Pengkajian Fungsi Kognitif pada Lansia: MMSE

Pengkajian Fungsi Kognitif Pada Lansia

Mediaperawat.id – Kerap sekali bagi seorang praktisi menemui ‘confused state’ pada pasien yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Namun, kompleksitas asuhan keperawatan yang kontinyu membuat kita sangat jarang menyentuh formulir pengkajian yang satu ini, padahal sering dipelajari di stase Gerontik bahkan dipergunakan di penelitian mahasiswa. Oke, mari kita cek ulang formulir tersebut dan menerka sekiranya alasan apa yang membuat praktisi asuhan keperawatan langsung (direct-care) pada pasien mengalami kesulitan dalam aplikasi ilmu ini.

Mini Mental State Examination (MMSE) merupakan salah satu alat ukur fungsi kognitif yang dapat diaplikasikan pada lansia. MMSE telah digunakan sejak tahun 1970-an sebagai alat pengukuran kognitif, namun butuh waktu 10 menit dan juga berbayar (Miller, 2012). Selain itu, MMSE ini belum mampu mendeteksi tahap awal dari gangguan fungsi kognitif dan hasilnya sangat dipengaruhi oleh faktor lain, seperti pendidikan dan status sosial (Pinto & Peters, 2009 dalam Miller, 2012).

Tes ini terdiri dari 30 item yang mengkaji orientasi, perhatian, kalkulasi, kemampuan recall dalam jangka pendek, kecerdasan bahasa, dan fungsi visuospasial individu (Mauk, 2014; Touhy & Jett, 2014). Perawat atau pekerja sosial dapat berperan sebagai penguji untuk memperoleh hasil pengkajian secara periodik atau perawatan primer dari tes MMSE. Kontraindikasinya yaitu klien yang tidak dapat melihat atau menulis (Touhy & Jett, 2014). MMSE biasanya dilakukan untuk menetukan apakah individu mengalami delirium atau demensia, bila hasilnya < 15, maka klien mengalami gangguan fungsi kognitif yang berat (Tabloski, 2014). Dalam redaksi  ini, penulis akan mendeskripsikan penggunaan tes MMSE dan interpretai hasilnya melalui metode kajian literatur.

Mini Mental State Examination (MMSE) termasuk alat screening yang valid untuk pengukuran fungsi kognitif individu. Regional Palliative Care Program (2009) menjelaskan bahwa tenaga kesehatan perlu memaparkan kepada klien dan keluarga tentang rasional penggunaan tes ini sebelum memberikan pertanyaan yang sesuai. Sehingga klien dan keluarga mau menerima informasi dan bekerja sama selama tindakan.

Untuk hasil skor MMSE sendiri, sebuah penelitian menunjukkan bahwa MMSE memiliki keterbatasan, yaitu identifikasi tahap awal dimensia khususnya klien dengan amnesia berat namun hasil skornya ‘normal’. Keterbatasan lainnya yaitu MMSE kurang sensitif dalam pengkajian visuospasial pada klien dengan demensia frontotemporal. Karena hasilnya akan menunjukkan skor ‘normal’, padahal di sosial atau lingkungan kerja, klien sudah tidak mampu lagi.

Untuk kasus demikian, peneliti tersebut menjelaskan bahwa tes visuospasial dalam Addenbrooke’s Cognitive Examination (ACE-III) lebih efektif diaplikasikan pada klien dengan gangguan kognitif sedang, demensia frontotemporal, dan penyebab lain demensia dibandingkan dengan visuospasial dalam MMSE (Devenney & Hodges, 2017).

Interpretasi skor MMSE dibagi menjadi empat metode. Single cut-off, hasilnya akan abnormal jika < 24. Range, skor < 21 kemungkinan besar demensia dan skor > 25 risiko demensia minimal. Education, skor 21 berarti abnormal untuk klien dengan pendidikan akhir kelas VIII, skor < 23 berarti abnormal untuk pendidikan SMA, dan skor < 24 abnormal untuk pendidikan mahasiswa. Severity, skor 24-30 berarti tidak ada gangguan kognitif, skor 18-23 berarti gangguan kognitif sedang, skor 0-17 berarti gangguan kognitif berat (www.uml.edu/…).

Hasil penelitian lainnya mendeskripsikan bahwa skor MMSE yang didapatkan dari klien berumur 70-an sangat berhubungan dengan kemampuan kognitif semasa kecilnya (Dykiert et al., 2016). Apabila tingkat intelektual klien semasa kecil rendah, maka hasil yang didapatkan dari MMSE saat tua (tidak ada indikasi patologis) nanti akan rendah pula. Oleh karena itu, justifikasi klinis dari hasil skor MMSE perlu mempertimbangkan level kemampuan klien sebelumnya.

Nah, begitu gambaran isi formulir MMSE yang dimaksud. Sebenarnya tidak ada kendala berarti dalam melakukan ini, namun seringkali sudah dibagi tugasnya dan menghindari repitisi pengkajian dalam waktu dekat, khususnya rumah sakit pendidikan yang notabene banyak mahasiswa profesi/residensi bahkan fellowship kedokteran yang juga menggunakan formulir tersebut.

Intinya, beberapa poin dari konten MMSE secara tidak langsung sudah atau bisa diterapkan kembali oleh Ners yang bertugas, namun dokumentasi juga dapat dijadikan penyemangat agar bisa meningkatkan kredibilitas data temuan sehingga terlihat apik dan lebih profesional sebagai Ners yang Mampuni. Tetap semangat sejawatku dan semoga bermanfaat buat calon perawat/Ners sekalian.

Baca Juga: Asuhan Keperawatan Kelompok Lansia

Referensi

Tabloski, P. A. (2014). Gerontological nursing (3rd ed.). New Jersey: Pearson Education, Inc.

Mauk, K. L. (Ed.). (2014). Gerontological nursing: Competencies for care (3rd ed.). Burlington, MA: Jones & Bartlett Learning.

Miller, C. A. (2012). Nursing for wellness in older adults (6th ed.). Philadelphia: Wolters Kluwer, LWW.

Touhy, T. A., & Jett, K. F. (2014). Ebersole and Hess’ Gerontological nursing & healthy aging (4th ed.). St. Louis, Missouri: Elsevier.

Devenney, E., & Hodges, J. R. (2017). The Mini-Mental State Examination: Pitfalls and limitations. Journal of Pract Neurol, 17, 79-80. doi: 10.1136/practneurol-2016-001520

Dykiert, D., Der, G., Starr, J. M., & Deary, I., J. (2016). Why is Mini-Mental State Examination performance correlated with estimated premorbid cognitive ability? [Original Article]. Journal of Psychological Medicine, 46, 2647-2654. Cambridge University Press. doi: 10.1017/S0033291716001045

https://www.uml.edu/docs/Mini%20Mental%….pdf (diakses pada tanggal 9 Mei 2017, pukul 22.00 WIB).

Regional Palliative Care Program. (July, 23th 2009). Palliative.org: Instruction for administration of Mini-Mental State Examination (MMSE). Alberta Health Services.

Exit mobile version