banner 728x250
Askep  

Asuhan Keperawatan Retensi Urin [D.0050]

Foto: Buku Diagnosa Keperawatan/ mediaperawat.id

Kategori : Fisiologis, Subkategori : Eliminasi

DIAGNOSA KEPERAWATAN (SDKI)

Retensi Uri

Definisi

Pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap.

Penyebab

  • Peningkatan tekanan uretra
  • kerusakan arklus uretra
  • Blok springeter
  • Disfungsi neurologis ( mis. Trauma, penyakit     saraf )
  • Efek agen farmakologis ( mis. Atropin, belladona, psikotropik, opiate )

Gejala dan tanda Mayor

Subjektif

  • sensasi penuh pada kandungan kemih

Objektif

  • Disuria/anuria
  • Distensi kandung kemih

Gejala dan tanda Minor

Subjektif

  • Dribbling

Objektif

  • Inkontinensia Berlebih
  • Residu Urine

Kondisi Klinis Terkait

  • Benigna prostat hiperplasia
  • Pembengkakan perineal
  • Cedera medula spinalis
  • Rektokel
  • Tumor di saluran kemih

LUARAN KEPERAWATAN (SLKI)

Tujuan dan Kriteria Hasil

Setelah dilakukan intevensi keperawatan selama ………… maka pengosongan kandungan kemih yang lengkap membaik, dengan keteria hasil :

Kriteria Hasil        

  • Desakan berkemih (urgensi) 1 2 3 4 5
  • Distensikandung 1 2 3 4 5
  • kemih Berkemih tidak tuntas (hesitancy)  1 2 3 4 5        
  • Volume residu urine 1 2 3 4 5
  • Urin menetes  (dribbling) 1 2 3 4 5
  • Nokturia 1 2 3 4 5
  • Mengompol 1 2 3 4 5
  • Enuresis 1 2 3 4 5
  • Disuria 1 2 3 4 5
  • Anuna 1 2 3 4 5

**

  • Frekuensi BAK 1 2 3 4 5
  • Karakteristik urino 1 2 3 4 5

Keterangan Skor                          

  1. * Menurun (1) Cukup Menurun (2) Sedang (3) Cukup Meningkat (4) Meningkat (5)
  2. ** Meningkat (1) Cukup Meningkat (2) Sedang (3) Cukup Menurun (4) Menurun (5)
  3. *** Memburuk (1) Cukup Memburuk (2) Sedang (3) Cukup Membaik (4) Membaik (5)

BACA JUGA : Asuhan Keperawatan Risiko Konstipasi [D.0052]

INTERVENSI KEPERAWATAN (SIKI)

Kateterisasi Urin [I.04148]

Observasi

  • Periksa kondisi pasien (mis, kesadarn, tanda tanda vital,  daerah perineal, distensi kandung kemih,  inkontenesua urine, reflex berkemih).

Terapeutik

  • Siapkan peralatan, bahan bahan dan ruangan tindakan
  • Siapkan pasien: bebaskan pakaian bawah dan posisikan dorsal rekumben
  • Pasang sarung tangan
  • Bersihkan daerah perineal atau proposium dengan  cairan NaCl atau aquadest
  • Lakukan insersi kateter urine dengan menerapkan  prinsip aseptic
  • Sambungkan kateter urine dengan urine bag Isi balon dengan dengan Nacl 0.9 % sesuai anjuran pabrik
  • Fiksasi selang kateter diatas simpisis atau di paha
  • Pastikan kantung urine ditempatkan lebih rendah  dari kandung kemih
  • Berikan label waktu pemasangan

Edukasi

  • Jelaskan tujuan dan prosedur pemasangan kateter urine
  • Anjurkan menarik nafas saat insersi selang cateter

Manajemen Cairan (I.03098)

Observasi

  • Monitor status hidrasi ( mis, frek nadi, kekuatan nadi, akral, pengisian kapiler, kelembapan mukosa,  turgor kulit, tekanan darah)
  • Monitor berat badan harian
  • Monitor hasil pemeriksaan laboratorium (mis. Hematokrit, Na, K, Cl, berat jenis urin , BUN)
  • Monitor status hemodinamik ( Mis. MAP, CVP, PCWP  jika tersedia)

Terapeutik

  • Catat intake output dan hitung balans cairan  dalam 24 jam
  • Berikan asupan cairan sesuai kebutuhan
  • Berikan cairan intravena bila perlu

Kolaborasi

  • Kolaborasi pemberian diuretik, jika perlu.

BACA JUGA : Asuhan Keperawatan Gangguan Ventilasi Spontan [D.0004]

Sumber :

  • PPNI (2016). Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (1st ed). Jakarta: DPP PPNI
  • PPNI (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (1st ed). Jakarta: DPP PPNI
  • PPNI (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (1st ed). Jakarta: DPP PPNI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *