banner 728x250
Opini  

Curhat Para Mahasiswa Keperawatan, Ini 6 Masalah Saat Kuliah Online

Media Perawat – Metode perkuliahan dengan berbasis web dan seminar (webinar), atau biasa disebut kuliah secara online kini diterapkan seluruh kampus di tanah air seiring dengan adanya pandemi COVID-19. Kuliah daring yang memanfaatkan kecanggihan teknologi ternyata menemui berbagai hambatan. Para mahasiswa mengungkapkan keluh-kesahnya selama menjalani kuliah online.

“Aku agak kecewa sama dosen yang tidak memberikan materi, tapi malah memberikan tugas dan tugasnya banyak banget. Kita memang terbiasa mengerjakan tugas untuk pengganti kelas yang tidak ada atau saat dosen tidak bisa hadir. Namun ini momen dimana dosen tidak bisa hadir, tapi dosen memberlakukan sistem yang sama. Itu sangat disayangkan. Setidaknya dosen bisa memberikan materi terlebih dahulu, seperi ppt atau melalui video, disamping itu, kuliah online bukan nilai makin bagus malah makin turun. Kuota abis, ilmu ga dapet, tugas numpuk, begadang tiap hari.” ujar Delinda saat diwawancarai via whatsapp pada Sabtu (31/10/2020).

BACA JUGA : Kompetensi Yang Mampu Diterapkan Dalam Program Profesi Ners

Merangkum curhatan para mahasiswa yang diwawancara oleh tim Mediaperawat.id, berikut enam masalah kuliah online:

1. Komunikasi dosen dan mahasiswa

Kuliah online menyebabkan komunikasi antara mahasiswa dan dosen mengalami kendala teknis. Hal ini dialami Chresdiana yang sedang menjalani Program Profesi Ners, salah satu mahasiswa di Bandung, Jawa Barat.

“Hambatan dalam kuliah online sih salah satunya itu komunikasi dan hubungan antara dosen dan mahasiswa rada sulit. Semua dosen selalu berpendapat dan merasa kalau semua tugas bisa dipahami dengan mudah,” ujar Chresdiana.

BACA JUGA : Ini Dia Cara & Syarat Membuka Praktik Keperawatan Mandiri

2. Susah sinyal

Permasalahan sinyal kerap dihadapi rekan-rekan Chresdiana. Apalagi dirinya dan teman-temannya notabene tinggal bukan di kota besar seperti Bandung.

“Bukan aku si karena di rumahku sinyalnya lumayan bagus. Tapi buat teman-temanku yang tinggal di desa kasihan. Mereka bisa ketinggalan kuliah dan ambil absen tiap pagi karena harus cari tower dulu. Dosen kadang pake aplikasi Zoom yang butuh sinyal kuat, tapi dosen tidak menyadari kalau semua orang nggak bisa akses itu dengan mudah. Kasarnya sih dosen-dosen nggak pengertian,” kisah Chresdiana saat dihubungi oleh Tim MediaPerawat.id, Sabtu (31/10/2020).

Curhat soal sinyal juga diungkapkan Pitra Yala, yang kuliah di salah satu sekolah tinggi Kesehatan di Bandung. “Ketika dosen menerangkan materi suaranya jadi hilang hilangan kalau koneksinya lagi lambat. Nah kalau sudah kaya gitu kita jadi susah menangkap apa yang dosen terangkan, Wifi rumah suka lemot. Apalagi belum dapet subsidi kuota dari kampus ” kata mahasiswi jurusan Keperawatan itu.

3. Mata kuliah yang saling bentrok

Komunikasi yang tidak lancar antara dosen dan mahasiswa, bisa menimbulkan beberapa masalah seperti jadwal mata kuliah yang jadi tak beraturan dan waktu perkuliahan yang tak sesuai jadwal. “Jadwal mata kuliah nggak sesuai bahkan sering tabrakan. Kan sehari ada 2-3 mata kuliah, nah kadang dosen suka mulai perkuliahan nggak sesuai jadwal, ngaret jadi nabrak ke jadwal mata kuliah yang lain,” ucapnya Chresdiana saat wawancara dengan Tim MediaPerawat.id, Sabtu (31/10/2020).

BACA JUGA : Standar Kompetensi Perawat ICU

4. Semangat belajar menurun

Kuliah daring yang mewajibkan para peserta didik untuk kuliah #dirumahaja, menimbulkan rasa jenuh. Hal ini dirasakan Putri.

Belajar kalo di rumah aja beda pasti vibesnya sama di kampus. Dan kalau aku biasanya di kelas prakteknya jadi terlatih. Seperti membalut luka misal; kalau tidak tahu ya langsung tanya pada dosennya. Nah, pas kuliah online jadi terhambat karena sekarang prakteknya di rumah sarana dan prasarana pun menjadi terbatas. Belum lagi mencari pasien yang mau jadi bahan praktek.” jelasnya saat dihubungi oleh Tim MediaPerawat.id, Sabtu (31/10/2020).

Rasa jenuh juga dirasakan Isa, mahasiswa jurusan keperawatan di Sukabumi. Isa merasa seharusnya dosen bisa menggunakan metode yang lebih menarik saat memberikan mata kuliah secara online.

“Pastinya banyak sekali metode pembelajaran yang lebih menarik dan interaktif yang bisa dilakukan, tapi nyatanya hampir semua dosen lebih memilih metode yang hanya menurut mereka mudah dan tidak menguras tenaga,” ucapnya.

5. Tertinggal materi perkuliahan

Selain semangat belajar yang menurun, Isa juga menuturkan dia dan rekan-rekannya kerap tertinggal mata kuliah karena terbentur koneksi internet. Dan dosen atau pihak kampus tak memberikan mereka alternatif lainnya.

“Beberapa mahasiswa terkendala dengan jaringan tapi dari dosen tidak diberikan alternatif lain untuk mencover kendala tersebut, seperti diberikan e-book, video, konsul personal via WhatsApp, atau lainnya.

Alhasil kata Isa, jika dia ketinggalan materi maka akan menjadi tanggung jawab dan urusannya sendiri. Si mahasiswa yang harus mencari materi perkuliahan yang tertinggal tersebut.



6. Metode mengajar dosen

Isa juga mengatakan dosen mempunyai bermacam-macam metode dalam kuliah online. Hal ini membuat dia dan teman-temannya harus cepat beradaptasi dengan metode yang berbeda-beda itu.

“Jadi selama kuliah online itu dosen macem-macem metodenya. Ada yang cuma diskusi di WhatsApp Group atau di Hangout, ada juga yang cuma ngasih tugas via Google Classroom aja. Terus awal-awal online class itu banyak mata kuliah yang nyoba lewat Zoom, tapi ternyata kurang efektif. Soalnya kehalang sama jaringan dan mahasiswanya yang pada diem-diem aja gitu selama kuliah. Malahan ada yang sengaja join absen terus keluar gitu aja. Ya sebenernya enak sih bisa belajar sambil nyantai. Tapi banyakan mahasiswanya jadi ngegampangin kuliah gitu loh,” ujarnya miris.

BACA JUGA : Cara mengurus STR Online

Nah bagi para sejawat mahasiswa keperawatan, mana dari enam masalah kuliah online di atas yang sejawat pernah alami ?

Tetap Semangat!

 (Dok/ND)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *