Mediaperawat.id – Bekerja selama 24 jam penuh dengan shift kerja mulai dari pagi, sore, dan malam membuat work life balance pada perawat wanita yang sudah menikah menjadi terganggu. Terlebih lagi, perawat wanita tersebut juga dituntut untuk bisa bekerja secara profesional sebagai tenaga kesehatan sekaligus menjadi seorang ibu rumah tangga.
Kondisi seperti ini bisa berdampak negatif terhadap kesehatan mental untuk jangka panjang. Selain bertugas merawat pasien, setiap harinya kehidupan perawat juga diwarnai dengan beban dan tuntutan kerja yang tinggi. Tidak jarang hal ini menyebabkan para perawat merasa lelah secara fisik dan psikis, mengantuk, cemas, hingga stres.
Baca Juga: Burnout Perawat di Era Digitalisasi, Antara Teknologi dan Tekanan Kerja
Hubungan Work Life Balance Terhadap Kesehatan Mental Perawat Wanita
Mengingat jam kerja yang panjang, padatnya dinamika pekerjaan, dan produktivitas yang tinggi pada profesi perawat membuat work life balance dan kesehatan mental memegang peranan yang sangat penting. Khususnya, bagi seorang perawat wanita yang sudah memiliki keluarga.
Agar tercipta kualitas hidup yang lebih baik, tentu dibutuhkan kontribusi work life balance yang sempurna untuk menjaga kestabilan kesehatan mental. Sehingga, setiap perawat tidak hanya bisa fokus terhadap pekerjaan utamanya saja. Melainkan, bisa menikmati quality time bersama keluarga, meningkatkan motivasi bekerja, dan mengurangi kelelahan emosional.
Dengan demikian, hubungan antara work life balance dan kesehatan mental tersebut berbanding lurus. Apabila tingkat keseimbangan kehidupan seorang perawat semakin tinggi maka kondisi mentalnya juga akan semakin baik. Terutama pada aspek kestabilan emosi, kehidupan pribadi, hubungan dengan keluarga, hingga tanggung jawab terhadap pekerjaan.
Selain itu, seorang perawat dengan gaya hidup yang seimbang antara pekerjaan dan kehidupan pribadinya cenderung bisa memenuhi tuntutan pekerjaan secara optimal. Bahkan, memiliki kondisi psikologis yang lebih positif, tingkat stres yang rendah, mendapatkan kebahagiaan psikologis, hingga rasa percaya diri yang tinggi.
Baca Juga: Tetap Bertugas Saat Lebaran? Berikut Ide Menikmati Hari Raya bagi Perawat
Tantangan Work Life Balance yang dihadapi Oleh Perawat Wanita
Ada beberapa tantangan yang menjadi musuh utama bagi para perawat wanita yang sudah menikah untuk mendapatkan work life balance, antara lain sebagai berikut ini:
1. Shift Kerja yang Tidak Teratur
Salah satu penghalang untuk mewujudkan work life balance adalah adanya perubahan shift kerja yang tidak teratur. Tidak heran jika banyak perawat yang gagal dan kesulitan dalam menyeimbangkan antara pekerjaan sebagai tenaga kesehatan dan kehidupan pribadi bersama keluarga.
Dinamika shift kerja yang selalu berubah ini menyebabkan stres kerja berkepanjangan yang akan mempengaruhi gangguan kesehatan dan sosial pada perawat. Bahkan, sistem kerja shift tersebut membuat perawat tidak bisa menikmati kehidupan diluar pekerjaan. Seperti me time, liburan bersama keluarga, menghabiskan waktu bersama teman, sering melewatkan waktu bersama anak, dan sulit menjalankan peran yang baik sebagai orang tua.
Pada shift pagi dan siang perawat harus melakukan semua aktivitas yang padat. Mulai dari merawat pasien hingga menemani dokter untuk visite pasien secara berkala. Kegiatan ini memicu terjadinya kelelahan bekerja pada perawat yang berdampak pada kondisi biologis, psikologis, serta kehadiran sosial. Sehingga, dapat mempengaruhi produktivitas kerja, kesehatan, pola makan, dan kualitas tidur.
Sementara itu, perawat yang bekerja pada shift malam hari jauh lebih beresiko karena dituntut dengan tanggung jawab yang berat. Hal ini mengakibatkan terganggunya kualitas tidur, mengantuk, kelelahan secara fisik, kapasitas kerja menurun, kehidupan sosial menjadi terbatas, nafsu makan berkurang, dan terjadinya gangguan pencernaan.
2. Stres Selama Bekerja
Terlepas dari mencintai pekerjaan dan melakukan tugasnya dengan sepenuh hati, namun pada waktu tertentu ada kalanya perawat merasa stres. Penyebabnya adalah beban kerja yang meningkat dan melebihi kapasitas seorang perawat. Seperti jam kerja yang panjang, meningkatnya jumlah pasien, shift kerja yang berubah, intensitas kerja yang tinggi, dan tuntutan memberikan pelayanan prima kepada pasien.
Dampak yang ditimbulkan dari stres secara fisik, psikologis, dan emosional yaitu kelelahan secara emosional, menurunnya kinerja kerja dan tingkat kefokusan, serta mengganggu kualitas hidup perawat. Stres emosional yang dihadapi oleh perawat ini juga bisa mengakibatkan depresi. Apabila tidak ditangani dengan baik maka motivasi untuk bekerja akan menurun dan menambah beban kerja perawat.
Untuk mengatasi hal tersebut, perawat membutuhkan dukungan dari orang terdekat seperti keluarga, rekan kerja, dan atasan tempat bekerja. Khususnya, bagi perawat yang bertugas merawat pasien dengan penyakit tertentu dan menghadapi kematian pasien secara langsung. Berkat dukungan yang tulus tersebut, tentu kualitas pelayanan dan kepedulian yang diberikan oleh perawat kepada pasien menjadi meningkat.
Baca Juga: Realita Hidup Perawat: Dedikasi yang Belum Sepenuhnya Dihargai
3. Peranan Ganda Perawat Wanita
Tantangan berikutnya yang paling berat bagi perawat wanita adalah harus memainkan peranan ganda. Mulai dari menjadi seorang perawat, istri, ibu, hingga tulang punggung untuk membantu perekonomian keluarga. Hal inilah yang menjadi penghambat terbesar untuk mendapatkan kesehatan mental dan work life balance yang sempurna.
Menjadi seorang perawat wanita tentu tidak mudah apalagi jika sudah menikah dan memiliki anak yang masih berusia balita. Tentunya, seringkali melewatkan pertumbuhan dan perkembangan anak pada masa golden age. Selain itu, banyak kehilangan momen terbaik dan berharga bersama keluarga tercinta karena terlalu sibuk bekerja.
Mirisnya, setelah pulang kerja perawat wanita tidak langsung beristirahat lebih dulu. Namun, langsung mengerjakan pekerjaan rumah yang sempat tertunda dan mengurus anak maupun suami. Namun, ada satu bagian yang membuat perawat wanita merasa sedih yaitu pada saat melihat buah hati sudah tidur lelap ketika pulang kerja.
Peristiwa ini tidak jarang menimbulkan perasaan kecewa dan sedih. Di sisi lain, perawat juga harus merasakan kelelahan karena kurangnya waktu untuk istirahat, dan tidak memiliki waktu untuk diri sendiri. Namun, perawat harus tetap bekerja secara profesional dan mengesampingkan masalah pribadi ketika dihadapkan dengan kondisi yang sulit.
Pengaruh Work Life Balance Terhadap Kinerja Perawat Wanita
Work life balance yang seimbang tentu akan berdampak positif bagi kehidupan perawat. Seperti bisa mengerjakan tugas dan tanggung jawab dengan baik sebagai seorang perawat, istri, serta ibu rumah tangga tanpa adanya perasaan tertekan sama sekali. Selain itu, perawat juga akan merasa lebih bahagia dan memberikan pelayanan terbaik untuk pasien.
Perawat dengan work life balance baik, biasanya mempunyai kondisi psikologis yang jauh lebih stabil. Hal ini tercermin dari kepuasan kerja yang tinggi, lebih semangat dalam bekerja, tingkat kelelahan yang rendah, jarang melakukan kesalahan karena fokus dalam bekerja, dan kualitas pelayanan yang meningkat.
Baca Juga: Ketika Nakes Gugur di Perjalanan, Pengabdian yang Tak Pernah Usai
Kombinasi antara work life balance dan kesehatan mental ini mampu menciptakan lingkungan kerja dan mendukung kesejahteraan pada perawat wanita secara optimal. Alhasil, akan terbentuk budaya kerja yang positif untuk jangka panjang dimana perawat wanita menjadi lebih loyal dan memiliki komitmen yang tinggi dalam bekerja.
Work life balance pada perawat wanita mampu memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kesehatan mental, kehidupan pribadi, self-care, hingga peningkatan kinerja secara berkelanjutan. Sehingga, kualitas pelayanan kesehatan yang baik bisa terwujud dengan mudah.
Ingin mendapatkan informasi yang aktual dan terpercaya seputar kesehatan maupun keperawatan? Jangan lupa untuk pantau beritanya melalui artikel Media Perawat indonesia secara lengkap!
Referensi:
Ananda, C. R., Nurbaeti, N., & Ella, A. 2025. Faktor yang Berhubungan dengan Work Life Balance Pada Perawat Wanita yang Sudah Menikah di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Khusus Daerah (SDKD) DADI Sulawesi Selatan. Window of Public Health Journal, 6 (5): 849-860.
Aprilyasari, W., Fitriyatus, S., Irvan, A., Moch, A. I., Suratmi, S., & Nurul, H. Q. 2024.Hubungan Beban Kerja dengan Work Life Balance pada Perawat di Rumah Sakit. Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan, 2 (4): 102-108. DOI: https://doi.org/10.61132/protein.v2i4.672
Hastuti, E. S., & Ayuningtyas, E. W. U. Work Life Balance Pada Perawat Wanita Yang Memiliki Anak Bawah Lima Tahun (Balita) di RSUD Bayu Asih Purwakarta. Jurnal Ilmiah Psikologi (JIPSI), 4 (1): 1-8.
Lupianti, D., A. M, M., & Ella, A. 2022. Gambaran Kesehatan Mental Perawat Di Ruang Rawat Inap RSUD Labuang Baji Makassar. Window of Public Health Journal, 3 (6): 1139-1146.
Rasak, M., Laode, A. A., & Sabri, S. 2025. Pengaruh Work Life Balance Dan Stres Kerja Terhadap Kinerja Perawat Pada Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Konawe Kepulauan. Jurnal HOMANIS: Halu Oleo Manajemen dan Bisnis, 2 (2): 295-306.
Saputra, E. K. 2021. Analisis Work-Life Balance Pada Perawat Wanita Sudah Menikah (Studi Kasus Rumah Sakit Umum Daerah Raja Ahmad Tabib) Provinsi Kepulauan Riau. Jurnal Manajerial dan Bisnis TanjungPinang, 4 (2): 106-114.
Satriani, N. F., Muhaimin, S., & Narmi, N. 2021. Perbedaan Tingkat Stres Kerja Antara Shift Pag, Sore, dan Malam pada Perawat Rawat Inap Ruangan Lavender dan Mawar di RSUD Kota Kendari. Jurnal Ilmiah Karya Kesehatan, 1 (2): 17-24.
Setiawati, A., Okta, Y., & Subhan, I. T. 2025. Work-life Balance dan Pentingnya Kesehatan Mental bagi Para Pekerja: Studi Kasus di Kelurahan Menteng, Kota Palangka Raya. Journal of Innovative and Creativity, 5 (3): 29278-29290.
Sofwan, M. S., & Kustini, K. 2025. Pengaruh Work Life Balance dan Emotional Exhaustion terhadap Kinerja Perawat Wanita di Rumah Sakit Baptis Kediri. JEMSI: Jurnal Ekonomi Manajemen Sistem Informasi, 7 (1): 334-340. DOI: https://doi.org/10.38035/jemsi.v7i1









