Opini  

Yuk aplikasikan Spiritual Care di Rumah Sakit & Komunitas Islam Pada Masa Pandemi COVID – 19

Foto Pixabay

Media Perawat – Hallo sejawat ! Salam Perawat ! Semoga Sehat Selalu dan Selalu Dalam Lindungan Allah SWT, Aamiin..

Kali ini Admin akan mengajak kepada sejawat untuk menerapkan atau mengaplikasikan Spiritual Care Di Rumah Sakit & Komunitas Islam Pada Masa Pandemi COVID-19 berdasarkan pengamatan, pengalaman serta referensi dari ahli pakar tentunya. Karena banyak sekali yang kurang menerapkan Spiritual Care hal tersebut dikutip dalam (Sagiran, 2020) mengungkapkan. Kemajuan teknologi jelas membawa manfaat, tetapi jangan lupa ada efek samping yang tidak disadari, yakni pasien lebih dianggap objek. Pasien tidak lagi dipandang secara entitas yang utuh dengan misi hidupnya sebagai hamba Allah sekaligus khalifah Allah dalam kehidupan. Tentunya, peran tenaga medis (pengobatan) dan peran bina rohani (terapi religius) sangat berpengaruh dan harus seimbang untuk dapat mengandalkan modalitas sebagai penyembuhan penyakit salah satunya adalah dengan menerapkan praktek ibadah kepada klien. Menerapkan praktek ibadah kepada klien islam diantaranya, sebagai berikut :

1). Istinja & Thaharah

Istinja merupakan kegiatan membersihkan diri dari najis (kotoran) setelah buang air besar atau kecil. Dalam berbagai literatur fikih, istinja bisa menggunakan air, tetapi bisa juga menggunakan batu atau tisu jika ketika seseorang itu tidak menemukan air. Thaharah atau bersuci adalah syarat wajib yang harus dilakukan dalam beberapa macam ibadah.

2). Bimbingan Shalat

Ada hikmah dari shalat menurut Al-Jurjawi, shalat dapat menentramkan hati orang yang melakukannya ia tidak akan gelisah ketika ditimpa musibah, senantiasa sabar, dapat menghapus berbagai dosa dan kesalahan perbuatan maksiat itu sendiri termasuk perbuatan keji.

3). Menciptakan Ketenangan Dengan Qur’anic Healing, Asmaul Husna & Doa

Ketika sedang sakit, stres atau nyeri menyerang seseorang, kekuatan spiritual mampu menciptakan ketenangan sehingga dapat membantu seseorang ke arah penyembuhan atau pada perkembangan kebutuhan keadaan pikiran menjadi tenang, sehingga tubuh juga menjadi rileks, hal tersebut tentunya akan mengurangi kecemasan, menurunkan tekanan darah, menstabilkan pola tidur melancarkan proses pernafasan serta pencernaan. (Anton, 2011)

4). Menerapkan Syukur, Sabar dan Ikhlas

Hidup didalam rasa bersyukur adalah jalan pintas menuju kebahagian lahir bathin dan menghadirkan banyak “keajaiban” yang menyenangkan dalam hidup. Sabar memang berat, karena sabar bukanlah kelemahan, justru sabar adalah kekuatan, sabar bukan kelesuan tetapi semangat hidup, sabar bukan kecengengan tetapi ketegaran, sabar bukanlah pesimis tetapi optimis, dan sabar bukanlah diam membisu tetapi sabar adalah berjuang pantang menyerah. Kita harus memahami bahwa semua ini milik Allah, hanya karena Allah kita hidup dan untuk karena Allah kita hidup.

5). Bimbingan Sakaratul Maut

Orang yang mengalami penyakit terminal dan menjelang sakaratul maut lebih banyak mengalami penyakit kejiwaan, krisis spiritual, dan krisis kerohanian sehingga pembinaan kerohanian saat klien menjelang ajal perlu mendapatkan perhatian” khusus. Sehingga, klien biasanya bereaksi menolak, depresi berat, perasaan marah akibat ketidakberdayaan dan keputusasaan. Oleh sebab itu, peran perawat sangat dibutuhkan untuk mendampingi klien yang dapat meningkatkan semangat hidup klien meskipun harapannya sangat tipis dan dapat mempersiapkan diri pasien untuk menghadapi kehidupan yang kekal.

Semoga bermanfaat, bagi kemajuan profesi perawat kita, Semangat, Sejawat Ners ! Salam Sukses !

(Dok/ND)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *