Mediaperawat.id – Syok merupakan kondisi kegawatdaruratan yang terjadi saat sistem sirkulasi tubuh gagal memenuhi kebutuhan oksigen ke jaringan dan sel. Kondisi ini dapat menyebabkan hipoksia sel, gangguan fungsi organ, hingga kegagalan multi organ hingga kematian apabila tidak segera dikenali dan ditangani. Pada tahap awal, kerusakan akibat syok masih dapat bersifat reversibel, sehingga pengenalan dan intervensi secara cepat menjadi hal yang sangat penting. Simak Penjelasan selengkapnya dalam artikel ini!
Apa Penyebab Syok?
Syok ditandai dengan berkurangnya penyaluran oksigen dan/atau meningkatnya konsumsi oksigen, atau ketidakmampuan tubuh menggunakan oksigen secara adekuat sehingga menyebabkan hipoksia sel dan jaringan. Syok paling sering ditandai dengan hipotensi, yaitu tekanan darah sistolik kurang dari 90 mmHg atau MAP kurang dari 65 mmHg.
Jenis-Jenis Syok
Secara umum, syok dibedakan menjadi empat jenis berdasarkan penyebab dan mekanismenya, yaitu hipovolemik, kardiogenik, distributif, dan obstruktif.
- Syok Hipovolemik
Syok ini terjadi akibat berkurangnya volume intravaskular, baik karena perdarahan maupun kehilangan cairan. Kondisi ini dapat ditemukan pada perdarahan saluran cerna, trauma, dehidrasi berat, muntah berkepanjangan, atau kehilangan cairan lainnya. Tubuh melakukan mekanisme kompensasi pertahanan perfusi. Sayangnya, seiring dengan kehilangan volume cairan yang terus berlanjut, curah jantung semakin menurun dan akhirnya dapat menyebabkan hipotensi.
- Syok Kardiogenik
Terjadi ketika kemampuan jantung memompa darah tidak mencukupi sehingga menyebabkan hipoperfusi jaringan. Kardiomiopati, infark miokard akut, infark ventrikel kanan, miokarditis, henti jantung, gangguan irama seperti takiaritmia maupun bradiarritmia, serta gangguan mekanis seperti insufisiensi katup berat atau ruptur struktur jantung. merupakan beberapa penyebabnya.
- Syok Distributif
Berkaitan dengan vasodilatasi dan redistribusi volume darah. Sepsis dan anafilaksis merupakan penyebab penting dalam kelompok ini. Berikut beberapa jenis syok distributif.
- Syok Septik: Bagian dari sepsis yang disertai kelainan sirkulasi, seluler, dan metabolik berat sehingga menyebabkan hipoperfusi jaringan. Kondisi ini ditandai dengan hipotensi yang memerlukan terapi vasopresor dan peningkatan kadar laktat lebih dari 2 mmol/L.
- Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS): Sindrom akibat respons inflamasi yang kuat, baik karena penyebab infeksi maupun noninfeksi.
- Syok Anafilaktik: Reaksi hipersensitivitas berat yang dapat menyebabkan kolaps kardiovaskular dan gangguan pernapasan akibat bronkospasme. Reaksi dapat terjadi dalam hitungan detik hingga menit setelah terpapar alergen.
- Syok Neurogenik: Syok ini dapat terjadi akibat trauma pada medula spinalis atau otak yang mengganggu jalur otonom.
- Syok endokrin: Syok endoktrin disebabkan oleh kondisi seperti kegagalan adrenal atau krisis miksedema.
- Syok Obstruktif
Syok obstruktif terjadi karena faktor di luar jantung yang menyebabkan aliran darah terganggu akibat adanya hambatan mekanis, misalnya emboli paru, tamponade jantung, atau tension pneumothorax.
Kenali Tanda dan Gejala Syok
Manifestasi syok dapat berbeda sesuai jenis dan tahapannya. Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
- Hipotensi
- Takikardia
- Takipnea
- Perubahan status mental
- Ekstremitas dingin dan lembap
- Kulit mottled
- Oliguria
- Asidosis metabolik
- Peningkatan kadar laktat.
Pada pemeriksaan klinis, penurunan produksi urine dan pemanjangan CRT (capillary refill time) dapat menjadi tanda adanya gangguan perfusi. Namun, gambaran klinis juga dapat berbeda berdasarkan penyebabnya. Misalnya, pasien dengan syok distributif dapat memiliki ekstremitas yang terasa hangat dan nadi yang kuat pada fase tertentu.
Bagaimana Syok Ditangani?
Penanganan syok membutuhkan identifikasi penyebab dan stabilisasi kondisi pasien. Evaluasi awal meliputi pemeriksaan jalan napas dan pernapasan, akses intravena, resusitasi cairan, pemantauan tanda vital, pemeriksaan laboratorium, serta pemeriksaan penunjang seperti elektrokardiografi atau EKG dan ultrasonografi (USG) point-of-care bila tersedia. Resusitasi tidak seharusnya ditunda hanya karena proses diagnostik.
Terapi selanjutnya disesuaikan dengan penyebab syok. Pemberian cairan dapat diperlukan pada kondisi tertentu, sedangkan vasopresor atau inotropik dapat digunakan ketika perfusi belum membaik. Pada syok obstruktif, tindakan definitif untuk menghilangkan penyebab, seperti perikardiosentesis pada tamponade jantung, menjadi bagian penting dari penanganan.
Jangan Menunggu Syok Menjadi Berat
Syok merupakan kondisi yang dapat berkembang dengan cepat dan berujung pada kerusakan organ yang tidak dapat dipulihkan. Oleh karena itu, pengenalan tanda awal, penilaian penyebab, pemantauan perfusi, dan intervensi yang tepat waktu menjadi kunci dalam meningkatkan keselamatan pasien. Penanganan juga membutuhkan kerja sama multidisiplin agar kondisi pasien dapat segera distabilkan dan penyebab yang mendasari dapat ditangani.
Ikuti dan pantau terus Media Perawat Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini seputar keperawatan dan kesehatan lainnya.
REFERENSI
Hapsari, T. A. I., Dwicahya, F., Fetarayani, D., & Widodo, N. (2026). The etiology, classification, and management of shock: A review. Current Internal Medicine Research and Practice Surabaya Journal, 7(1), 63–73.
Koya, H. H., & Paul, M. (2023). Shock. In StatPearls [Internet]. StatPearls Publishing. Diakses dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK531492/









