous catheters. Life in the Fast Lane (LITFL). Diakses dari https://litfl.com/central-venous-catheters/
World Health Organization. (2022). WHO guideline on the use of central venous access devices (CVADs). World Health Organization. Diakses dari https://iris.who.int/server/api/core/bitstreams/f750f24d-c0c2-425c-85fd-ec310d2ce994/content









