Model Praktik Keperawatan Profesional

Foto : Freepik.com

Mediaperawat.id – Model praktik keperawatan profesional merupakan penataan struktur dan proses sistem berian asuhan keperawatan pada tingkat ruang rawat sehingga memungkinkan pemberian asuhan keperawatan profesiaonal; pengembangan MPKP merupakan upaya berbagai negara untuk meningkatkan mutu asuhan keperawatan dan lingkungan kerja perawat. Pengembangan MPKP berbeda beda di setiap negera atau rumah sakit. Namun, menurut Hoffart dan wood ( 1996), MPKP terdiri atas lima susbsistem, hubungan antarprofesional, metode pemberian asuhan keperawatan, pendekatan manajemen terutama dalam pengambilan keputusan dan sisitem kompensasi, dan penghargaan. Model praktik keperawatan profesional (MPKP) adalah suatu sistem (struktur, proses dan nilai-nilai profesional), yang memfasilitasi perawat profesional, mengatur pemberian asuhan keperawatan, termasuk lingkungan tempat asuhan tersebut diberikan. (Ratna sitorus &Yulia, 2006).

Model asuhan keperawatan profesional (MPKP) adalah suatu kerangka kerja yang mendefinisikan keempat unsur :standar, proses keperawatan, pendidikan keperawatan dan sistem MPKP. Defenisi tersebut berdasarakan perinsip-perinsip nilai-nilai yang di yakini dan yang akan menentukan kulitas produksi/ jasa layanan keperawawatan.

METODE PENUGASAN

1. Fungsional

Metode fungsional dilaksanakan oleh perawat dalam pengelolaan asuhan keperawatan sebagai pilihan utama pada saat perang dunia kedua. Pada saat itu karena masih terbatasnya jumlah dan kemampuan perawat maka setiap perawat hanya melakukan 1-2 jenis intervensi ( misalnya, merawat luka ) keperawatan kepada semua pasien di bangsal.

Kelebihannya :

  • Manajemen klasik yang menekankan efisiensi, pembagian tugas yang jelas dan
    pengawaan yang baik.
  • Sangat baik untuk rumah sakit yang kekurangan tenaga.
  • Perawat senior menyibukkan diri dengan tugas manajerial, sedangkan perawat
    pasien di serahkan kepada perawat junior dan atau belum berpengalaman

Kelemahan :

  • Tidak memberikan kepuasan pada pasien maupun perawat
  • Pelayanan keperawatan terpisah-pisah, tidak dapat menerapkan proses keperawatan
  • Persepsi perawat cenderung kepada tindakan yang berkaitan dengan keterampilan
    saja

2. Metode Keperawatan Tim

Metode ini menggunakan tim yang terdiri dari anggota yang berbeda-beda dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap sekelompok pasien. Perawat ruangan dibagi menjadi 2-3 tim/grup yang terdiri dari tenaga professional, tehnikal dan pembantu dalam satu grup kecil yang saling membantu.

Kelebihannya :

  • Memungkinkan pelayanan keperawatan yang menyeluruh
  • Mendukung pelaksanaan proses keperawatan
  • Memungkinkan komunikasi antar tim sehingga konflik mudah diatasi dan
    memberi kepuasan kepada anggota tim.

Kelemahan :

  • Komunikasi antar anggota tim terbentuk terutama dalam bentuk konferensi tim,
    yang biasanya membutuhkan waktu dimana sulit untuk melaksanakan pada
    waktu-waktu sibuk.

BACA JUGA : Penerapan Pembelajaran  Keperawatan Syariah di Akademi Keperawatan Teungku Fakinah Banda Aceh, Serta Pelayanan Berbasis Syariah  Rumah Sakit di Aceh

Konsep Metode Tim

  • Ketua tim sebagai perawat professional harus mampu menggunakan berbagai
    tehnik kepemimpinan.
  • Pentingnya komunikasi yang efektif agar komunikasi yang efektif agar
    kontinuitas rencana keperawatan terjamin.
  • Anggota tim harus menghargai kepemimpinan ketua tim.
  • Peran kepala ruang penting dalam model tim. Model tim akan berhasil baik bila
    didukung oleh Kepala Ruang.

3. Keperawatan Primer

Metode penugasan dimana satu orang perawat bertanggung jawab penuh selama 24 jam terhadap asuhan keperawatan pasien mulai dari pasien masuk sampai keluar rumah sakit. Mendorong praktik kemandirian perawat, ada kejelasan antara si pembuat rencana asuhan dan pelaksana.Metode primer ini ditandai dengan adanya keterkaitan kuat dan terus menerus antara pasien dan perawat yang ditugaskan untuk merencanakan, melakukan dan koordinasi Asuhan Keperawatan selama pasien dirawat.

Kelebihan :

  • Bersifat kontinuitas dan komprehensif.
  • Perawat primer mendapatkan akontabilitas yang tinggi terhadap hasil
    dan memungkinkan pengembangan diri
  • Keuntungan antara lain terhadap pasien, pearawt, dokter, dan rumah
    sakit (Gillies, 1989)
    Keuntungan yang dirasakan adalah pasien merasa dimanusiawikan karena terpenuhinya
    kebutuhan secara individu.Selain itu asuhan yang diberikan bermutu tinggi dan tercapai
    pelayanan yang efektif terhadap pengobatan, dukungan, proteksi, informasi dan
    advokasi.Dokter juga merasakan kepuasan dengan model primer karena senantiasa
    mendapatkan informasi tentang kondisi pasien yang selalu diperbaruhi dan
    komprehensif.

Kelemahan :

  • Hanya dapat dilakukan oleh perawat yang memiliki pengalaman dan pengetahuan yang
    memadai dengan kriteria asertif, self direction, kemampuan mengambil keputusan yang
    tepat, menguasai keperawatan klinik, akontable serta mampu berkolaborasi dengan
    berbagai disiplin.

BACA JUGA : 5 Cara Mengelola Konflik Yang Efektif Dengan Manajemen Konflik Dalam Keperawatan

4. Manajemen Kasus

Setiap perawat ditugaskan untuk melayani seluruh kebutuhan pasien saat ia dinas. Pasien akan dirawat oleh perawat yang berbeda untuk setiap shift dan tidak ada jaminan bahwa pasien akan dirawat oleh orang yang sama pada hari berikutnya. Metode penugasan kasus biasa diterapkan satu pasien satu perawat, dan hal ini umumnyadilaksanakan untuk perawat privat atau untuk keperawatan khusus seperti : isolasi, intensive care.

Kelebihannya :

  • Perawat lebih memahami kasus per kasus
  • Sistem evaluasi dari manajerial menjadi lebih mudah.

Kekurangannya :

  • Belum dapatnya diidentifikasi perawat penanggung jawab
  • Perlu tenaga yang cukup banyak dan mempunyai kemampuan dasar yang
    sama.

5. Modifikasi : TIM PRIMER

Pada model MAKP tim digunakan secara kombinasi dari kedua sistem. Menurut Sitorus (2000) penetapan sistem model MAKP ini didasarkan pada beberapa alasan :

  • Keperawatan primer tidak digunakan secara murni, karena sebagai perawat
    primer harus mempunyai latar belakang pendidikan S1 Keperawatan atau
    setara.
  • Keperawatan Tim tidak digunakan secara murni, karena tanggung jawab
    asuhan keperawatan pasien terfragmentasi pada bagian TIM.
  • Melalui kombinasi kedua model tersebut diharapkan komunitas asuhan keperawatan dan akontabilitas asuhan keperawatan terdapat pada primer. Disamping itu karena saat ini jenis pendidikan perawat yang ada di RS, sebagian besar adalah lulusan SPK, maka akan mendapat bimbingan dari perawat primer /Ketua Tim tentang asuhan keperawatan.
    Contoh ( dikutip dari Sitorus, 2002 )

Untuk ruang model MAKP ini diperlukan 26 perawat. Dengan menggunakan model modifikasi keperawatan primer ini diperlukan 4 ( empat ) orang perawat primer ( PP ) dengan kualifikasi S1 Keperawatan/DIV Keperawatan, di samping seorang kepala ruang rawat juga S1/DIV Kep. Perawat Asosciet ( PA ) 21 orang, kualifikasi pendidikan perawat asosiet terdiri dari lulusan D3 Kep dan SPK ( 3 orang ). Pengelompokan Tim pada setiap shift/jaga terlihat pada gambar di bawah ini.

Sumber :

Sitorus dkk., 2011. Manajemen Keperawatan di Ruang Rawat. Jakarta. Sagung Seto

Erita. 2019. Buku Materi Pembelajaran Manajemen Keperawatan. Program Studi Diploma Tiga Keperawatan. Universitas Kristen Indonesia. Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.